
Happy wedding
Jangan pelit jempolnya ya🙃
Nina dan Hazel pun telah sampai di kediaman Bachtiar. Saat Nina akan turun dari mobil, Hazel menahan tangan Nina, hingga membuat wanita itu menoleh ke arahnya. "Ada apa Tuan?" Tanya Nina kepada Hazel.
"Tolong jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Hazek saja," pinta Hazel.
Nina nampak berpikir sejenak, tetapi rasanya tidak sopan Jika dia harus memanggil pria tampan itu dengan nama saja. "Maaf, bukannya saya menolak. Tapi rasanya tidak sopan, jika saya hanya memanggil anda dengan sebutan nama saja. Saya panggil Kak Hazel aja bagaimana?"
Bukannya menjawab, Hazel malah terkekeh hingga membuat Nina menautkan kedua alisnya dengan heran. "Jangan kakak, kita kan beda ibu dan bapak? Yang lain saja," pinta Hazel sambil terkekeh kecil.
Nina nampak berpikir, kemudian dia pun menemukan sebuah panggilan yang cocok. "Bagaimana kalau Bang Hazel? Atau Mas Hazel, aku rasa itu cocok."
"Kenapa tidak 'sayang' saja? Aku rasa itu jauh lebih cocok," goda Hazel kepada Nina, dan langsung membuat wajah Nina merona malu.
"Iiah, apaan sih!" Malu Nina sambil memalingkan wajahnya yang merah.
"Baiklah, kamu panggil aku 'Mas' aja, atau tidak 'Abang' saja. 'Bang Hazel' itu menurutku sangat keren dan juga romantis. Kalau 'Mas' aku tidak mau jika disamakan dengan mantan kamu," ujar Hazel kepada Nina.
"Baiklah, kalau gitu Nina masuk dulu ya Bang. Abang hati-hati di jalan," ucap Nina dengan ragu-ragu, setelah itu dia pun keluar dari mobil.
Hazel memejamkan matanya, dia meresapi kata perkata yang keluar dari mulut Nina. Apalagi saat Nina memanggilnya dengan 'Abang', sungguh sangat menyejukkan di hati Hazel. Seperti tersiram oleh air yang bercampur bunga-bunga yang indah.
"Kayaknya gue ini bakalan OTW bucin deh?" Gumam Hazel sambil terkekeh pada diri sendiri.
-----------------------------
Tepat jam 03.00 pagi, Nina sudah shalat sambil mengadu kepada sang pencipta. Dia ingin meminta petunjuk, tentang jawaban apa yang harus dia berikan kepada Hazel. Sebab waktunya hanya tinggal dua hari lagi.
"Ya Allah, berikanlah aku petunjuk, jika memang Bang Hazel itu adalah jodohku, maka berikanlah aku petunjukmu. Tetapi, jika memang dia bukan jodohku, maka jauhkanlah kami ya Allah, aamiin..."
Selesai berdoa dan juga shalat sunnah tahajud, Nina pun melanjutkan membaca Alquran hingga menunggu subuh tiba.
Jam 06.30 pagi sarapan pun sudah tersedia di meja makan, Nina juga sudah membuatkan susu untuk Dea juga salad buah kesukaan Dea, yang sudah dia taruh di kulkas.
"Bi... Bibi kan kepalanya masih sakit, ini biar Nina aja ya yang belanja ke pasar," ucap Nina kepada Bibi Marti, pelayan sekaligus Juru Masak yang ada di kediaman Bachtiar.
Bi marti mengangguk, lalu menyerahkan list belanjaan kepada Nina. Kemudian Nina pun melangkah keluar dari kediaman Bachtiar menuju pasar, diantar oleh sopir dari kediaman Bachtiar.
Saat Nina tengah menatap jalanan, tiba-tiba ponselnya berdering. Dan lagi-lagi itu dari Fahri. Nina mematikan ponselnya, menolak telepon dari Fahri, tetapi panggilan itu terus-menerus, hingga membuat Nina tidak nyaman. Akhirnya dia pun mengangkat teleponnya Fahri.
"Halo, Assalamualaikum. Ada apa ya Mas? Maaf Nina lagi sibuk," ucap Nina tanpa basa-basi.
"Waalaikumsalam, Nin aku tahu mungkin kamu marah sama aku. Tapi please, dengerin dulu penjelasan aku."
"Maaf ya Mas! Saya rasa tidak perlu ada yang lagi yang dijelaskan? Lagi pula, hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada yang perlu dijelaskan, jadi saya tutup dulu ya teleponnya."
"Tunggu Nin, saya tidak akan pernah berhenti menelpon kamu, sebelum kamu mendengarkan saya!" Ancam Fahri.
Nina mendengus dengan kesal. "Sebenarnya ada apa sih? Kenapa Mas ini nelponin aku terus? Hubungan kita kan sudah berakhir," Kesak Nina dengan nada yang mulai meninggi, sampai sopir yang ada di depannya pun menoleh ke arah Nina.
"Nin... Aku tahu aku salah, aku minta maaf! Kamu benar, Resti bukanlah wanita yang baik. Aku menyesal Nin! Tolong kembalilah ke kampung. Aku ingin kita rujuk! Lagi pula, kamu masih dalam masaidah kan? Jadi lebih baik kita rujuk!" Ajak Fahri seenak udel bodong.
Nina menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan pikiran pria itu, padahal dulu yang ngebet bercerai adalah Fahri, karena dia ingin segera bersama dengan Resti.
"Kenapa sekarang Mas mau balikan sama aku? Apa Mas pikir, setelah memecahkan gelas, gelas itu akan utuh kembali? Tidak! Maaf ya Mas, aku sudah menemukan pengganti kamu. Lagi pula aku tidak akan pernah masuk ke dalam lubang yang sama."
Setelah mengatakan itu Nina pun menutup teleponnya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam pikiran Fahri. Dengan mudahnya pria itu mengajak rujuk, padahal dulu dialah yang menyakiti Nina, hingga hancur berkeping-keping. Dan dengan mudahnya pria itu bilang minta maaf, dan ingin mengajak dia untuk rujuk kembali.
Nina bukanlah wanita bodoh yang mau untuk masuk ke dalam jurang yang sama, dia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya. Karena Nina yakin, jika seseorang sudah pernah berkhianat, maka sangat sulit untuk dipercaya, dan oasti orang itu akan berkhianat lagi walaupun itu entah kapan.
Bersambung. ..........
Ngapain Coba, si Fahri ngajak rujuk lagi haduh🤦🏻♀️🤦🏻♀️