Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Tidak Boleh Keeluar Tanpa Jilbab


Happy reading............


Jangan lupa like nya ya guys🙏🙃


Hari demi hari dilewati oleh Dea dan juga Dev, yang sedang menikmati liburan mereka. Tiga hari mereka di Jepang, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Jerman untuk liburan dan menikmati masa-masa indah sekaligus bulan madu mereka.


Hingga tidak terasa sudah satu minggu mereka berlibur, kebahagiaan selalu terpancar jelas di wajah Dea. Dia sangat beruntung sebab memiliki suami dan juga anak di dalam hidupnya.


"Sayang..." panggil Dev saat Dea sedang menyusui Berlian di dalam kamar hotel mereka.


"Iya Mas, kenapa?" tanya Dea sambil memukul pelan paha Berlian agar anaknya itu tertidur dengan nyenyak.


"Hari ini, bukannya acara lamarannya Nina ya? Kamu udah telepon dia belum?" tanya Dev pada istrinya sambil mengusap pelan rambut Dea.


"Astagfirullah... Iya Mas, aku lupa. Untung kamu ingetin! Sebentar, aku ambil ponsel dulu."


Dea pun bangkit dari tidurnya dengan perlahan, karena takut membangunkan Berlian. Lalu dia pun mengambil ponsel yang ada di atas nakas dan mencari nomor Nina. Dea melakukan video call dengan Nina, dan berjalan menuju ke balkon hotel karena takut membangunkan Berlian jika berada di dalam kamar.


Saat Dea akan membuka pintu balkon kamarnya, tiba-tiba Dev menghentikan Dea dan menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju Jika Dea keluar dari kamar.


"Loh, kenapa Mas? Aku mau nelpon Nina dulu. Aku tidak mau nelpon di sini, takutnya nanti malah membangunkan Berlian." Dea menatap suaminya dengan tatapan heran.


"Kamu boleh keluar dari kamar, tetapi kamu harus menggunakan hijab! Aku tidak mau seseorang melihat kamu tanpa hijab, dan malah suka sama kamu," ucap Dev dengan nada cemburu.


Dea yang mendengar itu terkekeh kecil, kemudian dia menangkup kedua pipi suaminya dengan gemas. "Memangnya siapa yang akan melihat aku sayang? Kan kita ada di lantai 30? Mana mungkin ada yang melihat kita. Kamu ada-ada aja."


Dev pu melakukan hal yang sama, dia menangkup kedua pipi cantik Dea, lalu dengan gemas Dev mencubit pipi Dea. "Memangnya kamu pikir, hotel ini cuma berdiri satu gedung aja? Kamu nggak lihat, di luaran sana ada gedung yang jaraknya dekat? Siapa yang tahu, jika mereka melihat kamu? Kan bisa terlihat, walaupun jarak jauh."


Dea melebarkan senyumnya, kemudian menatap kedua mata tegas milik Dev dengan tatapan bersalah. "Iya, maaf sayang aku lupa."


Setelah itu Dea pun pergi ke kursi di mana dia menarih jilbabnya. Kemudian Dea memakai jilbab syar'i itu, dan menuju balkon. Sementara itu, Dev tidur di sebelah Berlian untuk menjaga Putri semata wayang mereka, karena takut jika terjatuh dari atas ranjang


"Halo, assalamualaikum," ucap Dea saat sambungan video call tersambung dengan Nina.


"Waalaikumsalam... Wah De, aku kira kamu lupa," ujar Nina di seberang telepon dengan wajah yang begitu bahagia.


"Belum De, acara lamarannya baru akan besok dilakukan. Karena perjalanan mereka sedikit terhambat, di jalanan ada yang kecelakaan lalu lintas dan kemungkinan mereka nyampenya ke sini malam. Jadi mau tidak mau, diundur untuk besok hari saja."


"Begitu, terus gimana ayah ibu kamu? Mereka setuju kan?" Tanya Dea dengan wajah penasaran, dan langsung dibalas anggukan oleh Nina.


"Mereka setuju! Tapi kemarin pas aku pulang, Mas Fahri ada ke rumah. Dia ingin bertemu denganku, tapi aku tidak mau, aku menghindarinya."


"Hah! Kak Fahri? Buat apa lagi dia menemui kamu? Semoga acaranya nanti berjalan lancar ya Nin, dan semoga saja Kak Fahri tidak membuat kekacauan di acara special kamu dan juga Kak Hazel," ucap Dea dengan penuh harap.


"Iya De, aku juga berharap seperti itu. Semoga saja, Mas Fahri tidak membuat ulah di acara ku nanti. Karena jujur De, aku takut sekali. Aku takut, jika dia akan membuat ulah di acara aku besok."


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kita berdoa saja ya. Lagian kan di sana banyak orang? Udah dulu ya Nin, Berlian bangun. Sukses ya untuk acaranya besok, assalamu'alaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Dea mematikan ponselnya setelah Nina menjawab salamnya, kemudian dia masuk ke dalam kamar dan menuju ranjang di mana Berlian menangis.


-------------------------


Nina menaruh ponselnya di atas meja di dekat ranjang, dia menghela nafasnya dengan panjang. Wajahnya terlihat begitu gusar dan takut. Bagaimana tidak, kemarin saat dia pulang, tidak lama Fahri datang saat mendengar kepulangan Nina.


Fahri bahkan nekat masuk ke dalam rumah Nina, tetapi untung ayahnya Nina segera mengusir Fahri dibantu dengan pamannya. Fahri terus saja berteriak ingin bertemu dengan Nina, tetapi Nina tidak mau, karena Nina trauma bahkan sudah muak melihat wajah Fahri.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bersama dengan pria lain, Nina. Aku akan merebut kamu kembali." Kata-kata Fahri masih terngiang jelas di telinga Nina, dan itu membuat Nina sedikit takut jika Fahri akan mengacaukan acaranya besok.


"Ya Allah, semoga saja Mas Fahri tidak nekat dan mengacaukan acaraku besok. Tolong ya Allah, jagalah aku dan lancarkanlah acaraku besok, agar Mas Fahri tidak menggangguku lagi ya Allah, aamiin..."


Nina ingin mengatakan kepada Hazel, tetapi dia takut. Dia takut malah mengganggu Hazel, tetapi Nina juga kepikiran dengan ancaman Fahri.


Bersambung..........


Hoho...... Huru hara akan segera di mulai bestie😁😁