
judul : Istri Yang Tak dianggap
Author: Teh ijo
Jangan lupa pada mampir ya😘Di karya Teman aku, di jamin seru😊
Namaku Zahra. Aku baru saja lulus dari salah satu Sekolah Menengah Atas di kotaku. Aku terlahir dari kalangan biasa saja, bahkan bisa dibilang kurang mampu. Jika aku tidak mengandalkan beasiswa, mungkin aku tidak bisa mengenyam pendidikan hingga SMA karena masalah ekonomi keluarga. Sebagai anak sulung, aku juga harus membantu keuangan keluarga dengan cara berjualan kue kering secara online.
Tak pernah ku sangka dan tak pernah ku duga, setelah pengumuman kelulusanku, ibu mengenalkan ku pada seorang pria. Dia adalah mas Alzam. Kata ibu dia adalah calon suamiku. Ibu telah merencanakan pernikahanku dengan mas Alzam. Saat itu perasaanku sangat hancur. Aku harus menikah dengan pria asing yang baru dua Minggu aku kenal. Seberapa kuat aku menolak, aku tak bisa melawan kuasa ibu. Air mataku tak hentinya menitih setiap hari hingga acara ijab kabul kami terlaksana.
Pernikahan ini terjadi begitu saja. Bahkan aku belum siap untuk menjadi seorang istri. Setelah resmi menjadi istri mas Alzam, aku langsung dibawa ke rumah milik Mas Alzam yang berada di tengah-tengah kota.
Malam hari ketika aku baru saja ingin merebahkan tubuh ku di tempat tidur, mas Alzam datang dan mendekatiku. Jantungku berdebar, aku takut dan belum siap untuk memberikan apa yang seharusnya menjadi milik mas Alzam.
"Aku tahu kamu belum siap untuk melayaniku, tapi saat ini kamu telah menjadi istriku. Mau tidak mau, melayaniku adalah kewajibanmu," ujarnya sambil membelai rambutku. Dadaku terus berdebar tak menentu saat tangan mas Alzam terus menyapu rambutku.
"Ibumu yang memaksa ku untuk menikahimu karena dia tidak bisa membayar hutang-hutangnya padaku. Anggap saja saat ini ibumu telah menjualmu padaku." Tangan mas Azam menyentuh pipiku dengan lembut hingga menimbulkan debaran jantung yang tak beraturan.
"Bersyukurlah saat ini kamu tidak jual ke tempat pe.la.cu.ran oleh ibumu." Tangan mas Alzam perlahan mulai membuka kancing bajuku.
"Mas," lirihku sambil menepis tangan mas Alzam.
"Jangan menolak jika tidak ingin menggunakan cara kekerasan! Aku menginginkanmu malam ini."
Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika mas Alzam sudah menindih tubuhku. Hanya air mata yang bisa menggantikan jerit dan tangisanku ketika mas Alzam sudah melakukan penyatuan tubuhnya denganku.
Aku merasa kesakitan, tatapi rasa itu perlahan mulai hilang dan gantikan rasa yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Mas Alzam melakukannya dengan lembut hingga membuatku terbuai dalam penyatuannya malam ini.
Mentari pagi telah menyingsing, menyadarkanku dari alam bawah sadar. Perlahan ku coba untuk membuka mata. Sosok mas Alzam yang semalam tidur disampingku kini sudah tidak ada. Tubuhku terasa sangat pegal. Saat aku hendak melangkah ke kamar mandi ada rasa yang mengganjal diarea kewanitaanku. Aku meringis pelan menahan rasa sakit, berharap bisa segera sampai di kamar mandi.
Setelah menyelesaikan ritual mandi, aku pun keluar kamar. Disana aku melihat wanita paruh baya sedang menata hidangan diatas meja.
"Sudah bangun, cah ayu?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Buk," jawabku pelan. Aku sendiri tidak tahu siapa wanita ini karena mas Alzam tak mengatakan apapun. Bahkan saat kami baru tiba tadi malam, tak ada siapapun yang menyambut kedatangan kami.
"Jangan panggil ibu! Panggil saja mbok Inah. Saya pembantu di rumah ini," jelasnya.
"Oh, iya maaf Mbok, saya tidak tahu," ucapku sambil nyengir kearah mbok Inah. "Mas Alzam kemana ya, Mbok?" tanyaku yang celingukan mencari keberadaan mas Alzam.
"Den Al sudah berangkat kerja, Non. Tadi beliau berpesan kalau malam ini tidak bisa pulang cepat karena ada lembur," ujar mbok Inah sambil mengambilkan nasi untukku.
"Non Ara sibuk?" tanya mbok Inah. Aku yang menonton televisi mendongak lalu menggelengkan kepala. "Gak mbok," jawabku singkat.
"Kalau begitu mari Mbok ajak Non Ara untuk melihat-lihat isi rumah ini. Mbok juga akan menunjukkan satu kamar yang tak boleh non Ara buka." Aku pun mengangguk untuk mengikuti langkah mbok Inah.
Mbok Inah membawaku mengelilingi isi setiap ruangan yang ada di rumah mas Alzam. Dia menjelaskan setiap ruangan yang ada. Dan kini tiba saatnya mbok Inah berhenti di depan sebuah kamar yang menggunakan kunci password.
"Non Ara harus ingat, jangan pernah mendekati ataupun masuk ke kamar ini, apapun alasannya. Den Alzam akan sangat marah pada siapapun yang masuk kesini, bahkan mbok sendiri juga tidak tahu ada apa didalam sana," jelas mbok Inah dengan serius.
Aku pun sebenarnya juga penasaran dengan kamar tersebut, mengapa sampai diberi sistem password. Apakah ada sebuah rahasia besar didalam? Aku tidak tahu.
Setelah puas mengelilingi isi rumah mas Alzam, mbok Inah meninggalkanku di teras karena aku suntuk berada di dalam rumah. Pikiranku tak lepas dari pernikahan kami yang sepertinya tak berarti. Bagaimana tidak, mas Alzam hanya terpaksa menikah denganku agar hutang-piutang ibu lunas. Tak ada cinta diantara kita. Mas Alzam hanya ingin menggunakanku untuk menyalurkan hasratnya saja. Bahkan dia sama sekali tak menganggapku sebagai istrinya.
Lamunanku tersentak saat suara wanita menyapaku. "Kamu siapa?" tanyanya.
Wanita cantik yang memiliki kulit putih dan rambut panjang itu semakin mendekatiku.
"Kamu pembantu baru ya? Oh iya, apakah Al ada di dalam? Dari tadi malam aku mencoba untuk menghubunginya tetapi tak direspon. Apa dia baik-baik saja?" tanya wanita itu panjang lebar.
"Mas Al sudah berangkat kerja. Kamu siapa ya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu.
Dengan senyum yang terukir indah, wanita itu menjawab, "Perkenalkan aku Aira, tunangannya Al." Wanita itu mengulurkan tangannya kepadaku. Seketika jantungku berdebar dengan kuat bahkan saat menyalami Aira, tanganku terasa sangat bergementar.
"Kamu kenapa gugup seperti itu?" tanyanya lagi.
"Tidak ada, mbak. Aku hanya gerogi saja, maklum ini adalah hari pertamaku bekerja di sini," dustaku pada Aira.
"Oh iya? Kamu santai aja. Al itu orangnya baik. Ngomong-ngomong nama kamu siapa?"
Aku tersenyum tipis melihat senyum yang mengembang di wajah Aira dan berkata, "Namaku Zahra."
Karena Mas Alzam tidak ada di rumah, Aira pun memutuskan untuk menemuinya ke kantor. Entah mengapa tiba-tiba hatiku terasa nyeri saat mendengar jika wanita itu adalah tunangan dari suamiku. Aku membuang napas kasarku kemudian terlalu menuju ke kamar.
"Ya Tuhan, cobaan apalagi yang Engkau berikan kepadaku? Ternyata aku adalah orang ketiga di antara hubungan mas Alzam dan Aira. Sanggupkah Aku menjalani hari-hariku sebagai istri dari mas Alzam?" Tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja. Hatiku semakin sakit, jika membayangkan hari-hariku selanjutnya hidup tanpa cinta.
"Seharusnya pernikahan ini tidak pernah terjadi." Ku seka jejak air mata yang telah membasahi pipiku. Percuma saja jika aku menangis, karena air mata ini tidak akan berarti.
-BERSAMBUNG-