Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 70. Melabrak


Khansa sudah kehabisan kesabarannya. Ia meraup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sangat sesak. Kedua tangan Khansa mendorong kedua bahu Susan dengan keras hingga terpundur dan hampir terjengkang.


“Dasar gila! Pergi sana!” usir Khansa dengan tegas melayangkan tatapan mengerikan.


Susan tak kalah garang, “Heh! Dasar pelayan sialan! Berani-beraninya kamu bersikap seperti ini pada calon wanitanya Leon!” pekik Susan melangkah panjang dengan emosi memuncak.


“Cih! Baru calon aja bangga!” seru Khansa melipat kedua lengannya.


“Lihat saja, malam ini aku pasti bisa menjadi milik Leon seutuhnya. Dia tidak akan bisa menolak pesona tubuhku yang menggoda ini.” Susan memprovokasi.


“Perempuan gila! Murahan! Pergi sekarang juga!” unpat Khansa dengan keras lalu menutup pintu dengan kasar dan menguncinya.


Kening Susan terantuk pintu hingga memerah, ia menjerit dan lagi-lagi langkahnya terpundur dengan paksa. “Awwh! Pelayan kurang ajar! Awas aja akan kuberi kamu pelajaran!” pekik Susan menendang pintu tersebut lalu melenggang pergi.


Susan kembali ke kamar tamu dengan emosi meletup-letup. Ia terus menggerutu ingin memberi pelajaran pada Khansa yang ia yakini sebagai pelayan di rumah itu.


Di balik pintu, tubuh Khansa terperosot ke lantai. Nyeri di kakinya sudah mulai memudar. Namun, bukan itu yang membuatnya melemas. Tulang belulangnya seolah terlepas dari tempatnya, saat mengingat kalimat Susan yang arogan ingin memiliki Leon sepenuhnya.


Khansa memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Menyembunyikan mukanya di sana. Seluruh tubuhnya gemetar membayangkan hal itu.


“Kenapa kamu seperti ini, Sa? Kenapa harus berkhianat dengan hatimu sendiri? Ingatlah! Pernikahan ini cuma sebatas kerja sama saja. Ingatlah dengan tujuan awalmu kembali ke sini!” tegasnya meyakinkan hatinya yang sedang goyah. Kedua tangannya terkepal kuat mengumpulkan emosinya di sana.


Tidak bisa dipungkiri Khansa merasakan dentuman emosi yang meledak seperti sekarang. Ia tidak sanggup mengendalikan logika di pikirannya. Otaknya dipenuhi oleh Leon, Leon dan Leon saja.


“Bukankah ini yang kamu inginkan? Tapi kenapa hatiku sakit sekali mendengarnya!” Khansa menjerit dalam hati mengeratkan pelukan pada kakinya.


Ternyata benteng pertahannya sudah dihancurkan oleh Leon secara perlahan. Pria itu berhasil menelusup hatinya yang terkunci dengan rapat. Leon mampu mendobraknya dan singgah di sana. Sehingga mau tidak mau Khansa harus merasakan rasa sakit yang menjalar hingga ulu hatinya.


Lehernya terasa tercekik hingga kesulitan untuk bernapas. Khansa kehilangan arah, ia sangat membenci dirinya yang lemah seperti ini. Tapi Khansa hanya wanita biasa, sekuat apa pun fisiknya, hatinya tetaplah lemah lembut. Dan akan hancur jika diremat dengan paksa secara terus menerus.


Khansa tidak mengerti bagaimana cara agar terlepas dari belenggu rasa itu. Ini bukan keinginannya. Tapi cinta akan tumbuh dan hadir dengan sendirinya, saat hati telah terpaut.


“Kamu nggak boleh seperti ini, Sa! Kamu kuat! Dear hati, please kita kerja sama! Aku nggak mau kamu semakin terluka!” Khansa menggumam menegakkan tubuhnya. Bersandar pada pintu mendongakkan kepala. Menikmati setiap rasa yang menghujam jantungnya.


Kedua matanya terpejam, tangan kecilnya menepuk-nepuk dada yang semakin sesak. Seolah kehabisan udara di sekitarnya.


Khansa merasa Leon sangat sulit dia raba, sesaat bisa membuatnya melambung karena perhatian dan kelembutannya. Namun seketika Leon juga bisa menghempaskannya jauh ke dasar jurang yang paling dalam.


“Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Apa benar Leon akan melakukannya?” Khansa bertanya-tanya. Meskipun ia terus menolak untuk memikirkannya, namun lagi-lagi ia dikalahkan oleh nalurinya sebagai seorang wanita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa beranjak dari lantai, ia melangkah ke kamar mandi, membuka cadar dan mencuci mukanya. Ia menatap bayangan dirinya pada cermin tersebut. Kedua matanya masih memerah, tetesan air mengaliri setiap jengkal wajah cantiknya.


Kedua tangannya mengepal dengan kuat. Ia merasa tidak tahan. Khansa mengambil handuk dan menyeka buliran air di wajahnya hingga mengering. Kemudian kembali mengenakan cadarnya. Gadis itu memutuskan keluar untuk mencari Susan. Kebetulan ada salah satu pelayan yang melewatinya.


“Bibi! Di mana kamar wanita itu?” tanya Khansa menahan amarah. Kilatan tajam dari manik matanya membuat pelayan itu bergidik.


“Di kamar tamu, Nyonya. Ada di lantai satu,” jawab sang pelayan mengerutkan keningnya. Karena ia merasa ada yang berbeda dari nyonya mudanya itu.


Khansa bergegas menuruni tangga dengan cepat. Ia bahkan mengabaikan kakinya yang terluka. Luka pada kakinya, tidak sebanding dengan luka hatinya yang baru saja terkoyak.


“Brak! Brak! Brak!”


Gedoran dari tangan Khansa begitu keras. Ia berdiri dengan nyalang di depan kamar Susan sambil terus menggedor pintunya. Napasnya menderu dengan kasar.


Saat ini, Khansa ibarat ayam jago yang sudah siap diadu. Khansa mengira Leon ada di dalam bersama wanita murahan itu.


“Apaan sih nggak sopan banget!” teriak Susan membuka pintu kamarnya dengan geram. “Oh! Kamu? Pelayan rendah yang nggak punya sopan santun!” cebik Susan saat melihat Khansa berdiri di hadapannya.


Susan terkekeh mendengarnya. “Apa kamu bilang? Leon? Heh! Kamu itu cuma pelayan di sini! Berani-beraninya menyebut majikanmu seperti itu! Memang bener-bener harus dikasih pelajaran kamu ya?” teriak Susan menggelegar.


Beberapa pelayan berlari mendekat saat mendengar teriakan dua wanita itu menggelegar di seluruh penjuru ruangan, menyaksikan keributan yang terjadi di Villa itu.


“Kamu bahkan lebih rendah dibandingkan dengan pelayan!” seru Khansa dengan seringai tajam sembari mendorong bahu Susan dengan keras.


“Kurang ajar!” Susan hendak menyerang Khansa, ia maju bersiap menampar pipi Khansa. Namun pergerakannya mudah terbaca oleh Khansa. Ia mundur lalu mencekal pergelangan tangan Susan.


“Jangan pernah berani menyentuhku! Kalau tidak mau kehilangan kedua tanganmu!” ancam Khansa yang membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri.


Khansa memelintir tangan Susan membuat wanita itu memekik kesakitan. “Aaargghh! Sakit, lepasin, bodoh!” umpat Susan di antara rasa sakitnya.


Khansa menarik tubuh Susan mendekat padanya, ia berdiri di belakang Susan masih dengan memelintir lengan perempuan itu. “Yang kau panggil bodoh ini bahkan bisa mematahkan tangan dan kakimu agar tidak bisa menggoda laki-laki lagi!” bisik Khansa lalu menendang bokong Susan hingga wanita itu terjungkal ke lantai.


“Aww,” jerit Susan yang terjerembab ke lantai.


Para pelayan yang melihatnya hanya melihat miris sambil mengatupkan mulut. Khansa seperti singa yang mengaum ketika hendak menerkam mangsa.


“Astaga! Astaga! Ternyata nyonya muda lebih mengerikan dari tuan muda,” gumam seorang pelayan yang meremas lengan temannya.


Tubuh mereka bergetar ketakutan saat melihat sisi lain Khansa yang biasanya lemah lembut dan anggun.


“Iya, sama. Jantungku kayak lagi lari marathon. Nyonya kalau marah sangat menyeramkan,” bisik satunya lagi yang juga ketakutan.


“Nyonya akan bersikap bagaimana orang bersikap padanya. Kamu lihat sendiri wanita itu memang ganjen, kegatelan sama Tuan Leon. Dia pantas mendapatkannya,” bisik pelayan lainnya. Yang diangguki oleh rekan-rekannya.


Tubuh mereka panas dingin melihat Khansa yang sedang murka seperti itu.


“Iya, padahal nyonya baik banget sama kita yang hanya pelayan di rumah ini. Beliau nggak akan marah kalau tidak ada yang mengusiknya.”


“Senggol bacok mode on ini mah.”


“Biasanya emang gitu, marahnya orang sabar lebih menyeramkan.”


Mereka mulai bergunjing, namun seketika mengatupkan bibirnya dengan rapat saat melihat Leon berjalan mendekati mereka.


Leon baru saja keluar dari ruang baca dengan Paman Indra mengikuti dari belakang. Langkahnya tegas, mata elangnya menatap dengan tajam. Aura dingin pun menguar dari wajah tampannya.


Bersambung~


Apa... apa yang akan terjadi? apakah bakal kebongkar? atauu... apakah... apakah... batin ini bergejolak dengan pertanyaan yang membumbung tinggi hingga ubun-ubun 😄😄


Sa, gue dukung lu buat pergi ninggalin Leon! Biar buat gue aja. (Ketawa jahat 😈😈)


Terima kasih banyak supportnya... like dan komentarnyaa... apalagi ditambah bunga dan kopinya.. lope lopee sekebon cabe 😍😘 apalagii kalau mau simpenin vote besok senin.. aah makin cinta kalian 🥰🥰😘


Sampai jumpa minggu depan... abis dapet titah editor pasti lgsg di eksekusi kok. sabar yaa...