
Happy Reading😘
Hari ini Dev Rencananya akan keluar kota untuk urusan bisnis bersama dengan Dilon dan juga Hazel. Padahal aslinya Dev tidak ke sana, dia akan ke suatu tempat bersama kedua sahabatnya untuk menemui seseorang.
"Mas, kamu di sananya jangan lama-lama ya." ucap Dea saat di meja makan.
"Iya sayang, kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan lama kok, Cuma 3 hari aja."
Setelah sarapan Dev pun pamit kepada Dea dan juga kedua orang tuanya. Dia juga sudah dijemput oleh Hazel dan juga Dillon.
Di dalam mobil
"Dev, kira-kira apa yang mau lo lakuin sama wanita sendal jepit itu?" kesal Dilon
"Entahlah! Sebenarnya gue juga masih ragu untuk hukuman yang seperti ini. Tapi kalau dia tidak bisa diajak kerjasama, maka ya sudah gue nggak akan pernah mengampuni dia." Ucap Dev dengan geram.
Dev, Hazel dan juga Dilon, mereka akan ke sebuah pulau karena di sana Amber disekap oleh Dev. Sebenarnya dulu Dev sudah memberi peringatan kepada Amber, tetapi tidak di dengar oleh Amber akhirnya Dev menghancurkan karir Amber, tapi lagi-lagi Amber juga tidak menggubris ucapan Dev dan Malah semakin menjadi.
Akhirnya Dev menyekap Amber di sebuah pulau, di mana Pulau itu adalah milik di Dillon, dan di sana juga ada Villa tempat Dillon biasanya bersantai dan juga menghabiskan waktu liburnya.
Setelah sampai bandara mereka bertiga pun langsung menaiki jet milik Hazel lalu berangkat ke pulau itu yang berada di kota kalimantan.
"Dev, gue boleh nggak sih nyicip-nyicip sedikit tubuh jal*ng itu?" Tanya Dillon
"Ya, Kalau dia nya masih tidak mau mendengar gue, dan dianya juga mau sama belalai kalian kenapa enggak!" jawab Dev dengan cuek.
Hazel dan Dillon saling memandang satu sama lain mereka tersenyum Smirk.
Sementara itu di kediaman Bachtiar Dea sedang menerima telepon dari sang kakak, wajahnya benar-benar tegang dan juga gelisah.
"Lalu Bagaimana keadaan Ayah kak! Ayah baik-baik saja kan?" cemas Dea
"Kamu tenang saja Dek! Ayah baik-baik saja. Kemarin ada anak buahnya Dev yang menyelamatkan ayah, jadi ayah tidak kenapa-napa." jelas Bagus agar sang adik tidak merasa gelisah.
"Lalu pelakunya Bagaimana Kak? Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya Dea dengan penasaran.
"Iya De, pelakunya sudah tertangkap. Kemarin kakak dan juga anak buahnya Dev, sudah menghajar orang itu dan kami sudah menyerahkannya ke kantor polisi agar bisa dihukum dengan seberat-beratnya." Jelas Bagus
Dea yang mendengar itu menjadi lega. Sejujurnya beberapa hari ini Dea tidak enak tidur, perasaannya selalu cemas memikirkan keluarganya di kampung, dan saat dia mendengar kabar dari sang kakak jika ada seseorang yang ingin mencelakai sang ayah, dia tentu saja menangis hatinya bergetar sakit dan juga cemas.
"Sudah, kamu jangan banyak pikiran. Kamu kan lagi hamil, ingat kalau sekarang di perut kamu ada anak yang harus kamu jaga! Jadi kamu nggak boleh sampai banyak pikiran, kamu paham kan?" ucap Bagus dengan penuh perhatian pada sang adik.
"Iya kak, aku akan selalu ingat pesan kakak. Yasudah kalau gitu aku tutup dulu ya Kak, Assalamualaikum....." ucap Dea sambil menutup telepon.
Setelah telepon terputus Dea duduk di tepi ranjang. "ya Allah, terima kasih Engkau telah melindungi keluargaku. Semoga keluargaku senantiasa dalam lindunganmu ya Allah, aamiin...."
🌹
🌹
🌹
Saat Al akan berangkat kerja Lala segera mencegah langkah calon suaminya itu. "Ada apa Sayang?" Tanya Al dengan lembut.
"Ini Sayang, aku mau kasih kamu bekal buat makan siang. Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi kata Mama aku nggak boleh banyak keluar, soalnya kan Sebentar lagi kita akan menikah" ucap Lala dengan wajah malu-malu.
Al menerima bekal dari calon istrinya dengan senyuman manis di bibir Al, lalu dia menarik pinggang Lala dan hendak mencium keningnya.
Tapi, belum juga bibir itu mendarat di kening Lala, sebuah suara seseorang sudah menghentikannya. "Ya ampun Al, kalian ini belum menikah Jangan main sasar-sosor aja kamu!" Ucap cempreng Mama Rose.
Al segera melepaskan tangannya dari pinggang Lala, lalu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Hehehe... Ma, kan cuma sedikit? Masa nggak boleh?" kekeh Al sambil tersenyum malu.
"Nggak boleh! Kamu kan sama Lala belum menikah, nggak boleh main sosor-sosor begitu. Mau Mama iket tuh bibir kamu, biar kayak bebek Soang?" Ketus Mama Rose sambil menatap Al dengan tajam.
"Ya ampun Ma, sedikit doang masa nggak boleh! Pelit banget sih Ma. Lalanya aja nggak apa-apa." Bela Al pada diri sendiri.
Mama Ros mendekat dan menjewer telinga Al dengan keras sampai sang empu meringis sakit. "Dasar ya kamu! Otakmu ini sudah dipenuhi dengan hal-hal yang tidak pantas, lebih baik kamu Segera halalkan Lala. Sabarlah Al cuma tinggal satu minggu lagi, kalian akan menikah. Apa rasanya pedang jaka tingkir Kamu ini sudah tidak sabar sekali ya ingin segera memasuki gua persembunyian?" ledek Mama Rose sambil melepas jewerannya.
"Mama ini, kok jahat banget sih? Masa belalaiku disamain sama pedangnya Jaka Tingkir? Beda dong Ma kalau ini tuh lebih ganas dan lebih cool."
"Sudah-sudah, lebih baik kamu sana berangkat kerja. Daripada otakmu ini makin ngeres aja! Nanti Mama rendem kamu pakai Rinso lama-lama." Gerama Mama Rose sambil menarik Lala masuk ke dalam rumah.
Al berdecak sebal sebab gagal mencium kening Lala. "Ah si Mama ini, ganggu aja pagi-pagi. Ambyar kan momen romantis aku dan Lala." Kesal Al dengan sambil menaiki mobilnya.
Bersambung. . .......