
Bara masih menatap Hansen tak berkedip. Kedua sudut bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum lebar. Bara memiringkan kepalanya, "Duh, ternyata cakep juga," celetuk Bara mengedipkan satu matanya.
Kedua mata Hansen membelalak lebar. Ia langsung berdiri tegap dan menunjuk pria genit di depannya. "Apa maksud kamu?" teriaknya merinding seketika.
"Barbara! Jangan ganggu dia!" teriak Emily yang mendengar teriakan Hansen.
"Tenang aja, Baby. Selera kita beda!" cetus Bara menumpukan kaki di salah satu pahanya. Satu tangannya menopang dagu. Tatapannya masih tak beralih dari pria tampan berkacamata itu.
Hansen masih mengernyit bingung. Dia menyugar rambutnya ke belakang dan menenangkan diri dari keterkejutannya. Sesekali matanya melirik Bara yang masih setia memperhatikannya.
"Heh, Ganteng. Kamu itu udah menendangku dua kali ya semalam. Sampai sekarang masih sakit tahu! Enggak ada gitu permintaan maaf," gerutu Bara mencebikkan bibirnya. Hansen merasakan hal yang tidak beres pada pria di depannya.
Saat terdengar pintu terbuka, Hansen langsung berlari dan berdiri di belakang Emily, kedua tangannya menangkup bahu gadis itu. Emily sudah mengenakan thank top dan celana jeans pendek. Ia menoleh sembari mengacak rambutnya yang basah. Hansen menelan saliva saat pandangannya mengarah pada Emily.
"Apa sih?" tanya gadis itu menoleh.
"Kamu nemu di mana makhluk kaya gitu?" ucap Hansen dengan suara rendah.
"Kaya gitu gimana dia baik kok," sahut Emily menautkan kedua alisnya.
"Aduh jangan banyak cing cong deh. Buruan sini!" Bara menarik kursi rias dan membuka peralatan make up untuk gadis itu.
Emily meninggalkan Hansen yang masih berpacu dengan detak jantungnya. Ia mengusap wajahnya kasar lalu berkacak pinggang. Bara mulai memoles wajah Emily dengan cekatan. Ia juga sudah menyiapkan pakaian untuk keperluan syuting nanti.
"Bar, nanti berapa lokasi nih?" tanya Emily merapikan rambutnya.
"Tiga, Baby. Buruan sana ganti baju!" tukas Bara merapikan kembali perlengkapan make up Emily, memasukkan ke dalam tas lalu mengapitnya.
Hansen masih menatapnya sembari bersandar di dinding, saat Emily baru keluar dari walk in closet, kedua mata pria itu bahkan enggan untuk berkedip.
Bara mengulurkan tangannya untuk menggandeng Emily yang sudah mengenakan high tinggi. Buru-buru Hansen menepisnya dan menggantikannya. Emily mendelik sembari menoleh.
"Jangan pegang-pegang!" sembur Hansen melotot tajam.
"Astaga naga! Mengcapek deh sama orang bucin!" cibir Bara berjalan lebih dulu.
Emily serasa tersengat aliran listrik, degub jantungnya juga mulai tak beraturan. Ia menunduk menyembunyikan senyuman sembari menyelipkan rambut panjangnya di telinga.
"Buruan woy!" Suara bariton Bara terdengar lantang, saat menoleh ke belakang namun mereka berdua belum bergerak juga.
Emily tersentak, ia segera melangkah diikuti Hansen yang turut berjalan pelan. Saat ingin duduk di kursi depan, Hansen segera menarik Emily agar duduk di kursi belakang. Gadis itu hanya menurut saja.
Sepanjang perjalanan, mereka saling diam namun kedua tangan mereka masih saling bertautan. Emily terus menatap keluar jendela, begitu pun Hansen yang pandangannya lurus ke depan. Bara asyik menyetir sesekali bersiul untuk memecah keheningan.
Beberapa menit kemudian, Bara menghentikan mobilnya di lokasi pertama. Pria itu segera turun dan berlari membukakan pintu untuk Emily. Banyak para fans yang berkumpul dan berlarian hendak bertemu Emily. Namun dengan sigap, Bara berubah menjadi bodyguard yang tegas untuk melindungi Emily.
"Minggir! Minggir! Emily harus syuting dulu!" tegas Bara membukakan jalan untuk Emily.
Hansen mengikuti kegiatan Emily. Dia bisa melihat Bara yang telaten menjaga gadis itu dan membantu segala kebutuhannya. Ia mengamati dari kejauhan.
"Bar, beliin makanan gih buat Hansen sama aku juga," perintah Emily meraih tas lalu mengulurkan dompetnya pada Bara.
"Oke, Baby!" sambut Bara bergegas menjalankan tugasnya.
Emily beralih duduk di sebelah Hansen. Pandangannya mengarah ke depan. "Kamu nggak kerja apa? Kenapa capek-capek ngikutin kegiatan aku?" tanya Emily menoleh.
"Aku menunggu jawabanmu!" tegas Hansen dengan ekspresi datar.
"Kalau aku lama kasih jawaban, masih mau nunggu?" tanyanya lagi. Emily menghela napas panjang. "Kita belum saling mengenal satu sama lain. Kamu belum tahu bagaimana keburukanku. Aku nggak mau nantinya kamu menyesal," lanjut Emily menunduk.
Hansen meraih jemari lentik Emily dan menggenggamnya. "Percaya nggak, aku sudah tertarik sama kamu, sejak kita pertama bertemu. Aku nggak rela jika ada pria lain bersanding denganmu. Terutama, lelaki setengah wanita itu!" aku Hansen.
Emily mengernyit, "Maksud kamu Bara?"
"Siapa lagi?" gumam Hansen dengan nada tidak suka.
Emily tertawa terbahak-bahak. "Dia itu sudah seperti abangku sendiri. Dia akan bersikap lambai jika hanya denganku, karena dulu pernah dikhianati wanita jadi dia kayak trauma gitu jatuh cinta sama perempuan. Tapi dia bakal jadi bodyguard aku saat di luar. Jiwa lelakinya keluar untuk melindungiku."
"Kok bisa? Maksud aku, bagaimana bisa kalian sedekat itu?" tanya Hansen penasaran.
"Dulu dia pernah terjerumus narkoba setelah ditinggal nikah sama wanitanya. Ditangkap BNN, dan semua keluarga menjauhinya. Aku yang waktu itu memang sudah mengenalnya nggak tega, selalu support dia, kasih semangat, sampai waktu keluar dari BNN, dia ingin balas budi padaku, jagain aku sampai sekarang," papar Emily.
Hansen menganggukkan kepalanya. Ia baru paham kenapa mereka bisa sedekat itu. Bara yang baru datang langsung menyerahkan makanan pada dua sejoli itu.
"Makan dulu, Baby. Abis ini kita pindah," ucap Bara duduk di hadapan mereka.
"Bar, maaf semalam aku menendangmu," ujar Hansen dengan serius.
Bara menghentikan makannya, matanya membelalak, "Sumpah demi apa manusia kulkas ini bisa minta maaf?" tuturnya terkejut.
"Jangan bikin aku takut," sahut Hansen mulai membuka makanannya. Mereka bertiga lalu tertawa bersama.
"Jadi gimana?" Kali ini ia kembali beralih pada Emily.
"Gimana apanya?" tanya Emily balik.
"Jawaban kamu?" Hansen menoleh dan menatap wanita itu lamat-lamat.
Bersambung~
Maaf ya Bebski ... Kemarin aku tidur lebih dari 24 jam. tapi alhamdulillah masih bernapas 😄😄 Lambung sering bermasalah akhir-akhir ini. Nggak kuat ngapa-ngapain.