
Happy Reading ๐๐
Sepulang dari pernikahan Nina, Dea langsung membersihkan dirinya sebab seharian dia membantu disana sebagai penjaga prasmanan.
Ibu Siti masih di sana membantu ibu ibu lain nya memasak, sedangkan Ayah Rozak masih di sawah untuk menanam cabe.
"Sayang, kok rumah sepi banget? Kak Bagus sama Istri dan anaknya kemana?" Tanya Dev saat seharian tak melihat kakak iparnya di sana.
"Kak Bagus lagi pergi Mas kerumah nya Mbak Lusi. Mungkin 2 hari lagi akan pulang." Jawab Dea sambil menyisir rambut nya.
Dev tiba tiba memeluk istrinya dari belakang, dan mencium aroma bunga rose di tubuh Dea. Dev begitu menyukai aroma tubuh Dea, bagi Dev itu sudah bagaikan candu.
"Mas, kamu udah mandi belum?" Tanya Dea
"Udah, tadi sebelum kamu mandi." Jawab Dev sambil melepaskan pelukan nya.
Tak lama adzan maghrib berkumandang, Dea pun mengajak suaminya untuk shalat berjamaah bersama.
๐น
๐น
๐น
Sudah 2 hari lama nya Papa nya Lala masih belum sadar, walaupun Papa nya Lala sudah melewati masa kritisnya, tapi tetap saja Lala tak bisa tenang sebelum melihat kedua mata Papa nya itu terbuka.
Dan selama dua hari itu juga Lala tak masuk kerja, dia fokus untuk menjaga sang Papa.
"Ini, aku bawakan kamu makan." Ucap Al sambil menaruh makanan di hadapan Lala.
Memang semenjak Lala di rumah sakit, Alvin selalu rajin menemani Lala, bahkan hampir setiap hari Al mengirim makanan untuk Lala. Dia merasa kasihan pada Lala, sebab gadis itu sudah merasakan banyak nya rasa pahit dalam hidupnya.
Lala menatap makanan di atas meja, lalu beralih menatap Alvin, sebenarnya Lala merasa tak enak sebab Alvin tiap hari harus kesana.
"Tuan, sebaiknya anda nanti gak usah kesini lagi." Ucap Lala
Al menatap Lala dengan perasaan bingung. "Kenapa? Apa aku mengganggumu?" Tanya Al dengan tatapan menyipit.
Lala menggeleng cepat. " Tidak Tuan, hanya saja saya merasa tak enak sama Tuan. Tuan kan pulang kerja cape, butuh istirahat. Masa Tuan harus kesini lagi? Saya gak mau merepotkan Tuan! Bukan saya tak tahu berterima kasih, hanya saja saya tak mau semakin berhutang budi pada Tuan." Tutur Lala dengan panjang lebar.
Al membuang nafas nya dengan kasar saat mendengar ucapan Lala. "Aku merasa tidak pernah kau repotkan sama sekali, aku ikhlas melakukan ini semua." Jawab tulus Alvin.
"Maafkan saya Tuan, tapi saya hanya tidak mau jika saya nantinya akan berhu--" Ucapan Lala terpotong saat Al menarauh jari telunjuknya di bibir mungil Lala.
Lala menatap Al, saat jarinya berada di bibir nya. Ada desiran aneh saat kulit mereka bersentuhan, membuat Lala langsung menundukan kepala nya.
"Sudah ku bilang bukan, kalau aku tak merasa di repotkan." Ujar Al
Saat Lala akan menjawab nya, tiba tiba terdengar bunyi yang begitu nyaring dari alat pendeteksi jantung di samping Papa nya.
Seketika Lala menjadi panik dan memanggil Papa nya, sementara itu Alvin memanggil dokter melalui tombol.
"Pa.... Lala di sini Pa. Lala di sini." Ucap Lala sambil menangis, tak lama dokter dan suster datang dan menyuruh Al maupun Lala untuk keluar.
Lala sudah tak bisa lagi membendung air mata nya, perasaan nya seketika menjadi panik dan gelisah. Lala takut jika terjadi sesuatu dengan sang Papa, karena hanya Papa nya lah yang Lala punya saat ini.
Al mencoba menenangkan Lala dengan memegang bahu nya, dia tahu apa yang di rasakan oleh Lala saat ini. Tak lama dokter keluar.
"Dok, bagaimana keadaan Papa saya?" Tanya Lala.
"Maafkan kami Nona, Papa anda sudah di panggil Illahi. Saya turut berdukacita." Jelas dokter tersebut.
Bagaikan di sambar petir di malam hari, Lala menggeleng cepat, dia tak percaya dengan apa yang dokter katakan padanya.
Dengan cepat Lala masuk kedalam ICU dan melihat sang Papa yang sudah di cabut segala alat medis di tubuh nya.
"Papaaa........." Jerit Lala sambil berlari dan memeluk tubuh Papa nya.
"Papa, jangan tinggalkan Lala Pa. Lala mohon Pa, Lala gak punya siapa siapa lagi! Papa bangun.... Papa....." Teriak Lala sambil menggoncang tubuh Papa nya.
Sesak, sakit, sedih, hancur, semua menjadi satu. Lala merasakan jika dunia ini seakan sedang runtuh berkeping keping.
"Lala mau ikut Papa, Lala gak mau di tinggal sendirian, Papa....."
Al merasa tak tega melihat keadaan Lala yang terpuruk. Dia mengusap pundak Lala dan membawa nya dalam pelukan nya.
"Tuan, Papa Lala Tuan...." Isak Lala dalam pelukan Alvin.
Al mengusap rambut Lala, dia membiarkan Lala menangis dalam pelukan nya, dia sangat tahu jika saat ini Lala butuh tempat bersender untuk menangis.
Bersambung......