
Happy reading.........
Setelah beberapa jam dia di ruang UGD dokter pun keluar dari ruangan itu, Dev yang melihat itu segera menghampiri sang dokter dan bertanya tentang keadaannya Dea dan juga anak mereka.
"Dok bagaimana keadaan istri dan juga anak saya dok? Mereka baik-baik saja kan?" Tanya Dev dengan wajah yang sudah diliputi rasa ketakutan.
Mama Linda dan juga Papa Bachtiar yang berada Di Sana Menanti Jawaban dokter, sedangkan Bagus dan juga Ayah Rozak sedang menunggu Ibu Siti yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Bayinya berhasil kami selamatkan, tetapi kami harus menindaklanjuti lagi sebab bayi nya sudah meminum air ketuban. Dan untuk ibu Dea sendiri keadaannya saat ini masih belum ngelewati masa kritisnya," Jawab dokter itu kepada keluarga Dev.
Mendengar itu air matanya Dev kembali mengalir, apalagi saat mendengar kondisi istrinya. "Dok, apa boleh saya
menemui istri saya?" Pinta Dev pada dokter.
"Boleh Pak, silakan masuk," Ucap dokter itu mempersilahkan Dev masuk.
Dev melangkah masuk ke dalam ruangan UGD dengan langkah yang terasa berat. Dia mendekati sang istri yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Dadanya terasa sesak,.air matanya terus mengalir bahkan langkahnya terasa lemas dan bergetar. Saat Dev sampai di dekat Dea, dia langsung memeluk sang istri dan menangis di dalam pelukan istrinya yang sudah terbujur lemah tak berdaya. Hanya ada suara monitor yang menandakan jika detak jantung Dea masih ada.
"Sayang kapan kamu bangun? Kamu kan janji tadi kalau kita akan menghias kamar anak kita! Terus kenapa kamu malah tidur di sini?" Ucap Dev dengan suara bergetar sambil mencium pipi Dea.
"Anak kita sudah lahir sayang! Anak kita sudah melihat dunia ini, dia pasti ingin sekali dipeluk sama kamu? Dia pasti ingin merasakan dekapan hangat kamu sayang. Jadi kamu harus bangun, kamu harus kuat. Aku yakin kamu mampu untuk melewatinya," Ujar Dev sambil nangis sesegukan.
Dia melihat wajah mungil itu, begitu cantik dan menggemaskan. Lagi lagi air matanya terus mengalir deras saat membayangkan betapa mirisnya Putri dia, saat lahir ke dunia dalam keadaan sang Ibu tengah terbujur lemah tak berdaya di atas ranjang pasien.
"Nak, doakan Bunda kamu ya! Supaya dia cepat sadar, dan Bunda bisa berkumpul dengan kita," Ucap Dev sambil mengusap kaca inkubator itu.
"Maaf Pak, biarkan pasien untuk beristirahat. Bapak sebaiknya keluar dulu!" Titah suster kepada Dev, dengan langkah yang berat Dev pun meninggalkan ruangan di mana anak dan istrinya terbaring.
"Bagaimana Dev? Bagaimana keadaan Dea dan anaknya?" Tanya Mama Linda dengan penasaran, di sana juga sudah ada Ibu Siti dan juga Ayah Rozak beserta Bagus.
Dev menggeleng lemah, dia tidak bisa mengatakan apapun. Dan itu cukup mewakilkan jawaban apa yang harus Dev katakan kepada mereka.
"Sebaiknya kamu pulang dulu Dev, kamu harus berganti pakaian. Lihat pakaian kamu? Bahkan kotor oleh darah," Ujar Mama Linda, namun Dev menggeleng dengan cepat.
"Tidak Ma! Aku tidak ingin meninggalkan Dea walau sedetik pun," Jawab Dev sambil duduk dengan kepala menunduk, semua yang ada di sana begitu terharu mendengar ucapan Dev, kemudian Ayah Rojak berjalan mendekat ke arah Dev.
"Pulanglah dulu! Ayah, Ibu dan juga Bagus akan menjaga Dea. Kamu harus bersihkan badanmu dulu, setelah itu kembali lagi ke sini. Tenang saja kami ada di sini untuk Dea," Ucap Ayah Rojak sambil mengusap bahu kekar Dev.
Dev menggeleng dengan cepat. "Tidak Yah! Aku ingin di sini menemani Dea," Tolak Dev dengan keras, semua mengerti dengan perasaan Dev saat ini. Akhirnya Mama Linda pulang diantar oleh Papa Bachtiar, sedangkan Dev, Bagus dan juga Ayah Rozak masih di rumah sakit. Bu Siti juga pulang ke rumah sebab kondisinya juga sangat lemah.
Bersambung........