Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Pulang Kembali


Happy Reading ๐Ÿ˜˜


Setelah menyelesaikan ritual panasnya, Dillon menghentikan aksinya, sedangkan Amber terlihat sangat letih dengan tangan yang masih terikat di tiang.


"Hey Bro, Lo jadi nggak?" Tanya Dilon sambil memakai celananya dan menatap ke arah Hazel.


"Enggak lah! Jijik kali aku bekas dirimu. Mendingan aku cari yang lebih bersih," Ucap Hazel sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Memang sedari tadi, Hazel Hanya duduk di sofa yang ada di pojok ruangan itu, sambil memainkan game ditemani dengan suara-suara lak nat milik Dilon dan juga Amber.


Mereka berdua pun keluar dari kamar itu untuk menuju kamarnya masing-masing. Mereka meninggalkan Amber yang masih kelelahan dan masih polos tanpa sehelai benang pun. Sedangkan di tempat lain, Dev sedang berada di perjalanan menuju kembali ke Jakarta.


Di pikiran Dev saat ini hanya ada Dea, sangat cemas dengan keadaan istrinya. Bahkan dia tidak memikirkan hukuman apa yang sahabatnya berikan kepada


Amber, dia tidak peduli kalaupun wanita itu mati.


'Ya Allah, lindungilah istri dan juga anakku,' batin Dev sambil meremas kedua tangannya. Dia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Dea, apalagi saat ini Dev tidak bisa menghubungi Dea. Sebab Dia masih berada di dalam pesawat.


๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Sementara itu di rumah sakit Dea baru saja siuman dari pingsannya, dia menatap sekeliling dengan badan yang begitu terasa lemas.


"Ma, kenapa aku ada di rumah sakit?" Tanya Dea dengan suara yang lirih pada Mama Linda.


"Kamu tadi pingsan sayang! Kamu kan dari pagi belum makan nasi, terus makanan yang kamu makan juga kan dimuntahin. Jadinya badan kamu lemas, dan tadi saat Mama ke kamar mau nganterin rujak, Mama sudah melihat kamu tergeletak di lantai," Jelas Mama Linda sambil mengusap kepala Dea dengan lembut.


Dea yang mendengar itu kembali mengingat di mana saat dia selesai telponan dengan Dev, dia tiba-tiba saja merasakan pusing yang begitu amat sangat di kepalanya, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


"Iya Ma, Dea merasa pusing sekali, sampai Dea benar-benar tidak bisa menahannya," Keluh Dea sambil memegang kepalanya.


"Lalu, apa sekarang masih sakit" Tanya Mama Linda.


"Keadaan Buk Dea sudah lebih membaik Bu, hanya saja memang Ibu Dea ini pingsan, karena tidak ada asupan makanan. Mungkin karena setiap makanan yang di makan dimuntahin lagi, tapi Walau begitu Bu Dea, tetap harus memakan makanan. Sebab harus ada asupan nutrisi untuk kandungan di dalam perutnya," Jelas dokter itu.


"Baik Dok!" Ucap Mama Linda, setelah itu dokter pun keluar dari ruangan di mana Dea dirawat.


"Sayang kamu makan Ya! Seenggaknya makan buah, kalau emang kamu nggak mau makan nasi," Ujar Mama Linda sambil memegang tangan Dea.


" Iya Mah" Jawab Dea dengan suara yang begitu lemah.


Tepat jam 09.00 malam, saat Dea Tengah tertidur. Dev sampai di rumah sakit dan dia langsung menuju ke ruangan di mana sang istri dirawat.


"Ma, gimana keadaan Dea?" Tanya Dev dengan wajah yang panik, saat masuk ke dalam ruangan itu.


"Loh Dev, Mama kira kamu nggak jadi pulang?" Kaget Mama Linda, sambil menatap sang anak. Dia pikir ucapan Dev hanya bualan semata saat dia mengatakan kalau dia ingin pulang cepat. Tapi tak Mama Linda sangka jika malam itu juga dia pulang.


Dev mendekat ke arah ranjang Dea, lalu mengecup dahi Dea dengan lembut. Setelah itu dia duduk di samping sang istri.


"Sayang, kamu kenapa sih kok sampai pingsan kayak gini? Aku kan jadinya cemas," ucap Dev dengan pelan sambil mencium punggung tangan Dea.


Merasa ada yang menggenggam tangannya, Dea pun membuka matanya secara perlahan, lalu melihat ke arah samping. Hatinya seketika menjadi bahagia, saat melihat Dev ada di sampingnya.


"Mas......" Panggil Dea.


"Kamu kenapa Sayang, kok bisa sampai pingsan?" Tanya Dev sambil mengusap pipi Dea dengan lembut.


"Nggak apa-apa Mas, aku hanya pusing aja. Mungkin karena aku nggak ada masuk nasi sama sekali, dan juga kebanyakan muntah," Jelas Dea dengan lirih.


Dev yang mendengar itu lalu mengambil buah jeruk yang ada di sampingnya, lalu dia mengupas buah itu dan menyuapi Dea.


Bersambung......