Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Apa Mas Sudah Mencintaiku?


Happy Reading ๐Ÿ˜˜


Saat Lala akan melangkah menuju pintu tiba tiba Alvin memeluk tubuh nya dari belakang, membuat gadis itu tersentak kaget dengan perlakuan Tuan nya itu.


"Lepaskan saya Tuan." Pinta Lala dengan mata yang mulai berembun.


Alvin menggeleng pelan dan hanya diam tak menjawab. Dan itu membuat Lala menjadi kesal, lalu menghentak kasar tangan Al.


Lala menatap Al dengan tajam, air mata nya bahkan sudah menetes padahal sekuat tenaga Lala sudah menahan nya.


Al panik saat melihat air mata Lala.


"La, kamu kenapa menangis?" Panik Al sambil mencoba menghapus air mata di pipi Lala, tapi gerakan itu harus terhenti saat Lala menampar pipi Al.


Plak


Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Al, hingga membuat pipinya merah karena tamparan itu.


Al menatap Lala dengan bingung sambil memegangi pipi nya yang terasa sedikit panas.


"Tuan ini maunya apa? Kenapa Tuan selalu mencium saya! Saya ini hanya orang biasa Tuan. Tapi bukan berarti Tuan bisa mencuri ciuman pertama saya terus menerus. Saya gak mau di sebut sebagai pembantu tak tahu malu! Kenapa Tuan melakukan itu? Kenapa Tuan? Saya berharap ciuman itu saya berikan pada kekasih atau suami saya. Tapi Tuan sudah mencurinya, Tuan sudah mencurinya Tuan!" Ucap Lala dengan terisak sambil mengusap kasar air mata nya.


Al merasa tak tega sekaligus bersalah dengan apa yang dia dengar dan lakukan pada Lala.


Alvin pun tak tahu kenapa ia bisa kelepasan, padahal ia sama sekali tak berniat seperti itu.


Tapi setelah merasakan manisnya bibir Lala, membuat Al malah ketagihan. Dan setiap melihat bibir mungil Lala, membuat Al seperti hilang kendali.


Hap


Al langsung memeluk tubuh Lala. Lala yang di peluk pun berusaha berontak, tapi Al tak membiarkan itu, dia mengunci tubuh Lala sehingga membuat gadis itu tak bisa berontak.


Lala terisak dalam pelukan hangat Alvin.


"Maafkan aku La! Aku pun tak tahu kenapa, aku tak bisa menahan untuk menciumu. Mungkin itu adalah ciuman pertamaku juga, jadi aku...."


Al tak bisa menjelaskan secara gamblang pada Lala, bahwa sebenarnya bibir Lala sangatlah manis.


'Duh Al, Al. Tinggal bilang bibir kamu sangat manis La, sampai membuatku ingin selalu mengh-isapnya dan tak mau melepaskan nya.' Batin Al


Lala terdiam saat mendengar ucapan pria tampan itu.


'Jadi, itu juga ciuman pertama nya?' Batin Lala.


"Lalu buat apa Tuan mencium saya? Jika bukan karena perasaan maka saya mohon Tuan, jangan pernah mencium saya lagi. Dan anggap saja kita tak pernah berciuman." Ucap Lala


Al membeku mendengar ucapan Lala, ada rasa bimbang di dalam hatinya. Dia pun tak tahu kenapa ia ingin selalu mencium Lala.


"Cukup Tuan! Sekarang kita jaga jarak saja. Tidak baik jika kita sedekat ini Tuan. Saya tidak mau memberikan ciuman saya tanpa ada rasa cinta sedikitpun, dan saya cukup tahu diri dengan posisi saya. Anggap saja itu bonus, karena Tuan sudah pernah menolong Papa Saya." Ujar Lala lalu melepaskan pelukan Al.


Setelah itu Lala pun keluar dari kamar Al, dan langsung menuju lantai bawah.


Al memegang dadanya, dia seperti merasakan sebuah rasa yang perih saat Lala mengatakan hal tadi.


Entah kenapa Al merasa tak rela jika harus menjaga jarak dengan gadis itu. Tapi pikiran Al segera bertolak.


'Nggak Al, yang dia katakan benar Al. Kalian gak sepatutnya melakukan itu tanpa ada rasa sedikitpun.' Batin Al.


๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Dev hari ini tak masuk ke kantor, sebab badan nya masih lemas. Ia dari pagi di rawat total oleh Dea dengan telaten.


Seperti siang ini, Dea sedang menyuapinya buah salak sambil menonton sebuah film drakor romantis.


"Bagaimana perutnya Mas? Apa sudah lebih baik?" Tanya Dea


"Iya sayang, sudah jauh lebih baik." Jawab Dev sambil merebahkan kepala nya di pangkuan Dea.


"Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


Dea mengusap rambut Dev dan memijatnya dengan pelan.


"Tanya apa sayang?"


"Apa Mas sudah mencintai aku?"


Dev membuka mata nya lalu menatap mata coklat Dea dengan lekat.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Memangnya kenapa Mas? Apa pertanyaan Dea salah?"


"Tidak, tidak sama sekali. Lalu, menurut kamu aku sudah cinta apa belum?"


Bukannya menjawab, Dev malah membalikan pertanyaan nya kembali.


"Loh, kok nanya Dea sih? Kan Dea nanya Mas, apa sudah cinta apa belum? Kok malah suruh Dea nebak, ya mana dea tahu Mas. Kan yang punya hati Mas. Kalau Dea mah berharap Mas sudah mencintai Dea." Ucap Dea dengan bibir cemberut.


Bersambung.....