
Happy reading........
Dev Baru saja sampai di rumah, dia langsung berlari ke arah kamar di lantai atas. Bagus yang melihat Dev berlari dengan wajah cemas begitu heran.
"Dev...." Panggil Bagus saat Dev akan menaiki tangga.
"Kak Bagus, di mana Dea Kak? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Dev pada Bagus dengan wajah yang panik. Bagus mengerutkan dahinya dan menatap Adik iparnya itu dengan heran. "Dia sedang di belakang bersama Mama kamu, sedang menanam bunga mawar. Memangnya ada apa?" Tanya Bagus.
"Ah syukurlah! Aku kira dia kenapa-napa." Lega Dev sambil menarik nafas, dia merasa perasaannya begitu plong saat mendengar jika Dea baik-baik saja, tapi tidak di pungkiri jika perasaan was-was dan tidak enak itu masih bersarang di hatinya.
"Memangnya ada apa? Kenapa kamu begitu panik Nak?" Tanya Ibu Siti yang baru saja datang dari dapur. Dev yang mendapat pertanyaan seperti itu menjadi bingung dia tidak mungkin menceritakan bahwa dia mendapat penglihatan dari Arumi jika akan terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Nggak apa-apa Bu, Dev hanya merasakan perasaan tidak enak saja terhadap Dea, takut jika terjadi apa-apa dengan Dea," Ucap Dev.
"Kalau gitu Dev ke taman belakang dulu ya Bu! Dev mau menemui Dea," Pamit Dev tapi Bu Siti menahannya membuat pria tampan itu menatap mertuanya dengan heran.
"Ada apa Bu?" Tanya Dev.
"Dev, entah kenapa perasaan Ibu tidak enak terhadap Dea. Beberapa waktu yang lalu, dia sempat mengatakan hal yang begitu membuat ibu merasa heran. Ucapannya begitu ambigu bagi ibu, hanya saja ibu tidak ingin berpikiran negatif. Dev Ibu mohon jagalah Dea, ibu sangat menyayangi dia. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu padanya!" Ucap ibu sambil mengusap bahu kekar Dev.
"Iya Bu, ibu tenang saja! Dev akan menjaga Dea dengan seluruh jiwa dan raga Dev. Kalau gitu Dev pamit ke belakang dulu ya Bu." Setelah mengatakan itu Dev pun melangkah menuju taman belakang di mana Dea dan Mama Rose baru saja selesai menanam bunga mawar.
"Sayang....." Panggil Dev, Dea menoleh ke belakang dengan tersenyum senang. "Mas kamu sudah pulang!" Tanya Dea sambil mencuci tangannya di keran.
Dev yang melihat itu segera mengambil tangan Dea dan mencucinya. "Nggak usah Mas, biar Dea saja. Dea bisa kok," Tolak Dea namun Dev menggeleng dengan cepat. "Nggak sayang! Biar mas aja, Mas ingin memanjakan kamu," Ujar Dev.
"Mas kok jam segini udah pulang? Ini kan baru jam 10.00?" Tanya dia dengan heran sambil menatap suami tampan nya itu.
"Aku senang kok, Mas pulang cepat."
Setelah membersihkan tangan, Dev mengajak Dea masuk ke dalam kamar dia tidak ingin melihat istrinya kecapean. Setelah itu Dea tidur dengan kepala di atas paha Dev, padahal tidak biasanya Dea seperti itu. Malah kadang Dev yang sering tidur di paha Dea sambil mengelus perutnya.
"Sayang berjanji ya sama aku! Kamu akan baik-baik saja," Ucap Dev sambil mengelus rambut Dea yang sudah tidak memakai hijab.
Dea tersenyum lalu mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Dev. Saat ini Dea hanya ingin menikmati ketampanan dan juga waktu bersama dengan Dev. Entah kenapa dia merasa Jika momen-momen seperti ini tidak akan pernah dia rasakan lagi. Jadi dia hanya ingin menghabiskan waktu yang tersisa untuk suaminya dan juga keluarganya.
Dea pun tidak tahu perasaan apa itu? Hanya saja dia sadar sebagai manusia pasti dia tidak akan kekal dan abadi, dia tidak akan tahu ajalnya kapan akan datang. Tetapi dia hanya ingin menghabiskan waktu-waktu manis bersama suami dan juga keluarganya.
"Jika anak kita perempuan, mau kamu kasih nama siapa sayang?" Tanya Dea sambil mengusap rahang tegas Dev.
"Kalau aku terserah kamu! Nanti kamu mau kasih nama siapa kalau perempuan? Tapi kalau laki-laki aku ya," Ujar Dev sambil mencubit hidung Dea.
"Kalau perempuan, mau aku kasih nama Berlian Azzahra, bagus nggak Mas?"
"Bagus sayang, terus kalau laki-laki aku akan kasih dia dengan nama, Arjuna Nugroho Bachtiar gimana?"
"Kalau cowok aku terserah kamu, karena aku yakin nama yang kamu berikan itu memiliki arti yang begitu tinggi."
Dev dan Dea pun larut dalam obrolan tentang kelahiran anak mereka nanti, hingga tidak terasa Dea tertidur di paha Dev. Melihat istrinya tertidur Dev mengecup kening Dea dengan lembut. Dia berharap jika penglihatan Arumi tidak akan pernah terjadi pada Dea.
Bersambung........