
Happy Reading ๐๐
Sesampainya di Mansion Bachtiar, Alvin langsung menuju taman belakang dimana semua sudah berkumpul.
Semua orang tengah duduk bersama sambil bercanda tawa dengan bahagia.
"Hey, kamvret. Lo kemana aja sih? Nyasar ya Lo ke tempat tante girang?" Ledek Dillon saat Al duduk di samping Dev.
"Jalanan macet Mbe."
"Apa Lo bilang? Lo dari tadi namain gw mbe mulu ya! Lo pikir gw kambing?" Ketus Dillon dengan kesal sambil melempar kacang ke arah Al.
Sedangkan semua orang tertawa melihat raut wajah kesal Dillon. Termasuk Dea dan Mama yg sedang memanggang daging barbeque.
"Ya emang Lo itu mirip sama Mbe. 11 12, sama sama berisik kayak Mbe mau brojolin anak nya." Ledek Al sambil meminun juz di hadapan nya
"Dasar Lo batu, es balok, kanebo kering."
"Kok banyak banget sebutan Alvin Lon?" Tanya Mama
"Dia mah paket lengkap Tan, kalau soal urusan kaku mah."
Mata Al mendelik tajam ke arah Dillon, sedangkan yg di tatap hanya tertawa mengejek.
Alvin dan Dillon memang sudah biasa dalam hal ledek meledek. Mereka berdua tak pernah akur jika bertemu.
Tapi walau begitu, mereka itu kawan yg solid. Mereka berteman sejak SMA jadi sudah hafal karakter masing masing.
Jadi setiap ucapan apapun itu tak pernah di ambil hati.
Tak lama daging panggang telah siap, Dea pun mengambilkan buat Dev, sedangkan yg para jomblo mengambil sendiri.
"Enak ya punya pasangan mah? Apa apa di ambilin hiikkss... Aku mah apa atuh, cuma jomblo ngenes." Ucap Dillon sambil bernyanyi.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Dillon. Memang kalau sudah ada ketiga sahabat Dev, maka dimana pun berada pasti akan rame.
"Mangkan nya Lo cari pasangan! Jangan cuma celap celup aja." Ledek Hazel
"Yeee... Kayak Lo laku aja? Lo aja Jones, alias jomblo gak laku!" Ketus Dillon.
"Kamu ini Lon, sampai kapan celap celup mulu? Daripada begitu, mending nikah aja Lon. Ada yg masakin, yg nyiapin baju kerja, yg ngelonin, yg mandiin juga!" Timpal Papa Abraham.
Semua kembali terkekeh. Memang Papa dan Mama nya Dev sudah menganggap ketiga sahabat Dev itu sebagai anak mereka juga.
Jadi mereka sudah seperti keluarga, saling menjaga saling melindungi, menyayangi dan saling bertukar ledekan.
"Yeee, si Papa. Emang nya Dillon aki aki jompo Pa? Masa harus di mandiin juga? Tapi kalau di mandiin plus plus mah, Dillon juga mau...." Cetuk Dillon dengan cengiran nya.
Pletak
Sebuah sendok mendarat mulus di jidat Dillon, dan itu adalah ulah Hazel.
Dillon mengusap jidat nya yg terasa sakit, lalu menatap kesal pada sahabat kamvret kedua nya itu.
"Heh kembaran si kamvret! Lo apa apaan sih main lempar sendok segala? Sakit tahu! Kalau jidat gw benjol, terus ketampanan gw luntur gimana?" Kesal Dillon.
"Biar aja, biar ilang sekalian ketampanan Lo! Biar Lo 11 12 sama kiwil."
"Waaah, asem koe.."
Mama dan Papa sangat terhibur jika sudah ada Dillon dan Hazel. Sebab mereka selalu membuat suasana jadi rame.
"Om berdua ini kayak anj*ng dan kucing? Berantem mulu? Kalau begitu Arumi punya panggilan yang cocok buat Om berdua." Timpal Arumi
"Kalau Om Dillon nama nya Plankton. Kalau Om Hazel nama nya Crabs. Gimana cocok kan?"
Hazel yg tadinya sudah senang seketika menjadi murung. Sedangkan semua mentertawakan panggilan yang Arumi berikan.
"Hahaha... Iya sangat cocok." Timpal Dev.
๐น
๐น
๐น
Pagi ini Dea sudah menyiapkan sarapan roti bakar untuk semua orang, dan juga salad buah untuk Dira.
Dea memang rajin setiap pagi membuat sarapan, sebab itu sudah hal yg biasa dia lakukan saat di kampung.
Sedangkan di tempat lain Lala sudah berada di loby apartemen Alvin. Dia pun menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar Alvin.
"Oh, kamar nya ada di lantai 30 kak nomor 145."
Lala mengangguk lalu menaiki lift menuju lantai 30. Bagi Lala naik turun gedung seperti ini sudah biasa dia lakukan dulu saat Ayah nya masih berjaya.
Setelah sampai di depan kamar, Lala mengetuk pintu kamar Alvin. Tak lama pintu terbuka, dan nampaklah wajah bantal Alvin dengan rambut acak acakan. Tapi itu malah membuat Alvin terlihat sangat tampan.
"Eh, kamu sudah datang! Ayo masuk." Ajak Alvin.
Lala mengangguk lalu ikut masuk kedalam Apartemen Al.
'Sangat rapih.' Batin LalaLala saat melihat isi dalam apartemen Alvin.
"Sekarang kamu kerja sama saya! Bisa kan?" Tanya Al
"Jadi Lala kerja sama Om batu? Waaah, gak papa Om." Jawab Lala dengan senang.
"Jangan panggil saya Om Batu. Saya gak suka!"
Lala langsung menutup mulut nya.
"Maaf Om, hehehe... Lalu apa yg harus Lala kerjakan?"
"Kamu bersihkan apartemen ini, setelah itu kamu boleh pulang. Gajih kamu 4 juta sebulan apa cukup?"
Lala menatap Al dengan wajah berbinar.
"Mau Om! Mau banget!" Ucap Lala dengan semangat.
"Bagus! Kamu bisa masak?"
"Bisa Om. Tapi belum terlalu mahir."
"Begitu! Ya sudah, nanti kamu masak buat sarapan saya! Tapi yang sekira nya enak ya, jangan gak enak kamu masak. Nanti mau pulang jam berapa terserah, asalkan apartemen ini sudah rapih dan bersih." Ucap Al
"Siap Tuan."
Al mengangguk lalu masuk kembali kedalam kamar nya untuk bersiap ke kantor.
Sedangkan Lala mulai mengerjakan pekerjaan nya. Tapi Dia membuat roti bakar dulu untuk sarapan Al nanti.
Bersambung......