Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Selingkuh


Happy reading........


"Mas.......!" Teriak Nina dengan wajah yang sudah memerah, menahan emosi dan juga tangis.


Fahri yang sedang bergerak di atas tubuh seorang wanita, pun menghentikan aksinya. Dia kaget saat Nina berada di belakangnya dan melihatnya dengan tatapan nyalang.


Segera Fahri memakai celananya kembali, begitupun dengan wanita itu, dia membenarkan bajunya kembali. Nina berjalan mendekat ke arah Fahri dengan langkah yang gemetar, tangannya terkepal kuat hingga diangkat dan tepat mengenai pipih Fahri.


Plak


Sebuah tamparan keras melayang dan mendarat dengan mulus di pipi Fahri dengan keras, hingga membuat pria itu memalingkan wajahnya dan merasa perih di bagian pipi kirinya.


"Aku nggak nyangka ya Mas, kamu tega melakukan ini sama aku! Apa salah aku sama kamu Mas?" Tanya Nina sambil menatap tajam ke arah Fahri, lalu bergantian menatap ke arah wanita yang ada di samping Fahri yang sedang tersenyum sinis menatap Nina.


Fahri terdiam, dia masih kaget sebab Nina memergokinya sedang selingkuh. Sementara itu Nina berjalan mendekat ke arah wanita yang ada di samping Fahri, lalu menamparnya bolak-balik.


Plak


Plak


"Berani sekali kamu menampar saya ya!" Bentak wanita itu dengan marah kepada Nina.


Nina yang mendengar itu tentu saja tertawa, bahkan tawanya terdengar begitu miris dan pilu. "Dasar kamu janda tidak punya malu! Seharusnya bukan cuma wajahmu yang ku tampar! Tapi juga tubuhmu ku cincang. Kamu merebut suami saya, dan kamu menggodanya? Di mana otak kamu hah! Apakah lubang mu itu sudah terlalu gatal tidak dimasuki oleh batang kelapa?" Geram Nina sambil kembali menampar wajah wanita itu.


"Nina cukup! Jangan pernah kamu sakiti Resti!" Bentak Fahri kepada Nina.


Bagaikan runtuh dunia Nina saat Fahri membentaknya, dia menatap nyalang laki-laki yang ada di hadapannya. Air matanya sudah deras mengalir membasahi pipi. "Tega kamu Mas! Kamu lebih membela wanita Ini kebandingkan istri kamu? Aku ini istri kamu Mas! istri sah kamu! Dan kamu malah membela dia, yang jelas-jelas wanita ******!" Teriak Nina dengan emosi.


Setelah itu dia pergi meninggalkan Fahri dan juga Resti, dengan sejuta kuka di hatinya. Nina berlari menuju rumah, air matanya bahkan sudah mengalir tanpa dihapus sama sekali. Dia tidak peduli dengan tatapan para pekerja Fahri, yang berada di kebun karet sana.


Nina sampai di rumah dan langsung ambruk di lantai, di depan pintu. Dia menangis tersedu-sedu mengingat bagaimana jahatnya Fahri kepada dia.


"Nina, kamu kenapa?" Tanya Bu Ningsih, saat melihat Nina sedang menangis di depan pintu. Dan tanpa menjawab Nina langsung menghambur memeluk tubuh Bu Ningsih.


"Ada apa Nak? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Tanya Bu Ningsih dengan cemas, Nina hanya menggelengkan kepalanya saja, rasanya untuk berucap saja Nina tidak kuat. Begitu sakit dan terlukanya hati dia saat ini, sehingga hanya untuk berucap saja Nina bahkan tidak sanggup.


Bu Ningsih pun membawa Nina masuk ke dalam rumah, lalu memberikan Nina air putih agar lebih tenang. Setelah itu dia menanyakan kembali apa yang terjadi pada Nina, dan menyebabkan menantunya itu menangis.


"Ada apa Nak? Kenapa kamu menangis?" Tanya Bu Ningsih sambil mengusap kepala Nina.


"Mas Fah-ri Bu...... Mas Fah-ri," Ucap Nina dengan nada terbata-bata.


"Kenapa dengan Fahri Nak? Fahri baik-baik saja kan?" Tanya Bu Ningsih yang mulai khawatir.


"Dia Bu, dia selingkuh dari aku!" Ujar Nina sambil memukul dadanya kembali, karena saat ini Nina merasa dadanya begitu sesak, hingga untuk bernafas saja Dia sangat kesulitan.


Bu Ningsih yang mendengar itu tentu saja sangat terkejut, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, itu tidak mungkin? Fahri nggak mungkin selingkuh Nak! Dia pria yang baik," Ucap Bu Ningsih, tidak percaya dengan ucapan Nina.


"Aku tidak bohong Bu! Tadi aku mengantar makan siang untuk Mas Fahri ke kebun karet, tapi saat di sana Aku tidak menemukan dia. Dan setelah aku mencarinya, ternyata dia lagi bermain gulat bersama wanita lain, dan wanita itu adalah Resti Bu, janda desa di sini, " Jelas Nina dengan wajah yang muram durja.


Bu Ningsih membekap mulutnya, dia seakan tidak percaya dengan ucapan Nina. Tapi melihat dari wajah dan juga reaksi Nina, sebagai perempuan tentu saja Bu Ningsih tahu, jika Nina tidak sedang berbohong.


"Bohong Bu! Yang dia ucapkan tidak benar!" Bantah Fahri yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Setelah Nina memergokinya selingkuh, Fahri pun menyusul Nina pulang. Dan saat dia mendengar Nina mengadu kepada ibunya, Fahri tentu saja tidak tinggal diam. Dia tidak mau jika sampai kebun karet itu dicabut hak miliknya oleh orang tua Fahri.


Bersambung. . ...... .