
Sepeninggalnya Khansa dari rumah sakit, Jane masuk ke ruang rawat Maharani. Heels setinggi 7 cm, membentur dengan santai pada lantai ruangan itu.
Wajah Maharani sudah memucat, sekujur tubuhnya juga menegang hingga urat-uratnya menonjol. Napasnya sesak, oksigen yang menempel di hidungnya tidak bisa membantu melancarkan pernapasannya.
"Bibi," panggil Jane saat sudah berdiri di sebelah ranjangnya.
Maharani memutar pandangannya, tangannya melambai ingin mencapai lengan Jane. Bermaksud meminta bantuan. Namun gadis itu sama sekali tidak peduli. Justru senyum menyeringai tampak tersungging di bibir merahnya. Maharani semakin kesulitan bernapas.
"Bibi kapan sih matinya? Aku udah siap loh jadi nyonya Isvara." Jane berucap sambil memainkan ujung rambutnya.
Maharani melotot, keningnya mengerut dalam. Denting monitor oksigen tidak stabil, semakin lama semakin cepat dan semakin nyaring.
"Wah, aku nggak sabar jadi ibu tirinya Jihan. Dunianya akan segera kubalik. Kalau dulu Jihan selalu menyuruh-nyuruh aku seperti babu, kelak aku tinggal tunjuk dan menjadikannya budakku. Hahaha!" seru Jane tertawa lebar.
Kedua tangan Jane menopang tubuhnya di tepi ranjang. Sepasang bola mata Maharani bahkan seperti mau lepas dari sarangnya. Tangannya mencengkeram sangat kuat, ingin menjambak rambut Jane tapi tak mampu bergerak.
Jane menatap luka-luka di kaki Maharani yang semakin membusuk, ia menutup hidungnya, "Eeuuhhh, bau bangkai. Pantesan suami kamu lebih suka bersamaku. Ah, dan kau tahu permainannya di ranjang sungguh keren. Aku bahkan sampai kuwalahan," ucap Jane memiringkan kepalanya.
Seketika tubuh Maharani mengalami kejang-kejang, bola matanya memutar ke atas hingga iris matanya menghilang. Menyisakan warna putih dan terlihat sangat menyeramkan. Jane menekan tombol emergency. Ia keluar dengan santai dan berjalan layaknya model di atas catwalk. Senyum di bibirnya melebar.
Dokter dan beberapa perawat bergegas masuk ke ruang rawat Maharani. Kondisinya masih sama, kejang-kejang disertai matanya yang mendelik ke atas. Ranjangnya sudah berantakan, selang infusnya berdarah dan oksigen terlepas dari hidungnya.
"Apa yang terjadi?" seru Dokter, beberapa peeawat terkejut dan menutup mulutnya.
Dengan cepat Dokter segera memberi penanganan, memberikan suntikan obat penenang dalam dosis yang tinggi. Barulah tubuh Maharani melemas, dan suster memasang kembali alat-alat yang menunjang kehidupannya. Salah satu dari mereka, segera menghubungi Jihan. Karena saat pendaftaran, nomor Jihan yang tertera.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak Leon!" seru Simon dan Hansen berlari menghampirinya.
"Kau kenapa? Ada masalah apa sih? Siapa dia berani-beraninya menendangmu!" cecar Simon hendak merengkuh tubuh Leon namun segera disergah.
"Tidak, aku tidak apa-apa," elak Leon menggeleng lalu masuk ke mobil dan pergi dari sana. Simon dan Hansen saling mengendikkan bahu.
"Yaudah, ayo pulang. Sepertinya Kak Leon lagi dalam masalah besar," ucap Hansen.
"Sushiku belum habis, Han!" elak Simon yang ingin kembali masuk.
"Kamu mau pulang sendiri?" ucap Hansen terus melangkah mencari mobilnya.
"Ya enggak lah. Enak aja, itu kan mobilku!" gerutu Simon mengekori saudara sepupunya itu.
Sepanjang perjalanan, pikiran Leon kosong. Ia berusaha mengingat kejadian beberapa waktu silam. Ada sesuatu yang terasa mengganjal hatinya. Meski dalam kondisi tidak sadarkan diri, di bawah alam sadarnya dia bisa merasakan ketulusan, kehangatan sentuhan-sentuhan gadis yang pernah menolongnya.
Berbeda dengan Yenny, yang begitu pamrih. Meski dalam sekejap ia mampu memberikannya, jika itu menyangkut tentang harta. Leon masih memiliki harta pribadi yang tidak termasuk harta bersama. Dan kali ini, Yenny meminta untuk menikahinya? Seperti sudah direncanakan.
Tiba-tiba dalam hatinya mulai meragu, namun pikirannya juga mengelak. Karena batu giok itu adalah satu-satunya identitas dari keturunan keluarganya. Leon menepikan mobil, lalu melakukan sebuah panggilan.
"Ger!" panggil Leon setelah mendengar sahutan di seberang.
"Iya, Tuan," sahut Gerry dengan cepat.
"Kau ingat gadis yang menolongku lima tahun lalu?" tanya Leon.
"Yang di rumah sakit, Tuan?" Gerry bertanya balik.
"Eeee ... maaf, Tuan. Saya terlalu panik dan euforia sewaktu Tuan ditemukan. Jadi, saya sama sekali tidak memperhatikannya. Apalagi melihat Tuan dengan banyaknya luka di kepala, membuat saya fokus dengan Tuan saja," jelas Gerry.
Leon terdiam, merebahkan kepalanya di sandaran sambil memijat pangkal hidungnya. Lalu, ia mematikan sambungan telepon tersebut tanpa berucap apa pun.
Setelah beberapa saat, Leon kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Emily. Sesampainya di sana, unit apsrtemen Emily nampak sepi. Berulang kali Leon menekan bel tapi tidak ada jawaban.
Leon pun duduk di lantai menunggu kedatangan mereka. Hampir dua jam, Khansa dan Emily baru kembali dengan beberapa kantung belanjaan.
"Masih berani ke sini?" ucap Emily sinis.
"Tentu saja, istriku di sini."
"Kalau memang kamu mengakuinya, segera buat konferensi pers siapa kamu sebenarnya dan siapa nyonya Sebastian. Kasih kepastian dan pengakuan, jangan cuma sekedar status dalam tempurung!" Emily kembali emosi.
Leon menunduk, "Belum bisa."
Khansa melihat kesedihan di mata Leon. Pria itu seperti menyimpan tekanan yang begitu berat. Di balik tegasnya Leon selama ini, Khansa merasa pria itu sedang rapuh. Ia khawatir akan memperburuk kondisinya yang sewaktu-waktu bisa kambuh kembali.
"Emily, biar aku yang bicara sama Leon. Kamu masuklah," ucap Khansa dengan lembut menyerahkan beberapa kantung belanjaannya.
Emily mengangguk, ia selalu menuruti apa kata Khansa karena tahu Khansa selalu bertindak dengan hati-hati. Setelah pintu tertutup, Khansa ikut duduk di samping Leon.
Leon langsung merebahkan kepalanya di bahu Khansa. Gadis itu tersentak diikuti debaran jantung yang berdetak kuat.
"Maaf," ucap Leon memejamkan mata.
"Tidak masalah, bukankah pernikahan kita memang untuk saling mendapat keuntungan?" Khansa terkekeh mengingat perjanjian awal mereka.
"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya belum bisa melakukannya sekarang." Leon melingkarkan lengannya di perut Khansa, menciumi pundak Khansa yang masih terbalut blouse rajut berwarna putih, merebahkan lagi kepalanya. Pria itu sedikit bisa meredam gemuruh di hatinya, pikirannya pun lebih rileks karena merasa nyaman.
"Pulanglah," ucap Khansa tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke depan. "Aku capek, mau istirahat, kita bertemu tiga hari lagi di bazar amal tahunan. Bukankah kamu juga mendapat undangannya, Tuan Sebastian?" lanjutnya sembari menghela napas panjang.
Khansa melepaskan lilitan tangan Leon, lalu beranjak berdiri. Jemarinya menekan beberapa tombol dengan cepat hingga terdengar suara pintu terbuka. Khansa melenggang masuk dan buru-buru menutup pintunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, seorang pria paruh baya berbalut pakaian rapi mendatangi Yenny di rumah sakit. Yenny mengerutkan keningnya bingung, karena ia sama sekali tidak mengenalnya.
"Selamat pagi, Nona Yenny. Perkenalkan, saya adalah Kuasa Hukum Nyonya Sebastian. Saya ingin menyampaikan surat peringatan untuk Anda." Pria itu menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat.
"Di sini tertera bahwa Nyonya Sebastian meminta Anda untuk mengembalikan dana yang diberikan oleh Tuan Sebastian sebesar 10 milyar dalam jangka waktu tiga hari tanpa kurang satu rupiah pun, jika tidak bisa mengembalikannya, Anda akan dibawa ke jalur hukum," tegas pria itu lagi.
Bersambung~
DEG DEG DEG DERRRR!!!!
🙄: Kok tumben, Mas? Biasanya kamu bilang aku matre 🤨
Mas Le: Ini greget banget thor! Rasanya Pen gigit HP 😎
Yok gasken lagi komennya 🤣🤣