Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Mencoba Memanasi


Happy reading........


Saat ini Nina, Dea dan juga Mama Linda sedang berada di kamarnya Berlian, mereka sedang mengajak main Berlian. Namun terdengar jika ponsel Nina berbunyi, dia pun segera mengambil ponselnya di saku bajunya, dan saat dilihat ada nomor asing yang tertera tanpa nama.


Nina terlihat ragu untuk mengangkatnya, sebab nomor itu tidak ada di kontak ponsel dia. "Siapa Nin?" Tanya Dea saat melihat wajah sahabatnya itu terlihat bingung.


"Ini De, ada nomor baru nelepon aku, tapi aku ragu untuk mengangkatnya," jawab Nina sambil memasukkan ponsel itu kembali ke dalam saku bajunya.


Ponsel Nina lagi-lagi berdering, hingga membuat Nina menatap Dea dengan heran. "Sudah, angkat saja. Siapa tahu penting," ujar Dea kepada Nina.


Nina pun mengangguk, kemudian menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo assalamualaikum," ucap Nina kepada penelpon yang ada di seberang sana.


"Waalaikumsalam, Nina ini aku Hazel," ucap Hazel kepada Nina lewat telepon.


"Oh, Tuan Hazel. Saya pikir siapa? Jadi tidak saya angkat. Ada apa Tuan?" Tanya Nina.


"Tidak! Aku hanya ingin menanyakan kabar mu bagaimana, kamu tidak sakit kan akibat kejadian semalam?" Tanya Hazel dengan suara yang begitu cemas.


"Alhamdulillah Tuan, saya tidak apa-apa. Saya baik-baik saja kok!" Mendengar itu Hazel merasa lega, perasaannya seketika menjadi plong saat mendengar Nina baik-baik saja.


Sementara itu, Nina pun merasakan aliran hangat di hatinya saat Hazel menanyakan kabarnya. Tetapi Nina segera menampik perasaan itu, dia berpikir dia tidak boleh mempunyai perasaan kepada Hazel, terlebih dari segi latar belakang, dan juga dari segi manapun, mereka jauh sangat berbeda.


"Ya sudah Tuan, kalau gitu saya tutup dulu teleponnya. Soalnya saya lagi jaga Berlian, assalamualaikum...!" Ucap Nina sambil menutup telepon tanpa menunggu jawaban Hazel.


"Ada apa dengan Tuan Hazel?" Tanya Dea, saat Nina kembali duduk di sampingnya.


"Dia cuma menanyakan tentang kabar aku aja. Dia takut kalau aku sakit soal kejadian semalam," jawab Nina sambil mengajak Berlian bermain.


Dea dan Mama Linda tersenyum, lalu melirik satu sama lain. Seakan mereka memberi kode tentang jawaban Nina barusan.


Sebagai sahabat, Dea tentu saja ingin melihat Nina bahagia, dia ikut sakit saat mendengar jika Nina disakiti oleh Fahri, dan dia juga ingin melihat sahabatnya mempunyai rumah tangga yang utuh, suami yang mencintai dia dengan tulus, dan juga penuh cinta dan kasih sayang.


----------------------


"Iya, kayaknha sih aku sudah jatuh cinta pada wanita itu? Tetapi, memang aku sudah mengagumi dia sejak dulu," ucap Hazel pada diri sendiri.


Memang saat Hazel bertemu dengan Nina di acara 7 bulan ya Dea dulu, dia sempat kagum dengan sosok Nina. Tetapi Hazel tidak menyadari itu, karena dia melihat jika Nina sudah bersuami.


Dia kagum dengan kepribadian Nina, yang sama seperti Dea. Sederhana, anggun dan menawan. Tidak gampang untuk berdekatan dengan pria lain.


"Sepertinya aku harus gerak cepat. Kalau tidak, nanti Nina keburu diambil orang lain! Apalagi kalau sampai Dillon tahu kalau Nina sudah janda. Wah, bisa diambil buaya buntung itu?" Gerutu Hazel sambil memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nina.


Dia tidak mau terburu-buru, pasalnya dia tidak ingin ditolak oleh Nina. Jadi dia ingin membuat sebuah kesan yang romantis, dan tidak mau ditolak oleh Nina. Setelah itu Hazel pun mengerjakan pekerjaannya kembali. Tapi sebelumnya, dia mengirim pesan kepada asistennya untuk menyiapkan acara untuk besok malam.


Dia akan langsung melamar Nina, baru setelah Nina menerimanya dia akan memperkenalkan Nina kepada Mama dan juga Papanya. Tetapi Hazel juga harus mempersiapkan Mental, dia harus meyakinkan kedua orang tuanya dengan status Nina saat ini. Karena bagi Hazel, tidak ada masalah dengan status Nina. Toh, statusnya itu hanyalah sebuah 'status', yang dilihat adalah kepribadiannya dan juga akhlaknya.


Sementara itu, Tante Eriska baru saja selesai arisan di rumah temannya. Dia pun pergi ke cafe dulu untuk makan siang, sekaligus untuk merefreshkan otaknya. Namun siapa sangka,.jika di cafe tersebut dia bertemu dengan temannya Hazel yang ternyata adalah Monica.


"Tante apa kabar?" Tanya Monica sambil mengecup pipi kiri, dan kanan tante Eriska.


"Kabar baik Sayang, kamu gimana kabarnya? Baik kan?" Tanya Tante Eriska sambil memegang tangannya Monica.


"Alhamdulillah Tante, Monica baik-baik saja." Setelah itu mereka pun duduk dan mengobrol bersama, namun di tengah obrolan Monica teringat dengan kejadian semalam, dan dia pun menanyakan kepada Tante Eriska untuk mencari tahu siapa wanita yang bersama Hazel semalam di pesta Olive.


"Tante, Monica boleh nanya sesuatu nggak?" Tanya Monica kepada tante Eriska.


"Boleh, mau nanya apa?"


"Hazel itu lagi deket sama siapa sih Tante? Semalam dia datang ke pesta ulang tahunnya Olive, terus dia bersama dengan wanita kampung. Aku sih nggak tahu siapa wanita itu, Tante. Tapi pakaiannya begitu norak, dan kampungan banget. Masa iya sih, Hazel nyari perempuan begitu rendahnya? Apa kata Para investor sama rekan bisnisnya nanti, kalau pakaian cewek yang bersama Hazel itu terlalu kampungan?"


Monica sengaja berujar seperti itu, agar membuat tante Eriska merasa ilfil kepada Nina, dan tidak menyukai Nina. Dia ingin membuat tante Eriska membenci Nina, dan merestui hubungan dia dengan Hazel.


'Aku akan membuat kamu, tidak disukai oleh tante Eriska cewek kampung!Hazel hanyalah milikku, dan akan tetap menjadi milikku! Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan Hazel, dan tidak akan pernah bisa memiliki Hazel,' batin Monica sambil menyeringai.


Bersambung. . .........