Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Ini Bukan Mimpi


Happy reading.......


Pagi hari telah tiba di mana kebahagiaan yang Dev rasakan tadi malam seakan seperti sebuah mimpi yang begitu dia nanti, setelah salat subuh Dev membangunkan Dea. Dia memegang tangannya lalu mengecup kening Dea dengan lembut.


"Sayang, bangun sayang. Ini udah Subuh, kamu mau salat?" Tanya Dev pada Dea, namun tidak ada reaksi dari Dea, hanya diam saja.


Melihat itu Dev tersenyum, kemudian dia kembali menepuk pelan pipi istrinya sambil mencium tangannya. "Sayang, ini sudah subuh! Kamu salat dulu yuk! Nanti aku beliin kamu sarapan, aku suapin kamu," Ucap Dev, tapi lagi-lagi Dea hanya diam.


Dev yang melihat itu tentu saja mengerutkan dahinya, dia menatap istrinya dengan lekat. "Sayang, masa kamu tidur lagi?" Dev mulai ketakutan. "Sayang...!" Panggil Dev sambil menepuk pipinya Dea.


Entah kenapa hati Dev kembali ketakutan dia takut jika Dea tertidur lagi. "Sayang...!" Panggil Dev sambil menggoyang pelan bahu Dea, tapi tetap tidak ada reaksi dari Dea. Dia kemudian menampar wajahnya, dia berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Tetapi itu sangat sakit dan ternyata dia tidak sedang bermimpi.


"Enggak! enggak mungkin! Kamu itu udah bangun semalam, sayang. Masa kamu tidur lagi sih?" Dev kembali menangis, entah kenapa hatinya saat ini kembali sesak. Bahkan lebih sesak dari sebelumnya, lebih hancur dari sebelumnya. "Apa aku semalam bermimpi?" Gumam Dev.


"Sayang, katakan sama aku semalam itu bukan mimpi kan? Semalam itu kenyataan kan? Kamu itu semalam sudah sadar, dan kenapa sekarang kamu tidur lagi? Kamu lagi bercanda kan Sayang? Ayo dong, bangun sayang...!" Dev terus memanggil Dea dan mengguncang tangan istrinya, tetapi sama sekali tidak membuat Dea bergerak.


Tubuh Dev seketika luruh ke lantai, dia menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan Dea. "Ya Allah, aku fikir istriku telah sadar semalam. Ternyata aku bermimpi." Dev menangis tersedu-sedu di bawah ranjang pasien.


Dia pikir jika semalam itu adalah sebuah kenyataan yang begitu indah, yang selama 3 bulan ini dia nantikan. Tetapi ternyata dia salah. Itu hanyalah sebuah mimpi yang membuat hati Dev senang sekaligus juga sedih.


Dev merasa diangkat ke atas, setelah itu dihempaskan dengan kuat sampai ke dasar bumi. Hancurnya benar-benar tidak bisa digambarkan, betapa hancur, Betapa sakit dan betapa sesaknya dada Dev saat ini.


Saat Dev tengah menangis, tiba-tiba tangannya digenggam oleh seseorang, dan itu membuat Dev seketika menghentikan tangisannya. Lalu mendongkrak ke atas dan ternyata Dea yang menggenggam tangannya.


"Enggak! Ini pasti sebuah mimpi lagi? Kenapa ya Allah? Apa aku terlalu merindukan Dea, sampai-sampai aku harus berhalusinasi Jika dia telah sadar?"


"Mas...!" Panggil Dea dengan suara yang lirih.


Dev yang mendengar itu seketika membulatkan matanya, dia berdiri lalu menatap dia yang sedang menatap ke arah langit-langit kamar. "Sayang, jadi bener kamu udah sadar? Semalam itu bukan mimpi kan? Aku tidak sedang bermimpi kan? Nggak, ini pasti mimpi," ucap Dev sambil mencubit tangannya dan kembali menampar wajahnya. Tapi kali ini benar-benar sakit.


"Alhamdulillah, ya Allah...!" Senangnya Dev sambil mencium wajah Dea berkali-kali. "Aku pikir ini juga sebuah mimpi?" Ucap Dev sambil menyatukan dahinya dengan dahi Dea.


"Mas, kenapa nangis? Mas takut kalau aku tidur lagi?" Tanya Dea sambil mengelus pipi Dev dan menghapus air mata suaminya.


Dea memang sudah sadar sedari semalam, dia sengaja saat Dev tadi memanggilnya dia tidak bereaksi. Dia hanya ingin melihat, bagaimana reaksi Dev saat mengetahui jika dia tertidur kembali. Dan saat dia mendengar suaminya menangis tersedu-sedu, dengan suara yang begitu pilu, hati Dea teriris sekaligus senang.


Dia bahagia jika suaminya begitu mencintainya, dia senang sebab suaminya selama ini menantikan dia untuk kembali. Dia juga tidak menyangka jika selama 3 bulan lah dia tertidur lemah di atas ranjang pasien, dengan alat-alat menempel di tubuhnya hanya untuk membantunya bernafas dan tetap masih hidup.


"Aku nggak akan pergi lagi Mas! Aku nggak akan tidur lagi. Dimana anak kita Mas? Aku selalu mendengar jika kamu selalu membawa anak kita ke sini, dimana dia Mas? Siapa namanya?" Tanya Dea dengan wajah yang begitu sendu.


"Dia aku beri nama sesuai dengan keinginan kamu sayang, sebab anak kita akan menjadi wanita yang solehah, seperti ibunya. Mungkin, nanti sekitar jam 09.00 Mama akan membawanya ke sini. Kamu udah nggak sabar ya pengen ketemu sama Berlian?" Tanya Dev dan langsung dibalas anggukan oleh Dea.


"Iya Mas, aku nggak sabar banget pengen ketemu sama Berlian. Berlian Azzahra, kmutiara yang begitu indah. Aku yakin dia pasti sangat menggemaskan ya Mas! Aku jadi tidak sabar ingin segera mengurusnya," ucap Dea sambil menitikan air mata.


Hatinya begitu sakit dan pilu. Bagaimana tidak! Sebagai seorang ibu, seharusnya dia merawat, membesarkan dan juga memandikan Berlian sedari bayi. Tetapi apa? Bahkan setelah melahirkan, dia tertidur selama 3 bulan, dan dia tidak bisa menggendong dan mengurus Berlian. Bahkan hanya untuk mencium wajah bayi mungil itu saat baru pertama kali melihat dunia.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Bachtiar. Nina sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Bachtiar. Dia membantu para pelayan yang ada di sana karena kebetulan Berlian juga belum terbangun.


"Bu, apa Nina boleh bertanya sesuatu?" Tanya Nina pada Bu Siti, yang sedang mengaduk nasi goreng yang ada di wajan.


"Tentu saja! Ada apa Nak?" Tanya Bu Siti sambil melirik ke arah Nina sejenak.


"Apa Dea punya kembaran Bu?"


Mendengar itu Ibu Siti menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat ke arah Nina. "Tidak! Dea tidak punya kembaran sama sekali. Dia anak ibu satu-satunya. Memangnya ada apa?" Tanya Ibu Siti dengan dahi mengkerut.


Nina pun menceritakan apa yang Hazel ceritakan semalam, dan saat Bu Siti mendengar itu, dia begitu kaget. Tetapi kemudian pikirannya positif thinking. Dia pikir mungkin karena wajah manusia ada 7 yang sama di dunia ini.


"Tapi Bu, semirip-miripnya orang. Tidak mungkin mirip sekali kan? Aku jadi penasaran sama wanita itu? Wanita yang begitu mirip dengan Dea, sampai-sampai Dev salah mengenali dan memeluk wanita itu!" Gumam Nina sambil mengetuk dagunya.


"Yah kalaupun benar, mereka mirip. Tapi anak ibu hanya Dea. Ibu tidak mempunyai anak lain selain dia. Ya sudah, sebaiknya kita siapkan sarapannya yuk! Nanti juga sebentar lagi Berlian akan bangun. Hari ini kan jadwal kita buat ke rumah sakit? Ibu udah nggak sabar ingin sekali melihat tangan Dea bergerak, seperti yang kamu bicarakan pada ibu."


Nina memang sudah membicarakannya kepada Bu Siti soal progress tentang keadaan Dea, sedangkan Dev, belum memberitahu keluarganya jika Dea telah sadar. Dia sengaja melakukan itu untuk memberikan surprise kepada keluarganya, apalagi kepada Ibu Siti ibu kandungnya Dea.


Bersambung. ........