
Jihan dan Maharani sangat kegirangan di tengah malam itu. Kebahagiaan mereka membuncah, gelora di dadanya seolah hendak meledak dan mengamburkan banyak bunga.
“Dengan berita ini, Kak Hendra pasti sangat membenci Khansa dan dia akan langsung menikahi Jihan, kita akan hidup bahagia bersama anak-anakku dan Kak Hendra. Sedangkan Khansa akan semakin terpuruk dan hancur karena cacian, makian, bullyan dari semua orang di kota ini. Ah, bahkan di seluruh dunia. Iya ‘kan, Bu? Hahaha!” serunya dengan tawa yang sangat lebar.
Jihan mulai membayangkan masa depannya yang indah bersama Hendra juga kehancuran Khansa.
Maharani ikut tertawa, ia merangkul Jihan, “Kamu tenang aja, Sayang. Ibu akan berbuat apa pun untuk memastikan kebahagiaanmu,” ucapnya membelai sebelah pipi Jihan.
Sedangkan Jihan melingkarkan kedua lengannya di perut sang ibu dari samping. Ia menyandarkan kepala di bahu ibunya. “Ibu memang yang terbaik! Jihan sayang sama ibu,” ucapnya mengecup pipi wanita yang telah melahirkannya itu.
“Khansa sudah beres, sekarang tugas kamu untuk meraih Hendra kembali ke dalam pelukanmu. Ibu yakin, pasti dia sangat membenci Khansa sekarang. Waktunya kamu masuk, bikin dia semakin membenci Khansa dan jadilah milikmu seutuhnya,” balas Maharani memberikan dukungan penuh pada putri kesayangannya.
Bagaimana pun caranya, dia harus bisa memiliki menantu salah satu keluarga besar di Kota Palembang. Dan tidak ada yang bisa untuk menghentikannya sekarang.
“Akhirnya malam ini aku bisa tidur nyenyak, Bu. Dan semua karena ibu. Makasih banyak, Bu,” seru Jihan dengan binar mata kebahagiaan.
“Iya, iya. Sudah malam, sana tidurlah,” pinta Maharani menyentuh kedua lengan putrinya menatap penuh sayang.
Jihan mengangguk, lalu melenggang kembali ke kamarnya meninggalkan Maharani yang tertawa puas di bibir merahnya. Ia pun memilih kembali ke kamarnya sebelum Fauzan pulang dan curiga terhadapnya.
Benar saja, tak berapa lama bell rumah berbunyi. Maharani yakin itu adalah suaminya. Ia berpura-pura untuk tidur, menaikkan selimut hingga batas perut.
“Selamat malam, Tuan!” sapa pelayan yang membuka pintu sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Hemm!” jawab Fauzan singkat dengan ekspresi datar dan langsung menuju kamar.
Fauzan masuk ke kamar dan berjalan gontai. Ia melempar tasnya di sofa, melepas jas dan dasi dengan penuh emosi. Lalu menghempaskan tubuhnya di sofa, menyandarkan kepala sembari memijitnya.
“Zan, kamu baru pulang?” Maharani pura-pura terbangun. Ia beranjak duduk sambil mengucek kedua matanya.
Tidak ada sahutan dari pria paruh baya itu. Deru napasnya terdengar kasar. Dadanya naik turun dengan cepat. Maharani menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Ia yakin kalau malam ini Fauzan sudah mengetahui aib Khansa barusan.
Maharani menurunkan kedua kakinya, berjalan menghampiri sang suami yang terlihat frustasi. Ia berdiri di belakang Fauzan, kedua tangannya terangkat dan memijit kedua pelipis pria itu.
“Ada masalah apa? Sepertinya serius sekali sampai kamu jadi muram seperti ini?” tanya Maharani pura-pura tidak tahu.
“Lihatlah sendiri di internet!” suruh Fauzan yang malas untuk berbicara. Kepalanya mendongak sembari memejamkan mata.
Seketika Maharani melepaskan pijatannya. Ia berlari kecil menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Matanya melirik ke arah Fauzan yang masih terpejam.
“Oh, ya ampun! Khansa!” pekik Maharani menutup mulutnya yang terbuka.
Maharani kembali menghampiri Fauzan sambil membawa ponselnya yang menunjukkan berita mengenai Khansa. Ia mendaratkan tubuhnya di sebelah Fauzan.
“Zan? Khansa benar-benar keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia sungguh membuat malu keluarga kita, Zan. Kamu nggak boleh diam saja!” seru Maharani menggebu-gebu. Ia semakin memanas-manasi Fauzan yang sudah jelas-jelas marah.
Fauzan mengembuskan napas beratnya. Kepalanya semakin berdenyut nyeri saat mendengar suara Maharani. Pria itu menegakkan tubuhnya, kedua tangannya terkepal kuat di atas paha.
“Ini sungguh aib yang sangat memalukan! Aku tidak menyangka kalau Khansa menjadi seperti itu!” geram Fauzan dengan kilatan tajam pada sorot matanya.
Maharani mengulum bibirnya kuat-kuat. ‘Yess!’ soraknya dalam hati karena berhasil membuat Fauzan semakin membenci Khansa. Itu artinya, akan sangat mudah untuk menyingkirkan gadis itu.
Fauzan terlihat mengetatkan rahangnya. Giginya saling bergemeletuk, matanya memerah menahan amarah.
“Besok kita adakan saja konferensi pers untuk mengumumkan putus hubungan keluarga dengan Khansa. Kamu nggak mau ‘kan nama keluarga kita tercemar gara-gara sampah seperti Khansa? Lebih baik kita putuskan hubungan keluarga saja. Dengan begitu, kita bisa hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang cibiran dari orang-orang. Nama keluarga kita akan tetap bersih, Zan!” jelas Maharani.
Fauzan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menoleh pada istrinya, menopang dagu dengan satu tangannya. “Hemm sepertinya itu ide yang bagus. Sebelum berita ini semakin menjatuhkan keluarga kita dan membuat perusahaan hancur karena ulah Khansa!” seru Fauzan mengangguk setuju.
Ingin sekali Maharani berteriak, itu artinya Khansa sudah pasti akan dicoret dari daftar ahli waris.
“Kau urus semuanya besok!” tutur Fauzan yang melihat istrinya tampak melamun.
“Ah, iya. Kamu tenang saja. Aku pasti akan mengurusnya dengan baik,” sahut Maharani dengan semangat.
Setelahnya Fauzan bangkit dan bergegas membersihkan diri. Keduanya lalu memilih tidur untuk mempersiapkan diri dalam konferensi pers.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Leon tengah sibuk berkutat dengan laptopnya di meja kerja. Wajahnya tampak tenang, ia sama sekali tidak terganggu dengan desas-desus yang menimpa istrinya. Leon bekerja seperti biasanya.
“Kak Leon!” seru seorang pria menerobos masuk ruangannya. Wajahnya nampak panik, deru napasnya terdengar kasar.
Leon menengadahkan kepalanya, mengangkat kedua alisnya saat melihat Hansen di ambang pintu dengan ekspresi seperti itu.
“Masuklah!” seru Leon kembali fokus mengetikkan jari jemarinya di atas keyboard.
Hansen melangkah panjang, ia menarik kursi di hadapan Leon dan mendudukkan dirinya dengan kasar. Kedua lengannya bertumpu di atas meja.
“Ada apa?” tanya Leon.
“Kak, nggak mungkin ‘kan kalau Kakak belum melihat berita tentang Khansa?” tanya Hansen mendesak.
Leon menghela napas panjang. Ia kembali fokus pada laptopnya, membaca beberapa laporan dan sesekali membalas email. “Ya, aku tahu,” sahut Leon dengan tenang.
Hansen melongo tak percaya. Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Leon. “Tapi kenapa Kakak tenang-tenang aja, hah? Kakak bahkan tidak berbuat apa pun untuk menekan berita itu. Kau mau terjadi sesuatu yang buruk pada istrimu? Heran aku, kenapa Kakak tidak peduli begini!”
Hansen penasaran Leon sama sekali tidak peduli dengan berita Khansa yang menggemparkan itu. Leon tidak peduli karena Khansa pernah berkata agar Leon jangan mencampuri urusan pribadinya.
“Biarkan saja!” ucap Leon tersenyum datar pada Hansen. Pria tampan berkaca mata itu mengernyit heran dengan kelakuan Leon.
Bersambung~
Nah kan, aku hadir di hari sabtu... karna kmren dapet turun email nih... terus dikebut wussh wushh! biar cepet up... demi apa? demi kalian lah. awas kalo gak like sama komen di semua bab!
*Diapain thor?
Doain aja. kuatir banget mau disantet. 🤣🤣
Happy readings and happy weekend, seperti biasa lima bab akan menemani kalian...
lope lope sekebon cabe 🥰😘😘🌶