Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 56. Ragu


“Sasa!” panggil Leon lagi lebih keras. 


Saat pria itu hendak berbalik dan berlari keluar, terdengar gemericik air di kamar mandi. Leon mengembuskan napas lega. Debaran jantungnya sudah tak beraturan sedari tadi.


“Tok! Tok!”


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu. Leon melirik ke arah kamar mandi, mengira-ngira kalau Khansa saat ini tengah mandi karena gemericik air semakin intens.


Leon melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya. Tampak seorang housekeeper tengah membawa bedcover dan sebuah paper bag.


“Permisi, Tuan, ini pesanan Anda. Dan saya mohon izin mengganti bedcovernya,” ucap housekeeper tersebut sembari mengulurkan sebuah paper bag.


Saat turun menuju hendak belanja tadi, Leon sempat bertemu dengan housekeeper dan meminta untuk mengganti bedcover di kamarnya, juga menyediakan pakaian baru untuk Khansa.


Leon menjulurkan tangan untuk meraihnya. “Hmm … masuk!” ujar Leon melebarkan pintu.


Leon juga mengambil kembali pembalut yang dibelinya tadi. Tak berapa lama, kamar tersebut kembali bersih dan rapi.


“Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?” tanya housekeeper tersebut meletakkan bedcover di keranjangnya.


“Siapkan menu spesial untuk sarapan,” ucap Leon mengayunkan tangannya menuju pintu.


“Baik, Tuan. Permisi,” ujar housekeeper membungkuk memberi hormat lalu melenggang pergi meninggalkan kamar presiden suite itu.


Leon mengetuk pintu kamar mandi, saat tak terdengar aktivitas lagi. “Sa!” panggil Leon sembari mengetuk.


Khansa membuka sedikit pintu kamar mandi, bersembunyi di balik pintu dan menjulurkan tangannya keluar, “Leon, terima kasih banyak. Sini berikan padaku,” pinta Khansa dari balik pintu, menahan tubuhnya di sana agar Leon tidak bisa melihatnya.


Leon menatap tangan putih dan masih terdapat bercak air sisa-sisa mandi yang belum mengering itu, ia menyerahkan bungkusan pembalut beserta pakaian ganti.


“Ini!” ucap Leon.


Saat Khansa menariknya, Leon justru tidak melepaskan pegangannya. Pria itu membayangkan saat ini, Khansa pasti terlihat sangat sexy.


“Leon! Lepaskan!” pekik Khansa menggema di kamar mandi. Leon sengaja menggoda Khansa. Mereka tarik menarik bungkusan itu.


Leon tersenyum sambil melepaskan pegangannya saat mendengar nada sedikit meninggi dari wanita itu.


Khansa menerima pakaian ganti, termasuk pakaian dalam dan pembalut dari Leon dan segera menutup pintu. Khansa merasa wajahnya memanas dan merah. Leon memang terlalu nakal! Dia suka sekali menggoda Khansa.


Usai berganti pakaian, Khansa keluar dari kamar mandi. Kali ini ia mengenakan gaun selutut berlengan pendek, berwarna putih dengan motif bunga-bunga. Sesuai dengan permintaan Leon.


Leon tampak sedang menerima telepon. Ia berbicara sangat serius. Sayup-sayup Khansa mendengar suara genit seorang wanita. Dan itu membuat Khansa mematung sembari mengernyitkan keningnya. Kedua tangan Khansa meremas ujung gaunnya.


“Ya, aku di bar 1949. Datanglah ke sini!” tegas Leon.


“….”


“Aku tunggu!” lanjutnya lagi lalu kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berdiri di samping jendela, pandangannya mengarah keluar, melihat keramaian kota Palembang dari ketinggian. Kemudian ia meraih sebuah rokok dan  menyulutnya, menyesap perlahan dan mengembuskan asapnya.


Khansa menelan salivanya, mengernyitkan kedua alisnya bingung. Entah kenapa, ia kembali meragu. Khansa belum bisa sepenuhnya percaya pada pria itu.


Dengan langkah pelan, Khansa menghampiri Leon dan berdiri di sampingnya. Khansa juga mengarahkan pandangannya keluar. Melihat hiruk pikuk jalan raya serta bangunan-bangunan yang menjulang tinggi berjajar di depan sana.


“Sudah selesai?” Leon membalikkan tubuhnya menghadap Khansa memasukkan satu tangannya di saku celana. Perempuan itu tampak sangat cantik dengan balutan dress yang sangat cocok di tubuhnya, meski sudah kembali mengenakan cadar. Rambutnya yang masih basah dibiarkan terurai.


“Hmm!” ucapnya singkat.


Leon menaikkan sebelah alisnya mengira Khansa masih marah perihal kejahilannya tadi. Ia berbalik dan mencari handuk di kamar mandi, lalu duduk di sofa tepat di belakang Khansa.


“Sa!” panggil Leon. Khansa berbalik, Leon menepuk sofa di sampingnya. “Sini!” ucap Leon lagi sembari mengedikkan kepala.


Pandangan Khansa tertuju pada wajah Leon yang tampan, lalu berjalan ke arah Leon. Ia mendudukkan tubuh tepat di samping pria itu.


Leon memutar tubuhnya, mengusak rambut Khansa yang masih meneteskan air. Ia meletakkan puntung rokoknya yang belum habis pada asbak yang berada di meja tak jauh dari jangkauannya.


Sedikit tersentak dengan perlakuan Leon. Sikap manisnya itu kadang mematahkan pikiran buruknya. Namun, tak jarang pula Leon membuatnya meragu.  


“Marah?” tanya Leon terus menggerakkan kedua tangannya.


“Engg … nggak,” jawab Khansa ragu.


Khansa diam tak menjawab. Leon memajukan kepala dan memiringkannya menatap Khansa, “Ada apa?”


Belum menjawab, sebuah ketukan kembali terdengar. Leon meletakkan handuk di kepala Khansa, lalu beranjak untuk membuka pintu.


“Permisi, Tuan, ini sarapannya,” ucap pelayan membawa sebuah trolly.


“Hmm bawa masuk!” ujar Leon memberikan jalan.


Setelahnya pelayan itu kembali pergi. Khansa masih termenung di tempatnya.


“Sarapan dulu,” ajak Leon mengambil handuk itu dan meletakkannya asal di sandaran sofa agak jauh dari keduanya.


Kebetulan Khansa memang belum makan malam sejak semalam. Perutnya meronta ingin segera diisi. Satu per satu Leon membuka penutup yang berbahan stainless itu. Mata Khansa menangkap bekas luka di tangan Leon.


Ia meraih tangan itu dan melihatnya. Luka beberapa hari yang lalu, saat pertengkaran mereka terjadi.


“Masih sakit?” tanya Khansa memeriksanya. Lukanya sudah membaik, menyisakan sedikit bekas saja.


“Masih!” jawab Leon berbohong menahan senyumnya.


Khansa memegangnya dengan kedua tangan. Mengusapnya dengan ibu jarinya perlahan. Lalu menengadahkan pandangannya.


“Bohong! Udah baikan juga!” seru Khansa menghempaskan tangan Leon. Pria itu terkekeh, ia senang sekali menggoda Khansa.


Keduanya lalu makan dalam diam. Khansa teringat dengan perempuan yang bernama Susan itu. Rasanya tidak mungkin jika bawahan masuk ke kamar presdir bahkan beraninya mengangkat telepon dan mengatakan tidak ada hubungan apa-apa. Sungguh sulit dipercaya.


‘Waspada untuk kebaikan diri sendiri, nggak ada salahnya ‘kan? Kita tidak saling mengenal sebelumnya. Bagaimana sifat aslinya, aku juga belum tahu. Mungkinkah dia berbohong? Apa wanita itu benar-benar simpanannya?’ gumam Khansa mengunyah makanan dengan sangat pelan, pandangannya kosong.


“Yang aku mau cuma kamu, Sa!” Ucapan itu kembali terngiang di telinga Khansa.


‘Hendra juga pernah berkata seperti itu, tapi pada kenyataannya, bullshit!’ Khansa mengaduk-aduk makanannya, tanpa berniat menelannya lagi.


Leon melihat gelagat aneh dari Khansa. Karena perempuan itu lebih banyak diam sedari tadi. Ia menangkup jemari Khansa di meja. Gadis itu terjingkat bahkan langsung menepis tangan Leon. Tersadar dari lamunannya.


“Mikirin apa sih?” tanya Leon mengernyitkan keningnya.


Khansa mendongak, menyelami manik hitam Leon yang berubah tajam. Namun kali ini, tatapan Khansa tak kalah tajam.


“Siapa tadi yang menelepon?” tanya Khansa meletakkan sendok dan garpunya.


 


Bersambung~


mon maap sedikit terlambat... krna semalem ketiduran jadi gak bisa ngebut... wkwkwk


dan seharian juga sibuk.


👩; sibuk ngapa thor? sok sibuk banget.


🌶: nganu... ngedrakor 🤭


👩: diihh!


🌶: ya kan butuh pelemasan otak juga 😂


thankyou banget ya yang nungguin.


happy readings lima bab 🥰😘