
Happy reading.......
Hazel dan Nina Baru saja sampai di kediaman Bachtiar. Terlihat wajah Hazel yang ditekuk dengan kesal, sebab terjebak macet. Setelah itu dia membantu Nina menurunkan barang-barang.
"Ini mau dibawa ke mana barangnya?" Tanya Hazel pada Nina sambil menenteng dua kantong plastik.
"Dibawa ke kamarnya Berlian aja! Nanti aku tata di sana!" Jawab Nina sambil berlalu jalan ke lantai atas, dimana kamar Berlian berada di samping kamarnya Dev.
Setelah sampai di kamar Berlian, Nina tidak menemukan Berlian sama sekali. Nina pikir mungkin Berlian sedang diasuh oleh kedua neneknya, kemudian dia menyuruh Hazel untuk menaruh barang belanjaannya di lantai.
"Ya sudah, aku taruh sini ya" ucap Hazel dan langsung dibalas anggukan oleh Nina.
"Mari turun! Saya buatkan Tuan minuman dulu!" Nina mengajak Hazel untuk turun ke lantai bawah. Hazel mengangguk dan mengikuti langkah Nina.
Sesampainya di bawah, Nina langsung menuju dapur untuk membuatkan minuman buat Hazel. Dia tahu jika pria itu kehausan karena telah mengantarnya berbelanja.
Setelah minuman jadi,Nina mengantarkannya ke ruang tamu. "Ini Tuan minumannya! Silakan diminum," ucap Nina. Hazel mengangguk lalu mulai meminum jus jeruk buatan Nina.
"Mau ke mana?" Tanya Hazel saat melihat Nina akan pergi meninggalkan ruang tamu. "Saya mau mencari Berlian Tuan!" jawab Nina.
"Temani saya sebentar! Saya tidak biasa minum sendiri." Pinta Hazel, mau tak mau Nina pun duduk di hadapan Hazel dia menemani pria itu sampai menghabiskan minumannya.
Setelah minuman habis, Hazel pun pamit pulang kepada Nina. Dia juga minta dititipkan salam kepada tante Linda.
-----------------------
Malam ini selepas shalat magrib, Nina sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit menemui Dea, dia ingin sekali menemani sahabatnya itu.
Karena sopir di rumah Mama Linda sedang libur, maka Nina pun berangkat ke rumah sakit menggunakan ojek online. Namun sayang, di tengah jalan ojek online yang Nina naiki motornya mogok, sehingga mau tidak mau Nina pun turun.
"Duh, mana lagi taksi gak lewat-lewat?" gumam Nina sambil menatap ke arah jalanan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, sambil melihat jika ada taksi yang lewat. Tetapi sudah 10 menit Nina berdiri tidak ada juga taksi yang lewat.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapan Nina. Kening Nina mengkerut saat melihat mobil itu, tentu saja dia sangat hafal dengan mobil itu, sebab pemilik mobil itulah yang mengantarkan Nina tadi siang berbelanja keperluannya Berlian.
"Kamu mau ke mana? Kok malam-malam ada di sini?" Tanya Hazel pada Nina.
"Saya mau ke rumah sakit tuan! Saya mau menemui sahabat saya!" Jawab Nina, kemudian Hazel menyuruh Nina untuk masuk. Melihat jika tidak ada taksi yang lewat, Nina pun masuk ke dalam mobil Hazel dan diantarkan ke rumah sakit.
"Jika kamu bangun nanti! Aku janji, kita akan jalan-jalan ke sebuah tempat yang indah. Aku akan bawa kamu keliling dunia, maka kamu harus bangun ya! Aku ingin menunjukkan kepada kamu, keindahan dunia ini? Tempat-tempat yang romantis, dan juga indah. Kamu juga pasti mau kan kalau kita bikin adek lagi buat Berlian?"
Dev Setiap hari selalu mengajak bicara ke arah Dea, tetapi masih tidak ada perubahan sama sekali. Namun itu tidak menyurutkan semangat Dev, dia pantang menyerah terus menerus melakukan segala cara untuk menyadarkan istri tercintanya.
"Assalamualaikum....," ucap Nina dan Hazel serempak, yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Dea.
"Waalaikumsalam...!" Jawab Dev sambil menengok ke arah belakang, dan mendapati sahabatnya bersama dengan sahabat istrinya.
"Udah balik lo dari Swedia?" Tanya Dev pada Hazel, sambil menjabat tangan sahabatnya itu. "Udah semalam!" Jawab Hazel.
Setelah berbasa-basi, Dev dan Hazel meninggalkan Nina di ruangan Dea. Mereka memberi Nina ruang untuk berbicara dengan sahabatnya itu.
"De, aku datang ke sini untuk kamu! Masa kamu nggak kangen sih sama aku? Emangnya kamu nggak pegel ya, matanya tidur terus? Apa kamu sekarang lagi mimpi indah? Sampai-sampai kamu tidak mau bangun? Kamu tahu nggak! Anak kamu tuh sekarang udah besar, udah 3 bulan, wajahnya cantik, imut dan menggemaskan. Kamu tahu De? Ada banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu! Aku ingin curhat masalah pernikahanku sama kamu! Tapi tidak mungkin kan kalau aku curhat, sedangkan kamunya tertidur? Aku berasa ngomong sama tembok dong!"
Nina berucap sambil menitikan air mata, dia akan berusaha membuat sahabatnya itu untuk sadar. "Kamu ingat nggak De? Dulu kita sering main panjat pohon kelapa, manjat pohon kecapi. Dulu kita juga sering nangkepin ikan di empang, dan kamu Ingat nggak! Dulu kita sering mandi dari jam 03.00 sampai jam 05.00 sore di sungai, sampai mata kita merah. Aku kangen De, masa-masa itu. Sampai kapan kamu akan terus tertidur? Apakah mimpimu terlalu Indah sampai-sampai kamu tidak mau bertemu dengan anak kamu? Kalau kamu tidak mau bangun, maka aku akan rebut suami dan juga anak kamu!" Ancam Nina sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Entah keajaiban dari mana, satu jari Dea bergerak saat Nina mengatakan itu. Dan itu membuat Nina merasa senang, wajahnya berbinar bahagia. "Kamu mendengar ucapanku? Kamu mendengar aku!" Nina berucap dengan senang, setelah itu dia menekan tombol yang ada di atas kepala Dea dan memanggil dokter.
Tak lama dokter pun datang bersama dengan suster, dan langsung memeriksa keadaan Dea.
"Bagaimana Dok keadaan sahabat saya? Tadi tangannya bergerak Dok, saya yakin tangan Dea bergerak tadi," Ucap Nina dengan senang saat Dokter itu selesai memeriksa keadaan Dea.
"Iya Nona, sepertinya Nona Dea ada perubahan. Jika seperti ini terus, maka kemungkinan besar Nona Dea akan sadar," ujar dokter itu kepada Nina.
Mendengar itu Nina sangat bahagia, air matanya terus mengalir sambil menatap Dea. Dia begitu senang jika kedatangannya bisa membuat sahabatnya bangun.
"Kita harus terus membuat Nona Dea mengingat setiap kenangannya. Karena itu seperti sebuah aliran yang menarik dia untuk cepat sadar dari komanya, dan sepertinya Nona Dea merespon ucapan anda, Nona!" ujar dokter itu pada Nina, setelah itu dokter dan suster pun keluar dari ruangan Dea.
"Tuh De, kamu dengarkan apa kata dokter? Kamu bisa bangun! Ayo dong buka mata kamu! Masa timbang buka mata aja berat banget? Aku aja kalau mau melek, tinggal melek. Kalau kamu nggak bangun terus. Bener loh, nanti aku ambil suami sama anak kamu! Emang kamu mau kalau suami dan anak kamu aku ambil?" Ancam Nina, dan lagi-lagi tangan Deaa bergerak seperti merespon ucapan Nina, seakan Dea menolak untuk Nina melakukan itu.
Nina memang sengaja berbicara seperti itu kepada Dea, dia akan memancing saraf otak Dea untuk bekerja kembali dan cepat sadar dari komanya. Dia yakin jika Dea tidak ingin kehilangan Dev, ataupun anaknya. Dan dia tidak akan membiarkan keluarganya direbut oleh orang lain, walaupun itu sahabatnya sendiri.
Bersambung......