Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Ibu Hamil Itu Perasaanya Sensitif


Happy Reading😘


Dea terus mondar mandir sambil menunggu Dev pulang. Padahal Mama Linda menyuruh Dea untuk duduk.


Tapi Dea tak bisa tenang, tak lama pintu utama terbuka. Dev masuk kerumah dengan wajah yang masih terlihat dingin dan cuek.


Dea mengambil tas kerja Dev lalu mengikuti langkah suaminya ke kamar. Saat sampai di kamar Dev langsung masuk kedalam kamar mandi.


Sebenarnya Dea ingin sekali menangis, hatinya sakit saat melihat suaminya masih mendiamkannya begitu. Tapi Dea harus sabar, dan membicarakan nya dengan baik-baik.


20 menit Dev pun selesai membersihkan diri, dia memakai baju yang sudah Dea siapkan.


"Mas, ini aku bikinin kamu kopi. Biar kamu lebih rilex." Ucap Dea sambil memberikan secangkir kopi.


"Hem, taro saja di meja." Jawab Dev dengan cuek.


Dea menghela nafas nya dengan kasar, lalu meminta Dev untuk duduk di tepi ranjang.


"Mas, duduklah. Ada yang mau Dea bicarakan." Pinta Dea.


Dev awalnya tak mau, tapi melihat wajah sendu Dea, akhirnya Dev pun duduk di samping istrinya.


"Ada apa?" Tanya Dev to the point.


Dea menggenggam tangan suaminya.


"Mas, sebenarnya Mas itu kenapa? Sedari pagi cuek sekali sama aku! Apa aku ada salah sama Mas? Atau Mas ada masalah lain? Jika aku ada salah sama Mas, maka katakan sama aku! Apa dan dimana letak kesalahan aku, agar aku bisa faham. Dan jika Mas punya masalah di kantor, Mas jangan sungkan bicara sama aku Mas! Kita ini suami istri. Suami istri itu tempat berbagi suka dan duka, juga tempat bersandar dan saling berbagi kesedihan." Ucap Dea panjang lebar.


Dev terpaku mendengar ucapan Sang istri. 'Masa kamu gak peka sih sama salah kamu dimana?' Batin Dev dengan heran.


"Nggak ada! Aku hanya lagi gak mau banyak bicara saja." Jawab Dev sambil mengalihkan pandangan nya.


Tes


Air mata Dea tak bisa lagi dia bendung.


"Aku selalu berharap, jika hadirnya aku di sisi kamu menjadi sandaran tempat kamu curhat jika ada masalah. Tapi, mungkin aku yang terlalu berharap. Baiklah, kalau begitu aku turun dulu Mas mau siapkan makanan."


Dea melepaskan genggaman tangan nya lalu keluar dari kamar dengan kepala menunduk. Dia tak mau Dev tahu jika dia sedang menangis.


Setelah menutup pintu, Dea langsung memegang dadanya yang terasa sakit. Kemudian dia menarik nafas agar melegakan sakit dan sesak di dadanya walau itu tak bisa.


"Sabar Dea, ingat kandungan kamu." Ucap Dea sambil mengusap perutnya.


Dea pun turun ke bawah dan menyiapkan makan malam. Dia sudah mencuci wajahnya tadi di wetafel dekat tangga, agar semua tak tahu jika Dea habis menangis.


"Sayang, gimana? Kamu sudah bicara sama Dev?" Tanya Mama Linda saat sampai di meja makan.


"Iya Ma, sudah. Mas Dev hanya kecapean saja, dan ada sedikit masalah di kantor! Mama gak usah khawatir." Ucap Dea sambil mengangguk.


Mama Linda bernafas lega saat mendengar jawaban Dea. Dia pikir jika Dev begitu karena bertengkar dengan Dea.


"Hah, syukurlah. Mama jadi tenang."


Tak lama Papa, Dira dan Arumi datang ke meja makan. Setelah itu Dea pun pamit pada semua orang di meja makan.


"Maaf ya Ma, Pa. Malam ini Dea tak bisa ikut makan malam, perut Dea mual liat makanan." Ucap Dea sambil menutup mulutnya.


"Gak apa apa sayang, Mama faham kok."


"Yasudah, kalau gitu Dea panggil Mas Dev dulu."


Dea memang dari siang mual terus jika melihat makanan berat, tadi juga dia sudah menahan nya saat di meja makan.


Saat akan menaiki tangga, Dea memanggil pelayan yang lewat.


"Iya Nona muda."


"Bi, tolong panggilkan Mas Dev ya untuk makan malam! Saya lelah naik tangga." Pinta Dea.


Pelayan itu mengangguk, lalu naik ke atas memanggil Dev. Sementara itu Dea masuk ke kamar tamu di lantai bawah dan membaringkan tubuhnya di sana.


Lagi lagi air mata nya menetes saat melihat sikap Dev tadi. Perasaan Dea saat ini sangat sensitif dan itu hal yang wajar di rasakan ibu hamil pada umumnya.


Tapi hebatnya Dea, dia bisa menahan ego nya agar tak marah dan berkata ketus atau meninggikan suaranya pada Dev.


Setelah di panggil untuk makan malam, Dev pun turun ke bawah dan menuju meja makan. Tapi dahinya mengkerut saat melihat jika Dea tak ada di sana.


"Dea kemana Ma?" Tanya Dev.


"Loh, tadi kan ke atas manggil kamu buat makan malam! Dia gak bilang sama kamu, kalau dia gak ikut makan malam?" Heran Mama sambil menatap Dev dengan tatapan menyelidik.


Dev menggeleng. "Dia gak bisa makan berat Dev, sedari siang perutnya mual kalau lihat makanan berat." Jelas Mama


Dev terkejut saat mendengar ucapan Sang Mama, hatinya mendadak khawatir pada keadaan Dea. Apalagi kan sekarang Dea lagi mengandung.


"Dev, masalah apapun itu di kantor yang kamu alami. Jangan sampai mendiamkan Dea, dan jangan sampai melukai hatinya. Ingat Dev, dia lagi hamil anak kamu! Kalau sampai Dea banyak pikiran lalu terjadi apa apa sama kandungan nya gimana? Ibu hamil itu sangat sensitif perasaan nya Dev. Jadi sebisa mungkin, kamu sebagai suaminya harus menjaga perasaan Dea." Tutur Mama Linda panjang lebar.


Dev terdiam mendengar ucapan Sang Mama, dia merasa bersalah pada Dea istrinya. Entah kenapa dia sampai melupakan jika Dea tengah mengandung anaknya sekarang.


Bersambung.........