Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Kamu Jadi Babysitter Berlian


Happy reading......


Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan juga melelahkan, Nina pun sampai di kota. Dia menaiki taksi menuju alamat dimana rumah Mama Linda berada. Setelah sampai disana, dia disambut oleh Ibu Siti yang masih berada di kota.


Ibu Siti memang tidak pulang ke kampung. Sebab Ayah Rozak memintanya untuk tetap Stay di Jakarta, untuk menemani Dea. Sedangkan Bagus berada di kampung, dan sesekali Ayah Rozak juga pergi ke kota untuk menengok keadaan putrinya.


"Kamu pasti lelah, kamu mandi dulu ya! Ibu sudah siapkan makanan tadi," ucap Bu Siti sambil mengusap bahu Nina.


"Iya Bu, terima kasih," ucap Nina, lalu Nina pun masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Ibu Siti.


Semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam. Dan sekarang ada Nina juga di sana, sementara itu Dev masih berada di rumah sakit.


Nina mencium tangan Mama Linda dan juga Papa Bachtiar bergantian, setelah itu dia melihat ke arah seorang bayi kecil dan gemuk yang sudah berusia 3 bulan.


"Apa ini anaknya Dea tante?" Tanya Nina sambil mengusap pipi bayi mungil itu, yang sangat menggemaskan di mata Nina.


"Iya nak, dia adalah Berlian, putrinya Dea. Jika malam Berlian akan di sini, tetapi jika siang tante akan membawa Berlian untuk menemui ibunya di rumah sakit. Karena walau bagaimanapun, Berlian dan juga Dea mempunyai ikatan batin yang kuat, dan tante berharap dengan adanya Berlian Dea bisa sadar. Tetapi ternyata selama 3 bulan ini tidak ada perubahan sama sekali," ucap Mama Linda dengan wajah yang sendu.


Nina melihat ke arah bayi mungil dan menggemaskan itu. Dia begitu sedih saat melihat bagaimana berlian tumbuh tanpa adanya sosok ibu di sampingnya. Seharusnya selama 3 bulan ini, Dea menjadi repot mengurusi Berlian. Seketika Nina meneteskan air mata, dia teringat pada janin yang sudah pergi duluan menghadap sang pencipta.


"Oh iya Nina! Bukannya kamu lagi hamil ya? Kok perutnya nggak gede? Apa kamu sudah melahirkan? Tapi rasanya tidak mungkin!" Heran Mama Linda sambil menatap ke arah perut Nina.


"Iya nak, harusnya kan sekarang kandungan kamu sudah 7 bulan?" Timpal Bu Siti.


Bu Siti maupun keluarganya Dev memang belum tahu tentang masalah yang Nina alami. Mendengar pertanyaan dari dua wanita paruh baya itu, Nina menunduk dan menghela nafasnya dengan panjang. Air matanya sudah mengalir tidak bisa Ia bendung lagi.


"Janin Nina keguguran Bu, dalam usia kandungan mau 5 bulan!" jawab Nina dengan wajah sedihnya.


Ibu Siti dan juga Mama Linda yang mendengar itu terlihat begitu syok, mereka langsung mengusap bahu Nina.


"Sabar ya Sayang! Tante yakin, Allah akan menggantikan rezeki kamu dengan yang lebih baik," ucap tante Linda sambil mengusap bahu kiri Nina.


"Lalu, apa Fahri tahu kamu ke sini nak? Tanya Bu Siti dan langsung dibalas gelengan kepala oleh Nina.


"Kamu nggak pamit sama Fahri?" Tanya Mama Linda, sedangkan Papa Bachtiar yang ada di sana hanya menyimak percakapan 3 wanita yang ada di hadapannya.


"Buat apa Tante Nina izin? Toh, Mas Fahri bukan suami Nina lagi," Jujur Nina sambil mengusap air matanya, lalu menggendong Berlian di dalam pelukannya.


"Apa! Maksudnya bagaimana?" Bingung Mama Linda.


Nina mendesah dengan pelan, lalu dia membuang nafasnya dengan panjang. "Iya tante, Nina sama Mas Fahri sudah bercerai."


"Loh, kenapa bercerai nak? Kamu kan tahu perceraian itu dibenci sama Allah? Lagi pula kamu dan Fahri kan bukannya sudah saling mencintai?" Timpal Ibu Siti yang merasa heran sekaligus miris dengan rumah tangga Nina. Karena walau bagaimanapun Nina sudah dianggap sebagai putrinya juga.


"Nina tahu Bu, kalau perceraian itu dibenci oleh Allah. Tapi sebagai perempuan, tentu saja Nina juga tidak ingin menjadi seorang janda. Tetapi penghianatan yang Mas Fahri lakukan, tidak bisa membuat Nina memaafkannya. Api yang sudah dia nyalakan terlalu besar Bu, sampai Nina tidak bisa memadamkannya," ujar Nina dengan mata menatap lurus ke arah depan.


Mendengar itu Ibu Siti langsung memeluk tubuh Nina dari samping, sebab Nina sedang menggendong Berlian. "Yang sabar ya nak! ibu yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh untuk kamu! Jodoh yang terbaik. Allah akan mempertemukan dan mempersatukan orang baik dengan orang baik juga."


"Nina nggak berharap itu Bu! Saat ini Nina hanya ingin fokus untuk membuat Dea sadar dari tidurnya, dan juga Nina ingin mencari pekerjaan di Kota Bu. Nina ingin membantu kedua orang tua Nina," jawab Nina dengan lugas.


Mama Linda dan juga Ibu Siti mengangguk, mereka paham apa yang Nina rasakan. Mereka juga tidak menyangka jika Fahri bisa setega itu kepada Nina.


Berlian digendong Nina sambil sesekali tertawa. Dia seperti merasakan dekapan hangat seorang ibu dari Nina, begitupun dengan Nina, dia begitu senang bisa menggendong Berlian. Apalagi Berlian adalah anak dari sahabatnya sendiri.


Seketika sebuah ide muncul di benak Mama Linda. "Nak, kamu tadi bilang kamu butuh pekerjaan bukan?" Tanya Mama Linda pada Nina, dan langsung dijawab anggukan oleh Nina.


"Bagaimana kalau kamu menjadi babysitter-nya Berlian aja! Kamu urus Berlian," usul Mama Linda dengan antusias.


Nina terdiam beberapa saat, setelah itu dia mengangguk dengan wajah sumringah. "Iya Tante, saya mau! Saya mau mengurus Berlian tante. Apalagi Berlian adalah anaknya Dea."


"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kamu bantu Tante buat ngurus Berlian ya! Tante akan kasih tahu kamu apa aja yang harus kamu urus tentang Berlian."


Nina mengangguk, dia begitu senang karena selain Dia diterima hangat di keluarga Bachtiar. Nina juga bisa merasakan bagaimana mengurus seorang anak, karena walau bagaimanapun dia pernah merasakan hamil, dan juga melihat Berlian Nina seperti merasakan punya anak sendiri.


Bersambung..........