Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 50. Dia Milikku!


Gelak tawa para pria menggelegar di ruangan itu. Kepuasan membuncah di benak mereka atas kekalahan Khansa. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat wajah Khansa. Saking bahagianya, mereka saling bertos ria masih dengan gelak tawa yang menggema.


“Bagaimana cantik? Kau mau membukanya sendiri atau aku yang membukanya, hahaha!” Pria tua itu mulai bersuara.


Khansa memicingkan matanya, menatap tajam satu persatu pria yang mengelilinginya. Hingga akhirnya, pandangannya jatuh pada manik elang Leon.


Simon justru merasa panik, ia terus menepuk bahu Leon beberapa kali. “Kak? Kakak yakin ngebiarin mereka membuka cadar kakak ipar?” bisik Simon tepat di telinga Leon.


“Kak! Issh … jangan diem aja dong. Kan gara-gara Kakak nggak mau ngalah nih!” cebik Simon kesal, kali ini memukul bahu Leon sedikit kasar. Tidak ada sahutan apa pun. Leon masih duduk bersandar menatap lurus ke depan sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.


Leon bergeming, bola matanya tak bergerak terus menatap Khansa sedari tadi. Sorot mata gadis itu menampakkan sebuah permohonan. Karena Leon memang tidak membiarkan dia menang.


“Woy, Kak. Lihatlah, Kakak ipar tertekan sekali. Kamu rela kecantikannya dinikmati semua orang, termasuk aku loh?” Simon melingkarkan lengannya di bahu Leon, sembari berbisik dan mencengkeram erat kerah Leon.


Simon tahu, Leon tidak akan rela melihat kecantikan istrinya dinikmati banyak pria. Karenanya, Simon terus memanas-manasi pria itu. Dari tatapannya saja Simon sudah bisa membaca. Hanya saja sebagai tim hore, Simon selalu ingin menjadi peramai suasana hati Leon, agar semakin berkecamuk.


Tidak satu pun orang-orang itu curiga dengan ucapan Simon, karena semua orang terlalu fokus dan asyik menggoda Khansa. 


“Ayo cantik! Saatnya bersenang-senang! Jangan malu-malu,” Pria tua itu menjulurkan tangannya hendak membuka cadar Khansa. Gadis itu menoleh, mencoba menghindar.


“Kamu sudah kalah taruhan, jangan coba-coba ingkar,” sentak pria tua itu geram karena Khansa masih mencoba mengelak.


Dada Khansa bergemuruh lalu memejamkan matanya. Bagaimana pun, ia sudah sepakat dengan perjanjiannya. Saat ini Khansa hanya berharap Leon akan menghentikan pria tua itu yang kembali menjulurkan tangannya.


“BRAKK!!”


Saat tangan pria tua itu hampir menyentuh kain penutup Khansa, Leon menggebrak meja dengan sangat keras. Beberapa botol wine dan gelas kosong bergelimpangan. Bahkan ada yang sampai terjatuh dan berhamburan di lantai.


Semua orang terkejut dan menghentikan tawa mereka. Untung saja, tidak ada yang terkena pecahan botol dan gelas tersebut.


Simon yang di sampingnya pun terjingkat bahkan hampir terjengkang ke belakang. Namun buru-buru ia memeluk erat sandaran kursi di hadapannya.


“Astaga!” gumamnya pelan menekan dadanya sembari melirik saudara sepupunya.


Suasana yang sedari tadi riuh, mendadak hening seketika. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan untuk bernapas saja mereka lakukan dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar menderu dalam keheningan saat ini.


Mata mereka terpusat pada Leon yang saat ini mengetatkan rahangnya. Semua orang mematung, sekedar menegakkan tubuh saja tidak berani. Leon, sang raja di ruangan itu menatap nyalang.


“Aku yang mengalahkannya. Dia milikku!” Suara bariton Leon menggema, memecah keheningan di ruangan mewah itu.


Tangan pria tua itu bahkan masih menggantung di udara. Tidak ia turunkan, karena tidak berani bergerak saat melihat Leon. Ia berpikir, bahwa Leon saat ini tengah marah.


Leon beranjak dari duduknya, memasukkan kedua tangan di saku celananya. Berjalan dengan pelan, menginjak beberapa pecahan botol dengan sepatu mahalnya sambil menegakkan kepala. Langkahnya terhenti tepat di belakang orang-orang yang mengerumuni Khansa.


Seorang pria yang berdiri paling belakang menyadari kehadiran Leon di belakangnya. Ia memicingkan mata lalu menarik ujung kemeja temannya. “Sstt! Ssstt! Minggir, kasih jalan!” bisik pria itu pada temannya yang tanpa sadar menghalangi Leon.


Leon menopang kedua lengannya di meja dan kursi yang diduduki Khansa. Kepalanya menunduk, Khansa mengerjapkan matanya perlahan, menoleh pada Leon yang jaraknya hanya beberapa centi meter saja dari wajahnya.


Sedikit tersentak kaget, rongga dadanya seperti memukul-mukul dari dalam. Bertalu kuat hingga terasa nyeri. Matanya mengerjap lembut, mulutnya sedikit terbuka.


“Ikutlah bersamaku,” ucap Leon pelan namun penuh ketegasan. Tidak akan ada yang bisa menolaknya. Satu tangannya mengulur di hadapan Khansa.


Tanpa diduga Leon mau membawa wanita cantik itu untuk bermain ke tempat lain. Khansa menggigit bibir bawahnya. Ia menatap telapak tangan Leon yang terbuka di depannya. Perlahan, Khansa pun menyatukan jemari tangannya yang dingin dengan telapak hangat nan lebar milik Leon. Keduanya beranjak dan menegakkan tubuh mereka.


Leon menatap pria tua itu dan masih diam, tapi pandangan Leon sangat dingin dan menusuk seperti es. Bos tua itu berkeringat dingin, tangannya segera turun, semua orang bisa melihat kalau Leon tertarik pada Khansa. Siapapun tidak akan ada yang berani merebut wanita yang disukai oleh Leon.


Simon menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tidak pudar dari bibirnya. Menurutnya, rencana kali ini berhasil, ia pun menyunggingkan senyum puas saat melihat Leon yang tidak rela jika Khansa dijamah bahkan sekedar dilihat pun tak rela.


Tangan Simon meraih ponsel di saku celana. Memainkan jari jemarinya pada benda pipih itu. Kemudian mengirimkan sebuah pesan pada manajer bar tersebut.


“Kerja bagus, bonus sudah saya kirim.”


Tak lama kemudian sebuah balasan masuk ke ponselnya. “Terima kasih banyak, Tuan. Jangan sungkan jika membutuhkan bantuan lagi.”


Simon tak membalas lagi. Ia sedang menikmati pemandangan indah di depannya. Terlihat seperti romeo yang tengah menyelamatkan juliette dari para penjahat.


Semua orang menunduk melihat ekspresi Leon yang seperti itu. Meskipun pandangannya hanya tertuju pada pria tua tadi. Namun mereka turut merasakan gemetar ketakutan. Apalagi tadi turut antusias menginginkan Khansa membuka cadarnya dan menertawakan gadis cantik itu.


Tangan Leon dan Khansa saling bertaut. Sedari tadi mereka hanya diam dengan Leon melemparkan tatapan mematikan. Khansa menghela napas panjang.


“Tuan Leon, aku sudah kalah. Katakanlah keinginanmu dan aku akan berusaha penuhi itu sesanggupku, kecuali melepas cadar ini,” ucap Khansa menoleh pada pria tinggi dan tegap di sampingnya.


Leon merangkul pinggang Khansa yang ramping dan menarik ke dalam dekapannya, memangkas jarak di antara mereka berdua. Telinga Khansa jadi memerah, ia panik seketika, matanya membulat. Takut jika Leon akan melakukan sesuatu di sana.


Leon sedikit menunduk, menempelkan bibir pada telinga Khansa sambil berkata, “Suapi aku.”


Tubuh Khansa meremang dan menegang, sekujur tubuhnya merinding seketika saat napas hangat Leon menyapu telinganya.


Khansa tercengang mengerutkan alisnya dan menatap Leon dengan kebingungan, 'Permintaan macam apa ini?’ desahnya dalam hati.


 


Bersambung~


Habiss... sampai jumpa di.... enggak tau, tergantung editor ya.. wkwkwk..


Jan lupa like komen gift dan votenya. makasih buanyaakk... lope lope sekebon cabe always 😘😘😘🌶🌶