Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Kebenaran


Happy Reading ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Dea pulang dengan wajah kesal nya. Bagaimana tidak, selama ini tak pernah ada yang menyentuh nya kecuali Bagus dan kedua orang tua nya.


Dea selalu menjaga diri nya dari yang bukan muhrim nya, itu karena ajaran sang ayah.


"De, kamu kenapa? Kok pulang pulang cemberut gitu?" Tanya Susi saat melihat wajah cemberut Dea.


"Gimana aku gak kesel Mbak? Mbak tahu gak? Tadi tuh, anak temen nya Ibu, lancang banget!" Kesal Dea


"Lancang? Lancang kenapa?"


Dea pun menceritakan soal Dev yang begitu berani nya memegang tangan nya.


"Ya sudah, maklum saja! Mungkin dia kurang paham soal begituan." Ucap Susi mencoba meredam kekesalan Dea.


"Itu dia Mbak. Orang kota itu memang begitu! Selalu menyamakan semua wanita?"


Susi pun menyuruh Dea untuk makan siang dulu, agar kesal Dea hilang.


'De, De. Mau dia megang kamu! Atau mencumbu kamu sekalipun. Dia wajib dan halal De. Sebab ia adalah suami kamu!' Batin Susi.


๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Malam ini Dea di panggil oleh Ayah nya untuk membicarakan sesuatu. Walaupun awalnya Dea bingung, tapi dia pun duduk di sebelah sang Ibu.


Dea menatap heran pada semua orang di ruang tamu. Sebab disana juga ada keluarga Dev yang ikut bergabung.


"De, ada yang mau Ayah sampaikan sama kamu!" Ucap Ayah membuka pembicaraan.


"Apa itu Yah?" Jawab Dea dengan penasaran.


Entah kenapa Dea merasakan ketegangan pada Ayah, Ibu dan Kaka nya. Dea seakan merasakan jika akan ada sesuatu yang besar, yang akan dia ketahui.


"Begini Nak! Keluarga nya Dev kan, harus pulang besok. Mereka tak bisa berlama lama di sini, sebab harus pergi ke Bali. Jadi, Ayah mau memberitahu kamu sesuatu, sebelum mereka pulang.


Ayah berharap kamu akan menerima dengan lapang dada. Dan kamu dengarkan dulu penjelasan Ayah." Ucap Ayah Rozak.


Dea menatap Ayah dan ibu nya bergantian. " Ini ada apa sih? Emang hal besar apa yang Ayah mau kasih tahu sama Dea?" Tanya Dea.


Huuuff


Ayah menarik nafas nya dengan panjang. Lalu menatap Dea. Sedangkan Ibu sudah menggenggam tangan putri bungsunya itu.


"Nak, kamu kan selama ini tak pernah dekat dengan laki laki. Kamu juga tak pernah punya kekasih. Mangkan nya Ayah menjodohkan kamu dengan anak teman Ayah.


Nak, sebenar nya kamu..... Kamu sudah jadi seorang istri." Ucap Ayah.


Ayah merasa seperti ada beban yang terlepas di pundaknya saat kata kata itu terucap.


Sedangkan Dea begitu syok dengan ucapan sang Ayah, tapi sedetik kemudian Dea terkekeh.


"Ayah! Ayah jangan bercanda. Gak lucu ih! Masa aku jadi istri? Wong nikah aja belum?" Kekeh Dea.


"Ayah benar Nak. Kamu sudah di nikahi sejak 2 tahun yang lalu." Timpal Ibu sambil menggenggam tangan Dea.


Degh.


Dada Dea berdebar kuat saat Ibu Siti membenarkan ucapan sang Ayah. Dea menatap sang Kakak, tapi Bagus juga mengangguk.


"Tunggu! Ini maksudnya bagaimana? Dea sudah menikah, begitu? Lalu, dimana dan siapa suami Dea? Kenapa Dea gak tahu? Kenapa Ibu, Ayah dan Kaka merahasiakan nya dari Dea?" Tanya Dea dengan bingung. Bahkan air mata nya sudah mengenang di pelupuk mata nya.


Air bening itu siap jatuh, kapan saja Dea berkedip.


"Maafkan Ayah Nak. Bukan kami tak mau memberi tahu kamu! Tapi ini permintaan Mertua kamu. Mereka ingin merahasiakan nya, sampai Suami kamu pulang dari Eropa." Jelas Ayah.


Dia lalu beralih menatap Dev, entah kenapa feeling Dea mengarah pada Dev.


"Lalu, siapa suami Dea?" Tanya Dea dengan air mata yg sudah jatuh.


"Dia ada di hadapan kamu Nak. Dia adalah Devan Bachtiar." Jelas Ibu.


Kepala Dea menggeleng, dia seolah tak menyangka dan tak percaya dengan apa yang dia ketahui sekarang.


Rasanya itu bagaikan mimpi buruk bagi Dea. Dia tak menyangka, jika dia menikah tanpa ada nya lamaran ataupun persetujuan nya.


"Bagaimana aku bisa menikah Yah? Tak ada lamaran. Dan Ayah juga tak menanyakan padaku, apa aku menerima dia atau tidak?" Ucap Dea dengan isak tangis nya.


"Nak, maafkan Ayah, jika Ayah tak memberitahu kamu. Tapi kamu kan sudah jadi seorang istri. Jadi, kamu harus menerima Dev sebagai suami kamu!" Ucap Ayah.


"Satu pertanyaan Dea, Yah. Kenapa Ayah menyembunyikan pernikahan Dea?"


Dea mencoba menekan rasa marah, kecewa dan sakit menjadi satu dalam hati nya.


"Sayang, ini bukan salah Ayah apa Ibu kamu? Ini salah Mama dan Papa. Kami meminta pernikahan kalian di rahasiakan dahulu, sebab Mama ingin mengikat Dev dalam sebuah ikatan pernikahan.


Kami memang sudah menjodohkan kalian sejak bayi. Dev itu sangat susah membuka hatinya untuk wanita manapun. Mama dan Papa sudah menjodohkan Dev, dengan wanita manapun.


Tapi Dev selalu menolak nya. Tapi Mama melihat jika Kamu adalah gadis yang baik. Terlepas dari itu! Kamu memang menantu idaman Mama.


Mama harap, kamu dan Dev bisa saling melengkapi satu sama lain." Ucap Mama Linda sambil memeluk tubuh Dea.


Dea hanya diam saat mendengar penjelasan mertua nya. Dea tak yakin jika ia dan Dev mampu bertahan.


Sebab pernikahan mereka bukan di dasari dengan rasa cinta.


"Nak, Ayah tahu kamu kecewa. Tapi, Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Dan cinta akan tumbuh karena saling menghargai." Ucap Ayah.


"Dev, kamu juga harus bisa buka hati kamu buat Dea." Ucap Papa Abraham sambil menepuk pundak Dev.


"Dea masih butuh waktu, untuk menerima kenyataan ini Yah." Ucap lirih Dea.


Setelah itu dia pun pamit kedalam kamar. Dea butuh waktu sendiri, menerima kenyataan yang sama sekali tak pernah ia pikirkan sebelum nya.


'Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti itu? Bukan aku tak bersyukur ya Allah. Tapi, aku merasa jika dia tak menyukai bahkan mencintai ku?


Ya Allah, jika ini jalan jodohku dari mu! Maka aku mohon, lapangkanlah dada ini untuk menerima nya. Menerima pernikahan ini. Tumbuhkanlah cinta, kasih dan sayang dalam rumah tangga kami ya Allah.' Batin Dea


Tok


Tok


Tok


"Dea, boleh Ibu masuk?" Tanya Ibu di luar kamar Dea.


Kemudian Dea menghapus air mata nya.


"Iya Buk. Masuk saja!"


Kriieet


Pintu terbuka, lalu Ibu masuk dan langsung memeluk tubuh Dea. Dia paham apa yg Dea rasakan saat ini.


"Maafkan Ayah dan Ibu Nak! Harusnya kami memberitahu kamu! Tapi kami sudah berjanji pada Mertua kamu, agar tak memberitahu kamu dulu."


"Kapan aku di nikahi? Dimana?"


"Di Eropa Nak. Lewat ponsel." Ucap Ibu


Dea menghela nafas nya dengan kasar. Lalu dia mencoba menerima kenyataan. Kenyataan dimana ia sudah bergelar istri sejak 2 tahun yang lalu.


Bersambung........