Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Koma


Happy reading......


Satu minggu telah berlalu, tetapi Dea masih saja belum sadar dari tidurnya. Dia dinyatakan koma oleh dokter, akibat benturan keras yang dia alami saat keadaannya masih hamil.


Semua keluarga tentu saja sangat terpukul mendengar itu, bahkan selama satu minggu ini Dev terus mendampingi Dea. Dia tidak beranjak sedikitpun meninggalkan istrinya, dia selalu ada di samping Dea sambil membisikan kenang-kenangan yang mereka lewati setiap hari.


Dev bahkan sering menaruh anaknya di samping Dea, berharap agar kekuatan batin antara Dea dan putrinya terhubung, dan membuat Dea bangun dari komanya. Tetapi sepertinya Dev masih harus bekerja keras untuk itu.


"Sayang, lihatlah Putri kita ini! Dia sudah sangat merindukanmu, udah satu minggu kamu tertidur, bahkan tidak bergerak sama sekali. Apa kamu tidak ingat bagaimana kita menantikan Putri kita lahir? Dan sesuai dengan apa yang kamu mau, aku berikan dia nama Berlian Azzahra, sesuai dengan apa yang kamu ucapkan satu minggu yang lalu," Ucap Dev sambil mencium kening Dea, kemudian beralih mencium kening putrinya yang berada di sisi Dea.


"Dave.....," Panggil Mama Linda yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Dea.


Dev menoleh ke arah Mamanya.


"Ini makan dulu, Dev," Kata Mama Linda sambil Menyiapkan makan malam untuk Dev.


"Tapi aku tidak lapar Ma!" Tolak Dev sambil mengelus pipi Dea.


Mama Linda berjalan ke arah anaknya, lalu dia menggendong Berlian.


"Dev, makanlah dulu. Biar Mama yang jaga Berlian. Lagi pula kalau kamu tidak makan, nanti kamu sakit! Terus siapa yang akan jaga Dea? Memangnya kamu mau kalau Dea melihat kamu sakit, terus badan kamu kurus? Dia pasti akan sedih," Ujar Mama Linda memberi pengertian kepada Dev.


Mendengar itu, Dev mengangguk. Dia membenarkan ucapan sang Mama.


'Benar kata Mama, aku harus tetap kuat. Aku tidak boleh sakit demi Dea,' batin Al sambil berjalan menuju sofa untuk makan malam.


---------------------


Malam ini Berlian terus menangis, padahal Dev sudah menggendongnya. Tetapi Berlian terus menangis tanpa henti, di sana juga ada Mama Linda dan juga Bu Siti yang menemani Dev.


"Mah, Bu. Ini kenapa ya? Kok Berlian nangis terus?" Tanya Dev dengan bingung.


"Sepertinya dia lapar deh! Sebentar Mama buatkan susu dulu," Ucap Mama Linda sambil membuatkan susu untuk Berlian.


"Sepertinya dia ingin minum susu dari ibunya secara langsung," Ujar Bu Siti sambil menatap sayu ke arah sang anak, yang terbaring tak bergerak di atas keranjang pasien.


"Benar Dev, sepertinya Berlian memang ingin minum susu dari ibunya? Coba kamu letakkan dia di da-da Dea," Timpal Mama Linda sambil berjalan ke arah Dea dan membuka kancing baju Dea.


Dev mengangguk, lalu menaruh Sang Putri di da-da Dea. Dan benar saja, Berlian langsung meminum air susu Dea dengan lahap. Dev tersenyum senang saat melihat itu, bahkan air matanya kembali menetes.


"Lihatlah sayang! Berlian begitu menginginkan kamu menyusuinya, maka cepatlah bangun. Apa kamu tidak ingin menyusui dia secara langsung, sambil mengusap kepalanya? Menciumi wajahnya, memegang tangannya yang mungil, dan menggantikan popoknya?" Ucap Dev sambil menangis haru di samping Dea.


"Kita berdoa ya Dev, semoga Dea lekas bangun dari tidur panjangnya. Saat ini yang kita bisa lakukan hanyalah berdoa, dan itulah yang Dea inginkan dan butuhkan saat ini," Ucap Mama Linda sambil mengusap bahu putranya dengan lembut. Dia mencoba menguatkan Dev dari keterpurukannya.


Sebagai orang tua, tentu saja Mama Linda tahu bagaimana perasaan Dev saat ini. Tapi dia mencoba untuk kuat dan tegar.


------------------------


Pagi ini Al ke rumah rumah sakit untuk memberikan berkas-berkas pekerjaan yang harus ditandatangani oleh Dev. Semenjak Dea koma, Dev terus menemani Dea di rumah sakit. Dan semenjak saat itu, Dev membawa semua pekerjaannya ke rumah sakit.


"Ini Pak, berkas yang harus Bapak tanda tangani," Ucap Al sambil memberikan beberapa berkas kepada Dev. Setelah itu Dev membaca berkas-berkasnya dahulu sebelum dia tandatangani.


Pandangan Al mengarah ke arah Dea, hatinya teriris melihat bagaimana istri bosnya sekaligus istri sahabatnya sedang terbaring lemah tidak bergerak sama sekali. Dan hanya terdengar bunyi monitor yang menandakan jika jantungnya masih berdetak.


"Dev, apa belum ada perubahan dengan Dea?" Tanya Al sambil menatap sendu ke arah sahabatnya itu.


Mendengar pertanyaan dari Al, Dev menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian dia menggeleng dengan lemah, tatapannya sayu mengarah kepada istri yang sangat dia cintai.


"Entah sampai kapan dia akan terus tertidur seperti putri salju? Aku sudah menciumnya! Aku sudah merawatnya. Lalu kenapa dia tidak bangun Al? Aku sudah menjadi pangerannya! Tetapi dia masih saja belum membuka matanya," Sedih Dev dengan lirih.


Al yang mendengar ucapan Dev, seketika mendekat dan menepuk bahu Dev. Dia mencoba menguatkan sahabatnya. "Tenanglah, kami di sini ada untukmu. Kami akan selalu membantumu dengan doa, agar Dea cepat sadar dan membuka matanya. Kami selalu mendoakan agar dia juga bisa kembali dan bersatu denganmu!"


Bersambung........