Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Mengantar Belanja


Happy reading.......


Seperti biasa, pagi ini Nina menyiapkan baju untuk Berlian, sebab dia belum bisa memandikan Berlian, jadi Berlian masih dimandikan oleh Mama Linda. Sementara itu Nina hanya menyiapkan baju dan keperluan Berlian yang lainnya.


Setelah mandi dan berpakaian, Berlian digendong oleh Nina sambil diberikan susu. Nina begitu menyayangi Berlian seperti anaknya sendiri, karena dia ingat akan bayinya yang keguguran.


"Berlian, sayang. Nanti kamu kalau udah besar, harus sekuat ibu kamu ya! Sifatmu harus sebagus dan secantik dia," ucap Nina sambil mengelus pipi lembut Berlian.


Setelah Berlian tertidur, Nina menaruh Berlian di box bayi. Hari ini mereka tidak ke rumah sakit, memang tidak setiap hari Berlian ke rumah sakit, hanya seminggu 5 kali saja dan hari ini jadwal Berlian libur ke sana.


"Apa sudah tidur?" Tanya Mama Linda yang memasuki kamar Berlian.


"Sudah tante, dia nyenyak banget tidurnya! Kayaknya dia kekenyangan deh,"!jawab Nina sambil menepuk-nepuk pelan paha Berlian agar bayi itu nyenyak dalam tidurnya.


" Oh iya Nin, apa Tante Boleh minta tolong sama kamu?"


"Minta tolong apa Tante? Tentu saja!" Jawab Nina.


"Gini Nin, Pampers sama lotion dan sabunnya Berlian sudah habis Tante mau minta tolong kamu buat beli ke toko khusus bayi yang ada di mall xxx," pinta Mama Linda.


"Oh iya Tante, nanti saya belikan. Di list aja Tante, apa yang harus Nina beli, nanti Nina akan cari di toko itu."


Mama Linda menyerahkan sebuah kertas putih yang sudah dia list tentang apa saja yang harus Nina beli. Setelah itu Nina berangkat, tetapi baru sampai bawah ternyata ada sahabat Dev yang datang.


"Tante apa kabar?" Tanya Hazel pada Mama Linda.


"Alhamdulillah kabar baik! Kamu ada apa ke sini? Tumben?" Tanya Mama Linda padahal dengan heran.


"Hehehe... Ini Tan, aku kan kemarin habis dari Swedia, biasalah ada oleh-oleh sedikit buat Tante," ucapan Hazel sambil menyerahkan paper bag kepada tante Linda.


"Wah, terima kasih ya! Kamu repot-repot sekali sih?" Tante Linda menerima paper bag itu dengan wajah senang.


"Ya sudah Tante, kalau gitu saya pamit dulu ya," ucapan Hazel, namun seketika Mama Linda menghentikan langkah Hazel.


"Tunggu Hazel, kamu lagi sibuk nggak?"


"Enggak sih Tante! Emangnya kenapa?" Tanya Hazel sambil menatap Mama Linda.


"Ini Tante, mau minta tolong antarkan Nina untuk belanja keperluannya Berlian ya di mall. Soalnya sopir Tante juga lagi libur," pinta Tante Linda pada Hazel.


Mendengar itu Hazel langsung beralih menatap ke arah Nina, sedangkan yang ditatap menundukkan kepalanya. "Oh, dia ini sahabatnya Dea bukan?" Tanya Hazel yang masih ingat jika Nina pernah datang ke acara 7 bulanan Dea.


"Iya, bisa kan kamu antarkan dia untuk belanja? Kebetulan sekarang dia itu babysitter-nya Berlian," jelas Mama Linda.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, hanya ada keheningan antara Hazel dan juga Nina, keduanya sama-sama terdiam sebab Hazel juga canggung jika harus mengajak ngobrol Nina, karena dia tahu jika Nina itu sudah bersuami.


"Awas...!" Teriak Nina saat melihat nenek-nenek di depan akan menyeberang, Hazel seketika mengerem mobilnya dengan mendadak, sampai membuat Nina terbentur dasbor mobil.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Hazel saat melihat Nina mengusap dahinya, dan langsung dijawab gelengan kepala oleh Nina.


"Nggak papa!" Setelah itu Nina turun dari mobil dan membantu nenek itu untuk menyeberang, setelah selesai Nina pun balik lagi ke dalam mobil Hazel.


Di dalam mobil Hazel menatap Nina penuh kagum. Tetapi hanya sebatas kagum saja, sebab Hazel mengetahui jika Nina sudah mempunyai suami.


Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan untuk ke mall xxx, hingga setengah jam kemudian mereka pun sampai di sana, dan Nina langsung menuju toko di lantai 2 yang disebutkan oleh Mama Linda. Sedangkan Hazel hanya mengikuti langkah perempuan itu sambil memilih-milih barang apa saja yang dibelinya untuk Berlian.


Setelah selesai, mereka pun pulang ke rumah dan tidak ada yang berbeda dari pas mereka berangkat, hanya ada keheningan saja ditemani dengan rintik-rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.


"Loh kok macet? Perasaan tadi nggak macet?" Heran Hazel saat melihat kemacetan yang begitu panjang di depannya, dia pun bertanya kepada bapak-bapak yang berjualan keliling sambil menjajakan dagangannya.


"Maaf pak, ini kenapa macet panjang sekali ya?" Tanya Hazel pada bapak-bapak penjual asongan.


"Oh itu pak, di depan ada kecelakaan. Jadi kemungkinan akan macet panjang Pak!" Jelas Bapak asongan itu.


Hazel mendesah dengan kasar, dia melihat jam yang ada di tangannya. Dia memang tidak sibuk hari ini, dia free. Tapi dia sangat tidak suka dengan kemacetan, untuk putar balik saja sudah tidak bisa, mobilnya berada di tengah-tengah dan tidak bisa berputar balik, kecuali jika mobilnya bisa terbang.


"Sepertinya aku harus memodifikasi mobilku, biar bisa terbang. Malas sekali harus nunggu macet seperti ini?" Gumam Hazel dengan kesal.


Nina yang mendengar itu malah terkekeh, dan membuat pria tampan di sampingnya itu menoleh ke arah Nina dengan dahi mengkerut. "Kamu kenapa tertawa? Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Hazel.


"Enggak ada sih! Cuma lucu aja. Masa Iya, mobil bisa terbang? Kalau mobil bisa terbang, berarti nggak usah di gas dong, biar pada terbang aja semua kayak pesawat," Ujar Nina.


Hazel terkekeh mendengar ucapan Nina, seketika dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Iya juga ya! Kalau mobil bisa terbang kan nggak usah pakai pesawat ke mana-mana?" Hazel mentertawakan kebodohannya.


"Oh iya, kamu jadi bebysitternya Berlian? Memangnya suami kamu tidak marah? Bukannya kemarin itu kamu lagi hamil ya?" Tanya Hazel membuka pembicaraan.


"Saya sudah bercerai dengan suami saya! Dan saya juga sudah keguguran," jawab Nina sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, wajahnya mendadak sendu saat mengingat Jika dia harus kehilangan bayi dia akibat suaminya.


Mendengar itu, Hazel merasa tidak enak. Dia menatap wajah Nina yang berubah menjadi sendu, ada rasa bersalah di hati Hazel karena sudah menguak luka di hati Nina. "Maaf, saya benar-benar tidak tahu masalah itu," ucap Hazel dengan nada tak enak kepada Nina.


"Nggak apa-apa, lagi pula itu hanya masa lalu!" Jawab Nina sambil menatap lurus ke arah depan.


Bersambung. ........