
Happy Reading ๐๐
"Biasa aja! Gak usah teriak juga kali?"
"Ya maaf... Habis aku kaget loh, pas denger kamu di jodohkan? Kamu di jodohin sama siapa?" Tanya Dea dengan rasa penasaran.
"De, gimana aku gak kesel De? Masa aku di jodohin sama Kak Fahri?" Geram Nina.
"Apa! Kak Fahri? Yang bener kamu?" Kaget Dea, dan kali ini dia benar benar sangat kaget sampai mulut nya menganga.
"Iya, serius aku! Kamu pikir aku bercanda?"
"Ya bagus dong Nin! Kan enak, masih sekampung juga? Jadi masih bisa lihat Ibu sama Ayah kamu kan?" Ucap Dea.
"Ah elah, kamu kan tahu De! Kalau kak Fahri itu cinta nya sama kamu? Lalu kalau aku nikah sama dia, gimana keadaan aku De? Aku bagaikan istri di atas kertas dong? Sedangkan hati nya di lain tempat?" Jelas Nina.
Nina tak sadar jika ucapan nyeplos nya itu membuat Dea merasa tak enak hati. Dea diam tak menjawab ucapan sahabat nya itu.
Ada rasa tak nyaman dan tak enak, lebih ke rasa bersalah saat Nina mengatakan hal tadi.
"De.... De... " Panggil Nina
"Eh, eum iya Nin. Maaf Maaf, aku ngelamun tadi."
"Ngelamunin apa sih?"
"Gak papa! Maaf ya Nin, gara gara aku, kamu harus menikah dengan pria yg tidak mencintai kamu?"
"Ya Allah De. Aku sama sekali gak nyalahin kamu! Aku hanya mentertawakan nasib ku saja. Tapi kamu tenang saja! Kamu kayak gak kenal aku saja sih Nin? Aku kan orang nya pantang menyerah? Aku akan buat kak Fahri bertekuk lukuk sama aku! Akan ku buat dia mencintai aku, dan kalau bisa sampai bucin akut sama aku." Jelas Nina dengan suara menggebu.
Dea terkekeh mendengar semangat sahabatnya itu.
Dea paham dan sangat hafal jika Nina orang yg tak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yg dia mau.
"Kamu juga harus semangat De, buat dapetin hati suami kamu! Jangan mudah menyerah De. Karena kalau kita menyerah, pelakor bakal getol De, sebab mereka bermodal paras dan tubuh De.
Pelakor itu gak di pandang cantik nya, tapi goyangan nya di atas ranjang?" Jelas Nina.
"Kamu kok paham begituan?" Heran Dea.
"Elah, ijem. Kamu lupa apa? Ayah kandung aku kan selingkuh sama pelakor? Mana pelakornya jelek banget?" Cebik Nina
Memang Nina anak broken home, tapi Ibu nya sudah menikah lagi setelah 3 tahun menjanda.
Ayah kandung Nina pergi meninggalkan Nina dan Ibu nya dan lebih memilih pelakor sebab katanya goyangan nya lebih jos di atas ranjang.
Lalu mereka pun melanjutkan obrolan nya seputar pernikahan Nina dan Fahri nanti.
Dea juga memutuskan untuk datang sekaligus pulang ke kampung untuk menengok keluarganya di sana.
๐น
๐น
๐น
Saat ini Lala baru saja selesai belanja dari supermarket.
Lala pun mulai menata sayuran dan buah buahan di kulkas, lalu dia mencuci ikan dan ayam yg dia beli dan menaruhnya di Frazer.
Setelah itu Lala memasak makan malam untuk Alvin. Dia sengaja memasak sop daging yang bisa di panaskan lagi oleh Alvin nanti sepulang kerja.
30 menit sudah sop yg Lala buat sudah jadi. Kini Lala sedang duduk di kursi untuk rehat.
"Ah, aku kasih note aja, terus tempel deh di kulkas!" Gumam Lala.
Dia pun mengambil selembar kertas dan menulis note untuk Alvin, sebab Dea belum punya nomor ponsel nya Alvin.
...โTuan, Lala masak sop daging buat Tuan. Nanti tinggal Tuan panaskan saja ya di atas kompor. Semoga Tuan suka sama masakan Lala! Lala pamit pulang dulu ya๐ป๐ป...
Lala memberikan gambar bunga di bagian terakhir nya. Sebab Lala memang sangat suka bunga matahari.
Menurut Lala bunga matahari itu seperti sebuah sinar terang yg selalu menerangi hati nya di kala sedang bersedih dan gundah gulana.
"Udah ah, Lala pulang dulu! Ayah pasti sudah menunggu Lala." Ucap Lala sambil mengambil tas selempang nya dan pergi dari apartemen itu.
40 menit Lala pun sampai di sebuah kontrakan sederhana.
"Assalamu'alaikum.... " Ucap Lala saat membuka pintu.
"Waalaikumsalam.... Nak, kamu sudah pulang?" Tanya pria yg duduk di kursi roda.
"Iya Papa! Papa gimana? Baik baik saja kan?" Cemas Lala.
"Papa baik baik saja La." Ucap pria 45 tahun itu. Lala menaruh sayur yang sempat ia bawa tadi dari apartemen Alvin.
"Nak, kamu dapat darimana sop ini?" Tanya Pak Malik.
"Ini Pa, kebetulan Lala di Terima kerja sebagai ART. Jadi Lala bawa sebagian sayur buat Papa."
"Kamu jadi ART?" Kaget pak Malik.
Dia sangat sedih saat mendengar jika anak semata wayang nya kerja sebagai Art. Harusnya gadis seumuran Lala itu, sedang asik dan menikmati masa muda nya.
Tapi Lala malah sebalik nya. Dia malah harus bekerja banting tulang untuk menghidupi Papa nya dan juga kehidupan mereka.
Sebab Pak Malik sudah tak bisa lagi bekerja, keadaan nya yg sedang sakit parah membuat dia tak bisa bekerja.
Bahkan untuk berdiri lama saja pinggang Pak Malik langsung sakit.
"Nak, maafkan Papa ya! Harusnya kamu itu senang senang di masa muda kamu! Tapi kamu malah bekerja demi Papa dan kehidupan kita?" Ucap Pak Malik dengan wajah sedih.
Lala yg melihat raut kesedihan di wajah sang Papa, segera memeluk tubuh kurus itu.
"Papa jangan sedih. Lala ikhlas kok ngelakuin ini? Lagipula kan sekolah Lala sudah lulus? Jadi Lala bisa fokus kerja! Lagian Pa, gajih Lala lumayan loh Pa."
"Emang berapa?"
"4 juta sebulan Pa!" Jawab Lala dengan antusias.
"Alhamdulillah.... Bos kamu sepertinya orang baik ya La?"
"Sangat baik Pa! Bahkan dia pernah nolongin Lala 2x" Jelas Lala.
Setelah menyiapkan makan malam untuk sang Papa, Lala pamit untuk mandi sebab badan nya sangat gerah.
Jangan Lupa ikutan giveaway nya ya dears๐๐
Bersambung......