Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Mencari Fahri


Hepi reading........


Seperti biasa Dev saat ini tengah mengelap tubuh Dea, dia selalu melakukan itu setiap hari, mengurus istrinya yang masih tidak membuka matanya sampai saat ini.


Perhatian dan juga kesetiaan Dev, membuat semua keluarga Dea terharu. Mereka tidak menyangka jika Dev begitu mencintai Dea, sampai-sampai tidak meninggalkan istrinya walau 1 menit pun, kecuali untuk mandi.


"Sayang, kamu kan udah mandi. Udah cantik, harusnya kamu bangun dong! Kamu tahu nggak? Aku tuh kangen banget sama senyum kamu. Sama muka cemberut kamu,.sama cerewet nya kamu. Aku benar-benar merindukan masa-masa itu? Apalagi saat kamu menyuruh aku untuk segera sholat, saat subuh. Kamu tahu kan bagaimana susahnya aku dibangunin kalau subuh? Dan kamu begitu sabar membangunkan aku," Ucap Dev sambil mencium tangan Dea.


Tiada hari tanpa Dev mengajak bicara Dea, sebab kata dokter orang koma itu harus diajak bicara agar ingatkan nya tersambung, dan dia cepat sadar. Dan Dev selalu melakukan itu setiap waktu tanpa berhenti. Dave berharap jika usahanya tidak sia-sia dan akan membuahkan hasil.


"Sayang, Lihatlah anak kita. Dia begitu cantik dan menawan seperti kamu! Hidung mancung, mata yang lentik, bibir yang mungil, tapi sepertinya dia mirip denganku. Hanya saja, beberapa tempatnya memiliki kemiripan dengan kamu," Ucap Dev sambil mengelus tangan Dea dan melihat ke arah box bayi di sampingnya.


"Apa kamu tidak mau, dengan tangan ini kamu menggendong Berlian? Dan dengan tangan ini, kamu memandikannya. Bangunlah sayang, kami di sini menunggu kamu. Aku akan selalu ada di sisi kamu, sampai kamu membuka mata. Dan kupastikan orang yang pertama kali kamu lihat saat membuka mata nanti,.adalah aku," Ujar Dev sambil menatap wajah pucat Dea, dan menangis menitikan air mata.


--------------------


Tidak terasa satu bulan sudah Dea terbujur lemah di atas ranjang pasien, bahkan alat-alat rumah sakit masih terpasang di badan dia. Selama ini Dev dan keluarganya beserta keluarga Dea, sudah berusaha untuk membuat Dea bangun dengan berbagai cara.


Bahkan, Bu Siti ibunya Dea tidak pulang kampung. Dia terus menemani Dea di sana, berharap bahwa putrinya akan bangun.


"Apa tidak bisa kau yang menghandle nya dulu?" Tanya Dev ke pada Al, saat Al datang ke rumah sakit membawa berkas untuk meeting.


"Maaf Dev, tapi klien kita yang dari Singapura itu, inginnya dia meeting bersama kamu secara langsung," Ucap Al sambil menatap ke arah Dev.


Mendengar itu, Dev mendesah dengan kasar. "Baiklah, aku akan handle meeting kali ini," Jawab Dev.


"Ma, Buk, aku titip Dea dan Berlian sebentar ya! Aku ada meeting, nanti setelah selesai aku akan langsung pulang kesini secepatnya," Ucap Dev berpamitan kepada Mama linda dan juga Bu Siti.


"Iya Dev, kamu hati-hati. Ingat bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut," Ujar Mama Linda mengingatkan sang anak.


--------------------------


Setelah semua siap, Nina pun berjalan ke belakang rumahnya untuk menuju kebun karet. Kebetulan kebun karet itu hanya butuh waktu 15 menit, untuk sampai di sana. Dan tidak bisa dilalui oleh motor, sebab hanya Jalan setapak dan naik turun.


Saat Nina sampai di sana, dia duduk sebentar di bawah pohon. Dia menatap ke sekeliling tetapi tidak menemukan Fahri. "Dimana ya Mas Fahri?" Gumam Nina sambil meneliaik keseluruh hutan yang ada di sana.


Nina menaruh rantang makan siangnya, lalu dia berjalan mencari Fahri. Nina bertemu dengan salah satu pekerja Fahri yang ada di kebun karet sana, dan sedang menyadap karet.


"Pak, lihat Mas Fahri nggak?" Tanya Nina pada bapak-bapak yang berusia 50 tahun itu.


"Oh, Den Fahri. Tadi Den Fahri kesebelah sana Neng. Mungkin ngecek pohon karet yang ada di sana," Jawab bapak-bapak 50 tahun itu yang bernama Pak Handoko.


"Begitu ya Pak! Terima kasih ya," Ucap Nina sambil berjalan meninggalkan Pak Handoko, dan berjalan ke arah barat di mana Pak Handoko tadi mengatakan jika Fahri ada di sana.


Nina menyusuri Jalan setapak, sebab pohon karet itu luasnya 2 hektar. Dan di aana hanya ada 7 pekerja. Setelah mencari ke sana ke sini, Nina tidak menemukan Fahri, dia pun tidak putus asa walaupun Nina sudah terlihat lelah. Dia terus mencari keberadaan suaminya.


Saat Nina ingin membuka mulutnya, memanggil nama Fahri. Tiba-tiba dia mendengar suara desah-an orang yang sedang melakukan hubungan int-im . Nina mengerutkan keningnya, seketika bulu kuduk dia merinding. Sebab ini di dalam hutan, tetapi terdengar suara desa-han orang yang sedang melakukan hubungan suami istri.


"Siapa yang melakukan itu disini ya? Apa lagi siang bolong kayak gini? Emang mereka nggak takut, ngelakuin itu disini? kalau penunggu sini marah? Iiiiiih.....," Ucap Nina sambil bergidik ngeri.


"Kau sangat nikmat sayang!" Ranca seseorang yang suaranya amat sangat Nina kenal. Dia mempertajam lagi pendengarannya, dan kali ini benar-benar membuat Nina sangat syok.


"Aahhh..... Kau nikmat sekali sayang," Rancau orang itu lagi.


Nina mengepalkan kedua tangannya, dadanya seketika bergemuruh hebat. Dia berjalan mendekat kearah suara, yang dimana seperti magnet bagi Nina menarik dirinya, agar terus mendekat ke arah sana. Semakin dekat, semakin jelas suara itu terdengar. Dada Nina semakin berdebar dengan mata yang sudah ber embun, dia takut apa yang ada di pikirannya benar-benar terjadi.


Saat Nina dekat dengan pohon besar di mana suara itu berasal. Nina mengintip, dan seketika matanya membulat sempurna, dengan satu tangan menutup mulutnya. Lututnya terasa bergetar, badannya terasa lemas, dan dadanya terasa sesak. Bahkan air mata Nina sudah mengalir tidak terhenti.


Bersambung........