
Happy Reading ๐
Al pulang dengan wajah lelah nya, dia masuk kedapur dan mengambil air dingin. Setelah itu dia naik ke atas untuk ke kamar nya.
Saat sampai di dalam kamar, ternyata Lala juga ada di sana.
Lala yang menyadari kehadiran Al segera menundukkan kepala nya. "Maaf Tuan, itu saya sudah siapkan air hangat sesuai perintah Nyonya! Kalau begitu saya pamit, permisi." Ucap Lala dengan nada datar dan melewati Al begitu saja dengan kepala menunduk.
"Tunggu..." Ucap Al saat Lala membuka pintu.
"Iya Tuan! Apa ada yang perlu saya bantu?" Tanya Lala masih dengan kepala menunduk.
"Eum, enggak!"
Lala terlihat sangat heran mendengar ucapan Al.
'Nih orang kenapa sih? Tadi manggil, sekarang bilang enggak?! Sumpah gak jelas banget!' Batin Lala dengan kesal.
Setelah itu Lala keluar tanpa berpamitan pada Al.
'Duh Al, apa yang Lo lakuin sih? Kenapa juga Lo manggil dia? Sebenernya ada apa sama gw? Kenapa gw merasa tak suka saat dia mencampakan gw begitu?' Batin Al
Setelah berperang dengan kebingungan hati dan pikiran nya, Al pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu Lala kembali kedapur dengan wajah kesal, tapi juga sakit. Entah sakit karena apa Lala pun tak tahu.
'Tuhan, kenapa dengan hatiku ini? Kenapa rasanya begitu sakit saat harus menghindarinya?' Batin Lala.
๐น
๐น
๐น
Di kediaman Bachtiar Dea sedang duduk di balkon kamar nya sambil telfonan dengan Nina.
Wajahnya terlihat bahagia saat mendengar jika Nina sudah bisa menaklukan Fahri. Walaupun belum sepenuhnya
Tentu saja, sebagai sahabat Dea ikut senang dengan kemajuan hubungan sahabatnya itu.
"Syukurlah Nin, kalau kamu dan kak Fahri sudah saling bisa menerima. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan, supaya kamu dan kak Fahri menjadi keluarga yang SAMAWA aamiin.." Ucap Dea
"Aamiin.... Makasih Ya De, doanya." Ujar Nina di sebrang sana
Dea menengok ke samping saat Dev duduk di samping nya dan malah menyenderkan kepala di bahu nya.
"Kenapa Mas?" Tanya Dea
"Sayang, aku mau kamu buatin aku kopi, terus bawa ke ruang kerja aku ya!" Pinta Dev.
Dea mengangguk, lalu bangkit dan menuju dapur.
Setelah kopi jadi, Dea segera membawanya ke ruang kerja Dev yang ada di lantai atas di sebelah kamar nya.
"Ini mas kopi nya."
"Iya sayang, taruh aja di situ. Kamu sini!" Ucap Dev sambil menepuk paha nya.
Dea langsung duduk menyamping di pangkuan Dev, tapi dia melihat suaminya kesusahan bekerja akhirnya Dea pun bangkit, tapi Dev malah menahan pinggang nya dan menggelengkan kepala nya.
"Tapi kamu susah dalam bekerja sayang kalau aku duduk di sini."
Dea pun akhirnya duduk menghadap kearah Dev, dia menyandarkan kepala nya dia pundak lebar Dev dengan tangan melingakar di punggung nya.
Dea sampai ketiduran sebab menunggu Dev lama. Dia mau turun pun tak di perbolehkan nya.
Sedangkan Dev merasakan miliknya di bawah piyama sana tengah bangun, walaupun Dea hanya diam saja. Tapi tubuh Dea seperti mempunyai magnet untuk sesuatu itu.
"Aku akan selalu berusaha menjaga kamu sayang! Aku bersyukur sebab Jodohku adalah pilihan Mama. Dan Mama memang tak salah memberiku jodoh seperti dirimu." Ucap Dev dengan lirih sambil mengecup kening Dea.
Setelah kerjaan selesai, Dev menggendong tubuh istrinya itu ke kasur, lalu membaringkan nya dengan perlahan.
Dia juga membuka jilbab instan di kepala Dea.
๐น
๐น
๐น
Lala tak bisa tidur dengan nyenyak, entah kenapa malam ini terasa sangat panas. Padahal kipas sudah ia nyalakan.
Akhirnya Lala keluar kamar dan menuju dapur untuk mengambil air dingin. Setelah itu dia ke samping kolam renang dan duduk di sana.
"Pa, apa Papa bahagia di atas sana? Lala rindu sekali dengan Papa!" Ucap Lala sambil melihat bintang bintang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya suara bariton di belakang Lala.
"Tuan Al." Kaget Lala saat menengok ke belakang dan ternyata itu adalah Al.
"Tuan kenapa belum tidur?" Tanya Lala balik.
"Ck, aku bertanya malah nanya balik?" Decak Al
"Lala gak bisa tidur Tuan, tadi kepanasan. Yasudah, kalau begitu Lala pamit dulu!" Ucap Lala sambil berlalu
Tapi tangan nya di tarik oleh Al hingga Lala yang tak siap akhirnya menabrak dada bidang Al.
Tatapan keduanya kembali terpaku satu sama lain, hingga beberapa saat Lala langsung tersadar.
"Maaf Tuan! Harusnya Tuan jangan narik saya kayak gitu? Nanti kalau saya kecebur gimana? Udah ah, saya mau masuk dulu!" Kesal Lala mencoba mengajak kompromi debaran jantung nya.
Namun lagi lagi Al menarik tangan Lala dan menarik pinggang nya agar menempel pada tubuh nya.
"Tuan lepas, apa yang anda lakukan?" Protes Lala sambil mencoba melepaskan diri.
Tapi pelukan Al di pinggang nya membuat Lala tak bisa melepaskan diri.
"Kenapa kau menghindariku? Apa kau tak sadar hah! Kalau kamu sudah menyakiti aku." Ucap Al
Mata Lala membulat dengan tatapan herannya. Sedangkan yang di tatap hanya menatap balik dengan dalam ke arah Lala
"Tuan, maksud anda apa? Anda pasti sedang ngelindur? Lepaskan Tuan, nanti kalau ada yang emph-"
Bibir Lala kembali di bungkam oleh ciuman hangat nan lembut milik Al. Lala mencoba berontak dengan memukul dada bidang Al, tapi tak berpengaruh.
Akhirnya Al menahan tengkuk Lala agar tak banyak bergerak, dan memperdalan ciuman nya. Kali ini ciuman itu terasa sedikit ganas dan tak selembut biasanya.
bersambung......