
Happy Reading ๐๐
Operasi Papa nya Lala pun sedang di lakukan, tapi Alvin tak berada di sana. Al harus ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan nya, sebab tak mungkin pekerjaan dia harus terbengkalai.
Sementara itu Lala sedang menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan harap harap cemas, doa pun tak lepas dari mulut Lala.
Sedangkan di tempat lain Alvin sedang duduk di kursi kerja nya dan mengecek berkas berkas yang ada di atas meja yang menumpuk untuk dia cek.
Tapi entah kenapa pikiran Alvin malah tertuju pada Lala. Dia kepikiran soal operasi Papa nya Lala apalagi Lala disana sendiri dan tak ada yang menemani.
Huuuuffff
Al mengusap wajah nya dengan kasar, dia begitu mencemaskan Lala. Pandangan nya menengadah melihat langit langit kantornya, Al pun heran dengan dirinya sebab tak biasanya dia akan perduli pada orang lain.
'Ada apa dengan diriku? Kenapa sih aku begitu mencemaskan nya?' batin Al.
Dia mengambil ponsel nya lalu mencari nama Lala di benda canggih tersebut, setelah nama Lala muncul Al terlihat ragu untuk menelfon nya. Bolak balik iya ingin menekan tombol memanggil tapi urung dia lakukan.
Akhirnya setelah beberapa menit, Al pun menelfon Lala. Tapi sayang nomor ponsel Lala tidak aktif, dan itu malah membuat Alvin semakin cemas.
Dia pun mengambil jas nya dan pergi dari kantor nya, untung saja meeting akan di lakukan 2 jam lagi, jadi Alvin masih ada waktu untuk melihat Lala.
Sesampainya dia di rumah sakit, Al melihat Lala sedang tersungkur duduk di lantai sambil sesegukan. Al segera berjalan mendekat ke arah Lala.
"Lala, kamu kenapa?" Tanya Alvin saat dia sudah berjongkok di hadapan Lala.
Lala yang mendengar suara Alvin segera mengangkat wajah semabab nya yang di penuhi oleh air mata.
Greep
Lala langsung memeluk tubuh Alvin dan menangis terisak dalam dekapan Al. Dia tak perduli jika Al adalah Bos nya, saat ini Lala hanya butuh sandaran sebab tak ada tempat ia bersandar saat ini.
Al yang mengerti dengan kesedihan Lala, membiarkan gadis itu memeluk tubuh nya. Hingga saat beberapa menit kemudian, Lala melepaskan pelukan itu.
"Papa Tuan. Papa Lala...." Ucap Lala dengan suara yang lirih dan penuh luka.
"Kenapa? Operasi nya lancar kan?" Tanya Al
Lala mengangguk kemudian menggeleng, membuat Alvin menatap nya dengan bingung.
"Papa sudah operasi Tuan. Tapi, sekarang Papa sedang kritis hiiiikkss...." Tangis Lala kembali pecah saat mengatakan itu.
Alvin yang mendengar itu segera membawa Lala duduk di kursi dan mencoba menenangkan nya. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Lala, sebab itu juga pernah Al rasakan saat dia kehilangan adik tersayang nya.
Setelah Lala merasa tenang, Al memberikan minum yang sempat ia beli di jalan tadi sebelum kerumah sakit, sebab Al sangat yakin jika Lala belum minum.
"Gak papa, saya tidak merasa di repotkan kok sama kamu!" Jawab Al dengan santai.
Lala merasa miris dengan hidup nya, sampai sampai Al harus mengasihani nya. Saat Lala sedang menatap koridor rumah sakit, dia melihat seorang wanita yang amat sangat ia kenal tengah berjalan menggandeng seorang pria dengan keadaan nya yang sedang hamil.
Tangan Lala terkepal dengan kuat, sorot mata sedih nya seketika berubah menatap penuh kebencian. Giginya gemelutuk menahan amarah.
Al yang ada di samping nya merasa sangat heran sebab tak biasanya dia melihat Lala semarah itu. Alvin pun melihat kemana arah pandang Lala.
๐น
๐น
๐น
Di tempat Lain, Dev sedang menerima laporan dari detektif yang dia sewa untuk menyelidiki kasus ancaman untuk istrinya itu.
"Apa! Kau serius? Kau tidak salah kan?" Kaget Dev sambil mengepalkan tangan nya.
"Ok, kau pantau mereka terus, dan kabarkan padaku." Ujar Dev pada seseorang di sebrang sana.
Setelah telfon terputus, Dev menonjok pohon pisang di hadapan nya dengan geram, sampai pohon pisang itu bergoyang hampir roboh akibat ulah Dev.
"Lihat saja kau! Berani kau menyakiti istriku, maka akan ku habisi kau." Geram Dev dengan amarah membara.
Dea melihat Suaminya menonjok Pohon pisang pun merasa heran, lalu ia berjalan mendekat ke arah Dev. "Mas..." Panggil Dea
Dev kaget dan menengok ke belakang.
"Sayang, kamu kok di sini?" Tanya Dev dengan raut wajah terkejut.
"Iya, aku baru selesai membantu Ibu menanam jagung! Kamu kenapa Mas? Kenapa tadi nonjok pohon pisang?" Tanya Dea dengan wajah bingung.
"Nggak papa sayang! Aku hanya mau tahu saja, seberapa kuat pohon pisang ini menahan tonjokan aku." Alibi Dev.
"Mas, Mas. Kalau mau nyari bahan percobaan sih jangan pohon pisang juga kali? Noh, pohon jati kan gede Mas? Lagian ya Mas, kalau buah nya jatuh gimana? Ini kan sudah mau di panen?" Kekeh Dea.
Dev hanya tersenyum tipis sambil menggaruk Leher nya. Dia sebenar nya tak niat menonjok pohon pisang itu, tapi tadi hanya gerakan reflek saja.
Dea pun akhirnya mengajak Dev untuk ke gubuk di tengah sawah untuk makan siang, sebab tadi Susi sudah datang membawa makan siang bersama nya.
Bersambung.......