
"Ti ... tidak! Tidak ada hubungannya dengan Miss Hana. Aku berangkat dulu, Sayang! Sampai jumpa nanti siang!" Buru-buru Khansa mengecup pipi suaminya lalu berlari menghampiri Lily dan Hana. Dua perempuan itu membungkuk hormat lalu mengikuti Khansa yang bergegas menuju lift.
"Aduh, hampir saja!" Hana menekan dadanya dengan napas tersengal saat pintu lift tertutup dan mengantarkan tiga wanita itu turun.
Lily melipat kedua lengannya, ia melirik rekan kerjanya itu sambil tersenyum sinis. "Makanya, Miss! Kalau bikin rekomendasi itu jangan aneh-aneh. Untung Nyonga gercep. Kalau enggak habis kau dimutilasi sama Tuan," sindirnya.
"Aduh, Ly kamu membuatku merinding. Nyonya, terima kasih banyak. Maaf karena saya salah," ucap Hana menunduk, merasa tidak enak.
Khansa menepuk bahu Hana, "Tidak apa-apa, Miss. Tenang saja, aku bisa mengatasinya," sahut Khansa tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba di Seoul National University, Khansa mempercepat langkah karena sedikit terlambat. Hana menunjukkan di mana kelasnya. Lily menunggu di depan pintu ruangan, berdiri dengan tegap sembari mengawasi keadaan sekitar karena Khansa melarangnya masuk.
Khansa berjalan pelan bersama dengan Hana yang setia mendampingi. Orang-orang menatapnya aneh. Apalagi melihat cadar yang menutup sebagian wajahnya. Mereka menganggap Khansa sok misterius. Sehingga banyak teman-teman sekelas yang mencibirnya bahkan ada yang terang-terangan menyindirnya.
Hana geram mendengarnya, ia hendak melabrak para mahasiswa itu namun Khansa menahan lengannya sembari menggeleng. Khansa segera menuju sebuah kursi kosong di sudut ruangan. Tiba-tiba ....
"BRUGH!"
Khansa terjatuh karena sebuah kaki sengaja melintang hingga membuatnya tersandung. Hana panik dan segera membantu Khansa berdiri. Semua orang menertawakannya.
"Nyonya! Nyonya tidak apa-apa?" tanya Hana membantu menepis celana Khansa dari debu.
Kali ini tatapan Khansa berubah nyalang. Ia menggeser bahu Hana dan melewati wanita itu. Ia berdiri tepat di depan pria berambut ikal yang masih tertawa meremehkan Khansa.
Tatapan elang Khansa begitu tajam, hingga membuat orang yang melihatnya langsung bergidik. Satu lengannya menjulur dan meremas kaos bagian dada pria yang menjegalnya tadi.
"Kamu ada masalah apa sama saya?" tanya Khansa dengan suara dingin.
Pria itu menepis tangan Khansa namun dengan gerakan cepat, Khansa justru memiting lengan lelaki itu dan mengunci gerakannya di kursi duduknya. Lelaki itu memekik kesakitan hingga membuat rekan-rekannya yang terbengong segera bergerak dan hendak menyerang Khansa.
Namun belum sampai menyentuh Khansa, Lily dengan sigap menyerang mereka dengan seluruu kemampuannya. Suasana kelas itu menjadi gaduh, beberapa mahasiswa
menyingkir ketakutan. Mereka berdiri melingkar melihat pertarungan sengit dua perempuan vs lima lelaki.
Hana mundur, tangannya meraih ponsel dan merekam kejadian itu dengan tangan gemetaran. Khansa dan Lily pun tak segan memukul dan menendang mereka yang hendak menyerang.
Beberapa saat kemudian, dua perempuan itu berdiri saling membelakangi sembari bersiap menyerang lawannya yang sudah terkapar dengan banyaknya luka lebam di wajah mereka. Bahkan beberapa ada yang menahan sakit di dada setelah diserang Khansa dan Lily bertubi-tubi.
"Segitu doang nih? Ayo bangun!" tantang Lily dengan napas tersengal.
"A ... ampun! Maafkan kami!" ucap pria rambut ikal sang pembuat onar menangkupkan kedua tangan di atas kepala.
Khansa tak banyak bicara, namun sorot matanya memancarkan aura kuat dan melawan. Semua lawannya kini berusaha duduk dan menunduk mohon pengampunan.
"Makanya nggak usah sok jagoan! Awas aja berani ganggu beliau lagi, kamu kehilangan tangan dan kakimu!" ancam Lily membungkuk tepat di hadapan pria itu.
"Sudah, kembalilah, Ly. Terima kasih," ucap Khansa pelan menepuk bahu Lily.
Lily segera membungkuk hormat lalu berjalan keluar, karena dosen tampak memasuki ruangan. Para mahasiswa segera duduk di tempatnya masing-masing dengan pikiran yang masih kacau. Butuh waktu beberapa saat untuk fokus pada dosen yang tengah mulai memperkenalkan diri disambung dengan pembahasan materi.
"Miss Hana, tolong hapus rekaman tadi. Jangan sampai suamiku tahu tentang kejadian ini!" bisik Khansa menatap ke arah Hana. Ia sempat menyadari bahwa Hana diam-diam mengambil rekaman itu untuk dilaporkan pada Leon.
"Tapi Nyonya," elak Hana. Ia sudah berjanji akan melaporkan apa pun pada bossnya itu.
"Tolong, Hana. Jangan semakin membebani suamiku. Selama aku tidak apa-apa, jangan pernah melaporkan kejadian apa pun!" tegas Khansa lalu mengalihkan pandangannya pada dosen.
Dalam hati Khansa mendesah lega. Tidak seperti di negara asalnya, para mahasiswa lain tidak sibuk mengambil gambar ataupun video kejadian tadi. Jadi tidak mungkin suaminya yang bisa berbuat semaunya itu bisa mendengarnya.
Sejak saat itu, orang-orang menjadi segan dengan Khansa. Tidak ada yang berani mengganggunya. Bahkan cenderung takut bermasalah. Padahal, Khansa diam saja. Ia tidak akan bertindak apa pun kecuali ada yang memulai terlebih dahulu.
Khansa sangat fokus dan belajar dengan tekun. Keinginannya begitu kuat untuk segera lulus tepat waktu. Hana hanya menemaninya selama enam bulan saja, kemudian ia kembali ke kantor dan bekerja seperti biasa. Sedangkan Lily masih setia mendampingi Khansa kemanapun bossnya pergi. Ia benar-benar menjaga Khansa dengan baik.
...---LIMA TAHUN KEMUDIAN---...
Di sebuah gedung megah sudah dipenuhi mahasiswa beserta keluarganya untuk melakukan proses wisuda. Khansa termasuk di dalamnya, lima tahun sudah dia bergelut di dunia pendidikan hingga akhirnya berhasil melalui semua proses dengan baik. Meskipun waktu kebersamaan dengan Leon berkurang, namun keduanya saling mendukung satu sama lain.
Leon sendiri berhasil menjadi pengusaha yang sukses dalam beberapa tahun terakhir. Kerja keras dan dukungan istrinya sangat berarti dalam pencapaian yang luar biasa dalam waktu singkat.
Khansa duduk di deretan kursi dengan gelisah. Pandangannya terus tertuju pada pintu utama. Ia sampai tidak fokus mendengar pidato yang menggema di ruangan itu.
"Ly, kenapa Leon belum datang juga? Apa dia lupa kalau hari ini aku wisuda?" tanya Khansa dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar, Nyonya. Mungkin beliau dalam perjalanan. Tuan tidak bisa meninggalkan meeting penting dengan klien besar pagi ini," sahut Lily berusaha menenangkan Khansa.
"Tapi ini udah dua jam, Ly. Dan kamu lihat sendiri bahkan acara-acara sudah bergulir dengan cepat. Apa aku bukan prioritasnya? Ini momen paling penting di hidupku? Dan dia lebih memilih menemui klien. Bahkan tadi pagi dia tidak mengucapkan apapun, Lily! Aku kecewa sama Leon!" cerocos Khansa yang mulai berderai air mata menggenggam erat ijazahnya.
Sewaktu sidang skripsi saja, Leon pontang-panting di jalan demi bisa menemui dan memberi semangat pada Khansa. Karena waktu itu juga bertepatan dengan pertemuan klien yang tidak bisa diwakilkan. Dan kali ini Leon sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Khansa sangat kecewa dan marah pada suaminya.
"Nyonya tenanglah," Lily bingung harus berbuat apa. Ia hanya mengusap punggung Khansa berulang, sembari menyerahkan beberapa lembar tisu.
Dan beberapa waktu berlalu, acara pun selesai. Khansa sama sekali tidak fokus melewati serangkaian acara wisudanya. Dalam hatinya berkecamuk dan marah terhadap suaminya.
Ia beranjak berdiri, menatap nanar rekan-rekannya yang tengah berfoto-foto dan saling berpelukan dengan keluarganya. Tapi, dia sendirian hanya ditemani sang pengawal yang selalu setia menemaninya.
Khansa berlari keluar ruangan dengan tangis yang semakin pecah. Ia merasa Leon sudah tidak mempedulikannya lagi. Lily pun bergegas menyusulnya.
Baru sampai di depan pintu, Khansa bergeming ketika sebuah helikopter berdengung di telinga, berada di hadapannya. Kepalanya mendongak, mengamati heli tersebut. Jarak terbangnya tidak terlalu tinggi. Gerakan baling-balingnya menciptakan angin yang cukup besar, banyak orang yang menjauh dari lapangan luas di universitas tersebut.
Bersambung~
😔 Enggak... puasa mas.. jan mancing2 deh!
MasLe; Mancing apaan? gw kan cm nanya doang.
😌 Bilang aja lu kangen berantem kan ama gw?
Mas Le; Diihh enggak banget! Ini cepet amat udah lima taun aja..
😐 Kenapa? Udah manut saja sama yang maha benar!
MasLe; gpp... jangan cepet2 end thor. Senin woy! Votenya diluncurin...
emmmmm🙄🙄🙄🙄
Lah. napa mbak Saa??
Sasa; Biar semangat terus!☺