Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Terimakasih Sayang


Happy reading


20 menit sudah Nina berada di kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia juga sudah merasa jika tubuhnya sudah lebih baik, kemudian Nina memakai handuk dan baju yang dia bawa ke kamar mandi. Tak lupa jilbab pun sudah dia pakai, kemudian keluar dari kamar mandi dan melihat jika Hazel sudah berada di sana, dan sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya


"Eh, Abang udah ada di sini!" Kaget Nina dengan wajah malu-malu. "Mau mandi nggak Bang?" Tqnya Nina kalau ada aja.


"Iya aku mandi dulu ya, soalnya gerah banget," ucap Hazel sambil berjalan kamar mandi.


Nina menunduk saat Hazel melewatinya, padahal saat ini jantung Nina benar-benar ingin copot.


Nina menatap ke seluruh ruangan kamar dan melihat begitu banyaknya seserahan yang dibawa oleh Hazel dan juga keluarganya, ada bertumpuk-tumpuk kado di dekat ranjang.


Sebenarnya Nina hanya meminta mas kawin Alfatihah saja kepada Hazel. Tetapi setelah lamaran waktu itu, Hazel dan juga keluarganya sepakat untuk memberikan Nina rumah, uang, dan juga satu set berlian sebagai bonus. Sedangkan al-fatihah tetap menjadi yang utama bagi mas kawin Nina.


*******************


Nina dan Hazel sedang berada di mobil untuk pergi ke kediaman keluarga Hazel, karena mereka akan memulai hidup yang baru di sana. Hazel adalah anak semata wayang, jadi mau tidak mau Nina akan tinggal di sana menemani kedua orang tua Hazel.


"Bang, tadi jadi ngasih mas kawin yang Abang bilang sewaktu lamaran?" Tanya Nina membuka percakapan di dalam mobil.


Hazel yang berada di samping Nina seketika menggenggam tangan istrinya. "Kenapa? Kamu nggak suka aku kasih uang dan juga satu set berlian?" Tanya Hazel sambil memandang wajah cantik istrinya.


Sebenarnya Nina merasa canggung saat Hazel memegang tangannya, tetapi mau bagaimanapun Hazel sudah menjadi suaminya.


"Bukan seperti itu! Hanya saja, apa tidak terlalu berlebihan?"


"Tidak ada yang berlebihan, demi Bidadari Surgaku," ucap Hazel dengan nada yang begitu lembut dan juga manja, membuat Nina seketika menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah merona malu.


Tak lama mobil pun sampai di kediaman orang tua Hazel, lalu Hazel pun menggandeng tangan Nina menuju ke kamar, dimana penyatuan mereka akan dilangsungkan malam ini.


"Apakah kamu capek?" Tanya Hazel saat masuk ke dalam kamar.


Nina sangat terpana dengan penampilan kamar Itu, sebab kamar itu sudah didesain dengan romantis. Benar-benar ala kamar pengantin, membuat wajah Nina seketika menjadi malu.


'Aduh, aku lihat kamarnya aja udah deg-degan banget. Gimana kalau belah durennya?' batin Nina sambil menggigit Bibir bawahnya.


"Sayang, kok kamu nggak jawab pertanyaan aku?" Tanya Hazel kembali.


Hazel memegang kedua bahu Nina, menatap kedua mata Nina dengan tatapan yang dalam. "Abang tanya, apa kamu capek? Kalau kamu capek, Abang tidak akan meminta hak Abang malam ini," ujar Hazel dengan ada yang begitu lembut.


Nina tersenyum mendengar ucapan Hazel, kemudian dia pun menggeleng.


"Itu adalah hak Abang! Nina tidak bisa menolak," jawab Nina dengan nada malu-malu.


Hazel yang mendengar itu Tentu saja sangat senang. Kemudian dia menuntun Nina keranjang, lalu mendudukkan istrinya dengan perlahan. Tapi Hazel bingung dia harus mulai dari mana, sebab dia pun merasa sangat gugup.


Hazel pun mulai membuka jilbab Nina dengan perlahan, sedangkan Nina hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya, saat jilbab itu terlepas. Hazel begitu tercengang melihat wajah cantik istrinya, dengan rambut yang tergerai indah setengah basah karena tadi Nina sempat keramas.


"Abang sangat bahagia, sekarang Abang bisa melihat kamu dan memiliki kamu seutuhnya," ucap Hazel kepada Nina.


Walaupun saat ini jantung keduanya sama-sama berdebar dengan kuat, tetapi Hazel ingin menuntaskannya malam ini. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah Nina, sedangkan Nina hanya memejamkan matanya, membiarkan suaminya menguasai dirinya.


Perlahan namun pasti, bibir keduanya sama-sama terpaut hingga lama-kelamaan ciu-man yang tadinya lembut dan juga pelan, menjadi semakin menuntut. Sehingga Hazel membaringkan tubuh Nina di atas ranjang, dan mulai membuka satu persatu baju Nina.


Melihat keindahan di hadapannya Hazel seketika meneguk ludahnya dengan kasar, apalagi saat ini tubuh Nina benar-benar sudah polos, dan api gairah di dalam diri Hazel semakin bergejolak.


Walaupun itu bukan yang pertama bagi Nina, tetapi tetap saja dia merasa malu saat tubuhnya ditatap liar oleh Hazel. Tapi Nina pasrah, karena itu adalah hak suaminya.


Dan dengan perlahan dan penuh kenikmatan, penyatuan cinta mereka pun malam ini telah tertuntaskan hingga mereka menghabiskan beberapa ronde. Sampai-sampai Nina kewalahan menghadapi permainan Hazel.


Cup


Hazel mencium kening Nina saat permainan mereka selesai. "Makasih ya sayang kamu sudah memberikan kenikmatan dan juga hak aku malam ini," ucap Hazel dengan nafas terengah dan tidur memeluk Nina.


"Sama-sama Bang," jawab Nina dengan mata yang sudah setengah wat, karena dia sudah mengantuk berat.


Wajar saja, karena mereka sampai di kediaman Hazel itu pukul satu dini hari, kemudian bermain sampai jam 03.00 pagi. Apalagi Nina juga kelelahan akibat acara dari pagi, yang membuatnya tak bisa istirahat.


Bersambung........


Maaf kurang bikin panas dingin, soalnya bisa gak lolos kalau terlalu wah🙏 Yang penting si Hazel dah ngerasain buka puasa😄