
Hansen berlari tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia fokus dengan kecelakaan beruntun jauh di depan. Sedangkan Jennifer mengedarkan pandangannya. Ia membelalak saat menemukan mobil Emily berada di jalur berbeda.
"Kak! Kak Han! Kak Han! Ini mobil Kak Emily!" teriak Jen memanggil Hansen.
Pria itu berbalik, melepas ponsel dan memasukkan ke dalam sakunya. Segera ia berlari menghampiri adiknya. Tampak mobil Alphard berwarna silver yang menabrak tiang lampu jalan.
"Emily!" seru Hansen panik membuka pintunya.
Masih terkunci, pria itu menggedor-gedor jendela sambil berteriak memanggil nama perempuan itu. "Emily! Emily buka pintunya, Sayang! Emily, hei ini aku!"
Hansen beralih menuju pintu kemudi, napasnya memburu. "Bar! Buka pintunya, Bar!" teriak Hansen menggedor kaca jendela yang masih tertutup rapat. Tangan lainnya tak berhenti mencoba membuka pintu.
Sama sekali tidak ada respon dari keduanya, membuat Hansen semakin panik. Jennifer mengedarkan pandangannya. Ia menemukan sebuah batu cukup besar, dengan langkah panjang gadis itu memungut batu tersebut, membawanya ke mobil.
"Minggi, Kak!" seru Jen mengayunkan kedua lengan kecilnya pada jendela mobil belakang.
Hansen mundur beberapa langkah, dengan beberapa kali pukulan, kaca tersebut pecah. Hansen segera menyusup melalui pintu belakang. Ia melangkah ke depan, membuka kunci pintu lalu kembali turun.
"Sayang!" panggil Hansen membuka seatbelt Emily. Ia menemukan tubuh perempuan itu bergetar hebat dengan isak tangis yang memilukan. "Sayang, ini aku. Mana yang luka? Mana yang sakit. Hei, kamu nggak apa-apa 'kan?" cecar Hansen beruntun menangkup kedua pipi Emily, merapikan rambut panjangnya.
Emily masih menangis, wajahnya memutih, pucat seperti tidak ada aliran darah. Kulitnya terasa sangat dingin. Hansen memeriksa setiap detail tubuh Emily, tidak menemukan luka apa pun. Ia lalu membawanya ke dalam dekapan dada, memeluk erat perempuan itu, mencium keningnya lama dengan embusan napas penuh kelegaan.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja." Hansen merengkuh tubuh Emily menggendongnya ke mobil miliknya. Jen berlari membukakan pintu penumpang. Untung saja dia tidak membawa mobil sport.
"Kak, tadi asistennya Kak Emily!" ucap Jen mengingatkan.
"Kamu jaga Emily!" titah Hansen.
Jennifer mengangguk, ia duduk di sebelah Emily dan memeluknya erat. Masih begitu terasa tubuh Emily yang bergetar hebat.
Hansen memapah Bara dibantu pengguna jalan lain. Karena lelaki itu juga mengalami hal yang sama seperti Emily. Tubuhnya lemah, gemetar dan tidak ada rona di wajahnya. Hanya pucat dengan bibir bergetar. Kedua tangannya masih mencengkeram kuat rambutnya.
Mereka mendudukkan Bara di samping kemudi. Hansen memasangkan sabuk pengaman lalu segera melesat pergi dari lokasi kecelakaan tersebut.
Dengan kecepatan tinggi, Hansen melajukan mobil menuju rumah sakit Khansa. Dalam perjalanan Hansen menghubungi sepupunya itu. Mengatakan bahwa Emily mengalami kecelakaan.
Khansa tersentak, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia segera membangunkan suaminya dan meminta mengantarkan ke rumah sakit.
Tiga puluh menit kemudian, Hansen sampai di depan IGD. Khansa sudah stanby di sana bersama beberapa petugas medis. Leon juga setia mendampingi istrinya.
Hansen tampak sangat panik. Dibantu oleh petugas medis, membawa Emily dan Bara masuk ke ruang IGD.
"Tunggu di luar ya! Aku akan memeriksanya terlebih dahulu," titah Khansa menutup pintu setelah Bara dan Emily masuk. Meski sudah ada beberapa dokter jaga, Khansa tetap menanganinya langsung. Ia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.
"Duduklah, Han. Apa yang terjadi, Han?" tanya Leon melihat Hansen frustasi.
"Mereka kecelakaan, Kak," ujar Hansen dengan mimik muka penuh kekhawatiran. "Semua salahku! Gara-gara aku!" desahnya menyalahkan diri sendiri.
"Kakak dari mana saja? Kalau memang tidak bisa, harusnya kakak tidak usah meminta Kak Emily datang!" tandas Jennifer penuh kemarahan.
Leon mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang datang bersama Hansen. Ia baru sadar bahwa Hansen tidak sendiri mengantar Emily dan Bara.
"Semua gara-gara kakak!" seru Jen dengan mata memerah.
Bersambung~