
Nenek Sebastian menatap nyalang putranya. Ia tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. "Milano, jawab! Apa itu benar?!" pekik sang nenek melebarkan matanya.
Tubuh Milano bergetar mendengar bentakan ibunya yang menggelegar. "Bu-bukan begitu, Bu. Aku hanya ingin Leon tumbuh menjadi laki-laki yang sukses tanpa campur tangan dariku. Dan buktinya bisa dilihat 'kan? Leon selalu bisa menempuh pendidikan dengan jalur akselerasi. Dia selalu lulus dengan gelar cumluade. Leon berhasil menjadi pengusaha muda sukses meskipun harus pindah tangan tak lama setelahnya," elak Milano tertunduk dalam.
"Kalau kamu tidak bisa merawatnya, harusnya jangan kau ambil dia dariku! Leon anak yang cerdas, baik, dia juga penurut. Tanpa kamu melakukan kekerasan pun Leon pasti bisa meraihnya. Ibu kecewa sama kamu, Milano! Kamu tega menyiksa anakmu sendiri hanya demi keegoisanmu!" geram Nenek Sebastian yang matanya mulai memerah mendorong dada anaknya itu penuh emosi.
Dadanya terasa sesak membayangkan masa kecil Leon. Padahal sewaktu bersamanya, Leon selalu terlihat ceria dan bahagia. Tidak pernah menyangka ia akan mendapat perlakuan tidak baik dari ayah kandungnya.
Hansen maju beberapa langkah. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya dingin mengarah pada Tiger yang mulai panik. Senyum miring tercetak di bibir Hansen.
"Paman, Kak Leon sebenarnya dipaksa pergi dan menyerahkan semuanya. Lalu menghilangkan semua barang bukti agar bisa memutar balikkan fakta!" tegas Hansen menatap tajam pada Tiger. Dua pria itu saling menatap kuat.
Hansen beralih pada sang nenek yang masih nampak syok. Emosinya yang membuncah membuat kepalanya sedikit berdenyut nyeri. Tidak tega dengan apa yang menimpa cucu kesayangannya. "Nek, temani Khansa," bisik Hansen merengkuh pundak sang nenek, lalu mengajaknya duduk di samping Emily.
Nenek menekan dadanya yang terasa sesak. "Milano! Kau lebih menyayangi anak begajulan itu dari pada putramu sendiri? Aku tidak terima kau perlakukan cucuku seperti itu, Milano!" teriak sang nenek bercucuran air mata.
Nenek lalu menumpukan kepalanya di atas kepala Khansa, memeluk dan mengusap punggung perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Nenek dan Emily ingin menguatkan Khansa.
Tiger menoleh dengan deru napas yang mulai kasar. Rahang kokohnya mengeras, kedua tangannya mengepal dengan kuat.
Milano lebih fokus dengan ungkapan Hansen, ia memegang salah satu bahu pria berkacamata itu, menatapnya penuh selidik. "Apa maksud kamu, Hansen?"
"Kenapa tidak Anda tanyakan sendiri pada putra kesayangan Anda, Paman?" seru Hansen melirik tajam pria itu.
Hansen dan Tiger saling beradu tatap. Simon yang sangat geram sudah tidak tahan lagi bermain teka-teki. Ia meremas bahu Gerry, menariknya hingga berdiri di hadapan Milano.
"Paman, asisten Gerry adalah saksi kekejaman dari anak kesayangan Anda. Ceritakan semuanya, Ger. Jangan takut! Kami ada bersamamu. Semua demi Kak Leon!" ucap Simon menepuk-nepuk bahu Gerry.
Asisten kepercayaan Leon itu meneguk ludahnya. Ia menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya. Saat bersitatap dengan Tiger, sorot matanya terlihat menantang, namun tidak ada ketakutan sama sekali.
"Tuan Milano, maaf jika saya lancang. Bertahun-tahun saya memendamnya karena semua atas perintah Tuan Leon. Beliau hanya tidak ingin Tuan Tiger dalam masalah. Tapi beliau sangat kejam dan keterlaluan." Gerry beralih menatap ayah atasannya.
Kemudian ia membeberkan semua kelicikan hingga percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Tiger sejak dulu hingga malam tadi. Jantung Milano berdegub hebat, seluruh tubuhnya melemas, mulutnya menganga.
"Bugh!"
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Tiger. Milano lalu mencekik Tiger dan mendorongnya hingga ke dinding. Matanya melotot tajam, "Tiger! Apa yang kau lakukan?!" bentaknya lalu memukul pria itu berkali-kali.
"Selama ini ayah tidak pernah menekanmu agar kamu nyaman tinggal bersama ayah. Orang tua kandungmu sudah menitipkan kamu agar aku bisa menjagamu dengan baik, Tiger! Ayah selalu membiarkan apa pun yang ingin kamu lakukan! Ayah tidak pernah ingin menyakiti atau bahkan menyentuhmu! Ayah juga berusaha memenuhi segala keinginanmu, karena janji ayah pada kedua orang tuamu." Milano terisak masih dengan cengkeraman kuat di lehernya.
Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Semua orang terkejut mendengar kenyataan itu, kecuali sang nenek yang sudah mengetahui sejak awal. Karenanya sejak ibu Leon meninggal, nenek tidak mau merawatnya, apalagi sikapnya yang sulit diatur. Nenek hanya merawat Leon saja.
"Tapi kau justru ingin melenyapkan anakku. Anak kandungku! Apa salah Leon padamu?" Milano menangis histeris. Sebagai seorang ayah dia merasa gagal.
Tiger masih terhenyak dalam keterkejutannya. Jantungnya seperti terkoyak dengan kenyataan yang ia dengar. "Jadi, aku bukan anak kandung ayah?" gumamnya pelan.
"Ya! Orang tuamu sudah lama meninggal. Mereka menitipkan pada Milano. Dan begini balasanmu, hah?" Nenek kembali menegakkan kepala dan ikut bersuara.
Air mata penyesalan menyeruak dan meluncur bebas di kedua pipi Tiger. Milano kembali memberikan pukulan terakhir. Lalu ia duduk di lantai, kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Menangisi nasib putra kandungnya.
Selama ini ia pikir Leon baik-baik saja, pria itu bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Bisa sukses dan mandiri. Namun nyatanya, di balik itu semua Leon berdarah-darah. Dan Milano baru sadar jika dia turut menyumbang dalam kesakitan Leon.
Tiger bergerak kaku menahan rasa sakit di wajahnya. Ia bersujud di kaki Milano sambil menangis. "Maaf, Yah. Maafin Tiger!" ucapnya.
Milano terdiam, merasakan sesak di dadanya. Ia berhasil memenuhi janji pada sahabatnya. Tapi dia gagal memenuhi janji pada istrinya, merawat anak mereka dengan baik. Dan itu semakin membuatnya jatuh ke dalam jurang penyesalan terdalam.
Ia baru saja menjalani serangkaian pemeriksaan di kepalanya, juga di bagian tubuh lain untuk memastikan apakah ada cidera atau luka dalam atau tidak.
Mereka selamat dari kecelakaan besar itu, saat terjadi benturan, seluruh airbag mengembang sempurna melindungi tubuh mereka. Dan ketika mobil melayang ke udara, Leon berteriak cepat agar melepas seatbelt dan dia bergerak membuka pintu sebelah Khansa lalu mendorongnya, membawa Khansa keluar hingga mereka terjatuh lebih dulu ke aliran sungai yang tenang dan cukup dalam.
Leon berenang jauh ke tepi sembari menarik pinggang Khansa. Namun beberapa saat kemudian, ledakan maha dahsyat dari mobil membuat mereka terpental beberapa meter, keduanya pingsan saat Gerry dan para bawahan menemukannya.
Leon yang saat ini melihat istrinya kacau segera meminta suster berhenti. Ia lalu berdiri dan melangkah dengan perlahan mendekati Khansa. Khansa pun berusaha berdiri meski kepalanya masih berdenyut nyeri dan kembali merasakan sakit di sekitar perutnya.
"Leon!" ucap Khansa di tengah isakannya. Ia tidak sanggup menyampaikan kabar mengenai calon anaknya.
Leon menarik bahu Khansa, memeluknya dengan sangat erat. "Iya, aku di sini!" balasnya.
Khansa mencengkeram kuat baju pasien di punggung Leon. Sedangkan Leon berusaha menenangkan Khansa, mengusap perlahan puncak kepalanya dan sesekali menciumnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Leon setelah beberapa saat. Ia hendak melepas pelukannya, namun Khansa menahannya. Khansa mengangguk, ia masih ingin berada dalam dekapan hangat sang suami yang sedikit bisa mengobati luka hatinya.
"Sebaiknya kalian berdua beristirahat!" Nenek turut berdiri menyela kedua cucunya. Barulah Khansa mau melepas pelukannya dan menatap sang nenek.
"Suster! Tolong obati lengan cucu saya. Kalau masih perlu perawatan, tolong satukan saja ruangan mereka!" titah nenek Sebastian.
"Baik, Nyonya!" sahut suster tersebut segera membimbing Khansa masuk ke ruang perawatan Leon.
Perempuan berseragam serba putih itu segera menghubungi dokter kandungan yang menangani Khansa, melalui sambungan telepon yang ada di ruangan tersebut.
Saat Leon hendak melenggang masuk, ia menemukan ayahnya terduduk lemas di lantai, lalu matanya beralih pada Tiger yang bersujud di kaki ayahnya itu. Leon kembali mengedarkan pandangan pada sepupu dan para bawahannya. Tatapannya penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Leon mengernyitkan alisnya.
Tak berapa lama rombongan dokter beserta perawat menghambur ke ruang perawatan Leon. "Kenapa pasien dibiarkan bergerak? Ia masih dalam proses pemulihan!" seru dokter sedikit marah pada para bawahannya yang tidak berani bersuara.
Ucapannya terdengar di telinga Leon. Ia segera menangkap lengan dokter tersebut hingga menghentikan langkahnya. "Apa istri saya baik-baik saja?" tanyanya dengan tatapan intimidasi.
"Beliau masih dalam tahap pemulihan setelah menjalani kuretase, Tuan," sahut Dokter tersebut meringis karena Leon mencengkeram kuat lengannya.
"Apa itu kuretase?" Leon bertanya lagi.
"Pengangkatan janin, Tuan. Mohon maaf, kami tidak bisa mempertahankannya. Karena Nyonya mengalami pendarahan. Jika tidak segera dilakukan tindakan, akan berakibat fatal pada ibunya juga. Permisi saya harus memeriksa keadaan beliau," papar dokter melepaskan cengekraman tangan Leon lalu melenggang masuk.
Tubuh Leon melemas, jantungnya seperti diremas secara paksa. Hansen secara refleks menopang tubuh Leon. Tatapannya kosong, dadanya teramat sesak dan air mata mulai menyeruak di kedua sudut matanya. Keringat pun mulai bermunculan di kening Leon.
"Maaf, Kak. Aku terpaksa harus menandatangani persetujuan tindakan tersebut, karena keadaannya darurat," aku Hansen.
Leon menepis kedua tangan Hansen, kemarahannya membuncah dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Seluruh tubuhnya menegang, giginya bergemeletuk dengan rahang yang mengeras.
Ia memutar badan dan melangkah panjang menghampiri kakaknya. Satu kakinya menendang punggung Tiger dengan kuat hingga tersungkur di lantai. "Bajingan! Kau membunuh anakku, Tiger! Aku tidak akan pernah mengampunimu!" teriak Leon meraih kedua kerah kemeja Tiger lalu melayangkan pukulan-pukulan membabi buta sambil terus mengumpat pria itu.
Leon seolah mendapat kekuatan, rasa sakit di tubuhnya seperti menghilang. Tergantikan dengan sakit yang mengoyak hatinya karena kehilangan calon anak yang sempat ia tolak keberadaannya dan perlahan mulai ia terima.
Bersambung~
Tadinya mau doble up. tapi liat kmren like komennya di bab terakhir aja.. yaudah atu aja deh ya 😄 btw makasih air matanya di bab sebelumnya... aku abis panen lombok setan 🤣🤣🤣 lope you deh sekebon pohon cabe 😘😘😘