Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Wanita Yang Begitu Mirip Dengan Dea


Happy reading......


Sedangkan di kantin, Hazel dan juga Dev sedang duduk sambil meminum kopi. Dev ingat jika dia belum makan malam, dia pun berjalan ke arah penjual nasi padang yang ada di sana. Dan saat Dev berbalik setelah memesan nasi, dia tidak sengaja menabrak tubuh seseorang.


Melihat orang itu akan jatuh, dia langsung menarik pinggang orang itu. Dan seketika mata Dev terpaku saat melihat wajah wanita yang dia tabrak.


"Heh, kalau jalan tuh lihat-lihat apa sih!" kesal wanita yang berada dalam pelukan Dev sambil melepaskan dirinya dari Dev.


Dev masih tidak menjawab, dia masih menatap wanita itu dengan tatapan tidak berkedip sama sekali. Kedua mata Dev seketika berembun, lalu tanpa aba-aba dia langsung memeluk tubuh wanita itu.


"Aku sangat merindukan kamu sayang! Kapan kamu bangun?" Tanya Dev dengan nada sedih.


Wanita yang ada dalam pelukan Dev mengerutkan dahinya, kemudian dia mendorong tubuh Dev lalu menampar wajah Dev dengan keras. "Dasar pria gil*! Enak aja main sayang-sayang? Emang Lo pikir gue pacar lo?" Kesal wanita itu sambil menatap Dev dengan tajam.


Dev terdiam sambil memegangi pipinya. 'Ini bukan mimpi?' batin Dev, tapi seketika dia menatap wanita yang ada di hadapannya itu, lalu melihat wanita itu dari atas sampai bawah.


"Kamu Dea kan? Kamu istri aku kan sayang? Kamu udah bangun?" Ucap Dev pada wanita yang ada di hadapannya itu, namun lagi-lagi wanita itu menampar pipi Dev untuk kedua kalinya.


"Syarafnya hancur nih laki? Habis obat ya Lo? Sebaiknya sana ke RSJ aja! Jangan ke sini salah tempat lo!" Ketus wanita itu sambil pergi meninggalkan Dev, tapi Dev menahan tangan wanita itu.


Hazel yang melihat itu segera menghampiri Dev. "Adda apa Dev?" Tapi seketika ucapan Hazel terhenti, saat melihat wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang benar-benar mirip dengan Dea, hanya saja wanita itu tidak berhijab dan pakaiannya juga sangat tomboy.


"Heh, lepasin tangan gue. Dasar pria gil*!" Geram wanita yang ada di hadapan Dev itu. Hazel yang melihat itu menggelengkan kepalanya, dia segera menarik tangan Dev agar melepaskan wanita itu.


"Bilangin ya, sama temen lo ini, suruh minum obatnya. Enak lo, jangan ngaku-ngaku istri. Kapan gue kawin sama dia!" Gerutu wanita itu sambil berlalu pergi meninggalkan Dev dan Hazel.


"Itu Dea, Zel. Itu Dea...!" Seru Dev sambil menangis saat melihat wanita itu pergi menjauh meninggalkannya.


Hazel tahu apa yang Dev rasakan, dia pun menarik tangan sahabatnya itu lalu kembali duduk di kursi. Setelah itu dia memberikan air putih kepada Dev.


"Tenangkan dirimu Dev. Dia bukan Dea, wajah mereka memang sama, tapi lihatlah! Dia bukan Dea. Deaa mu adalah wanita solehah, tidak setomboy itu? Tapi aku juga heran, kenapa wajahnya begitu mirip dengan istrimu? Atau jangan-jangan istrimu itu punya kembaran?" Tebak Hazel.


Dev hanya diam membisu. Bagaimana dia tadi tidak salah mengenal. Sudah 3 bulan Dea tertidur, bahkan tidak bergerak sama sekali. Dan saat melihat wanita tadi, seketika rindu dia begitu membuncah sampai dia tidak bisa menahan diri untuk memeluk wanita itu.


Hazel mengusap bahu Dev, mencoba menguatkan sahabatnya. "Tenangkan dirimu! Dea masih terbaring di ranjang pasien, dia bukanlah Dea, tetapi orang lain yang wajahnya memang mirip. Kau tahu kan, jika di dunia ini ada 7 wajah yang sama! Ya walaupun aku jujur, aku pun kaget saat melihat wajah wanita tadi, karena sangat-sangat mirip. Mungkin hanya membedakan Dia tomboy, dan wanitamu adalah solehah!" jelas Hazel sambil mengetuk dagunya.


Setelah menghabiskan makan malamnya Dev kembali ke kamar pasien di mana Dea dirawat. Dan saat Hazel dan Dev masuk ke dalam kamar,.Nina sudah menunggu mereka dengan wajah yang bahagia.


"Dev, aku punya kabar bahagia buat kamu!" Nina berkata pada Dev.


"Kabar bahagia apa itu?"


"Tadi tangan Dea bergerak. Dia merespon ucapanku Dev, dan kata dokter ada kemajuan dan kemungkinan besar Dea bisa sadar. Kita harus terus memancing otaknya, agar bereaksi Dev," ujar Nina menjelaskan kejadian yang baru saja dialami.


Mendengar itu Dev sangat bahagia, dia langsung berjalan dan mencium kening Dea. "Sayang, cepatlah bangun. Kenapa kamu tidak pernah merespon ucapanku? Tetapi dengan sahabat kamu, kamu malah bergerak. Kamu pilih kasih! Masa Suami kamu yang bicara, selama ini kamu tertidur? Tapi bagian sahabat kamu yang datang, kamu malah merespon? Apa kamu tidak merindukan suami kamu? Kamu lebih merindukan sahabat kamu dibandingkan aku?" Dengan panjang lebar Dev berkata sambil menitikan air matanya.


Nina tersenyum melihat itu, dia begitu bahagia saat melihat sahabatnya sudah ada kemajuan. Dia juga bahagia saat melihat Dev begitu mencintai Dea. Sebagai seorang sahabat kebahagiaan dia adalah kebahagiaannya juga. Tanpa terasa Nina menangis terisak, dia benar-benar bahagia karena Deaa sebentar lagi akan sadar.


Hazel yang melihat Nina menangis seketika mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya. "Ini..." Ucap Hazel sambil menyerahkan sapu tangan yang dia punya kepada Nina.


"Terima kasih!" Ucap Nina dengan lirih sambil mengambil sapu tangan itu, lalu mengelap air matanya.


"Bagaimana caranya Dea bisa bereaksi dengan ucapanmu? Memangnya apa yang kamu ucapkan?" Tanya Dev dan menatap ke arah Nina.


Mendengar itu Nina tersenyum. "Aku hanya bilang, jika dia tidak sadar-sadar, maka aku akan merebut kamu dan juga Berlian dari dia. Dan ternyata itu berhasil, dia merespon. Dia seakan menolak jika aku akan merebut kalian. Jika seperti ini terus, aku yakin, Dea pasti akan cepat sadar. Asal kita memancing reaksi dari otak Dea, agar syaraf-syarafnya berfungsi kembali."


Mendengar itu Dev tersenyum, lalu menggenggam tangan Dea.


"Kamu dengar Sayang! Jika kamu tidak mau bangun, maka Nina akan merebut aku dan juga Berlian. Emangnya kamu mau kehilangan aku dan juga Berlian? Kamu mau, suami kamu ini direbut sama wanita lain? Apalagi itu sahabat kamu? Kalau kamu masih tertidur seperti ini, maka aku akan bersama dengan Nina! Karena Berlian butuh seorang ibu, tetapi jika kamu memang tidak mau, maka kamu harus bangun! Karena aku selalu menunggu kamu!" Ucap Dev sambil mencium tangan Dea.


Dan ternyata berhasil, Dea lagi-lagi menggerakkan satu jarinya. Tetapi tidak bisa membuka matanya. Dia seakan benar-benar mendengar ucapan Dev. Nina dan juga Hazel yang melihat itu benar-benar bahagia. "Sayang, kamu merespon ucapanku? Masya Allah, senang sekali aku ya Allah! Kamu harus bangun! Kamu harus kuat. Kalau kamu nggak bangun, nanti aku beneran sama Nina."


Setelah itu Nina dan Hazel pun pulang ke rumah, sebab jam juga sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Mereka pamit kepada Dev. Dan Nina juga bilang jika besok dia akan ke sana lagi bersama dengan Berlian.


Bersambung. .........