Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Mahar Yang Di Pinta Nina


Happy reading..........


Hazel benar-benar puas melihat Monica menjadi malu, karena itu adalah tujuan Hazel. Dia memang sengaja melakukan itu untuk membalas Monica, tidak harus dengan kekerasan dan juga kekejaman, tetapi membalas dengan cara yang halus dan cantik itu lebih mengasyikkan.


'Ini belum seberapa Monica. Jika kamu berani mengusik Nina, atau menyakiti Nina. Maka aku akan lebih daripada ini,' batin Hazel sambil tersenyum menyeringai ke arah Monica yang menuju pintu keluar.


Setelah perkenalan selesai, Hazel pun turun dari panggung bersama Nina


menuju meja di mana orang tuanya berada.


"Entah kenapa, Mama merasa kamu sengaja melakukan ini pada Monica, Benarkah Hazel?" tanya Tante Eriska kepada Sang putra.


"Sesekali memberi pelajaran kepada orang agar Jera itu, bukannya tidak salah ya, Mah?" jawab Hazel sambil meminum minumannya.


"Iya, tidak apa. Hanya saja jangan terlalu keterlaluan," timpal Om Sandi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan mulai menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi di atas panggung.


---------------------------


"Mah, aku ngantar Nina pulang dulu ya," ucap Hazel kepada kedua orang tuanya, dan langsung dibalas anggukan oleh tante Eriska dan juga Om Sandi.


Kemudian Nina pun mencium kedua tangan orang tua Hazel, setelah itu mereka pun keluar dari restoran dan menuju mobil.


Kejadian tadi masih terngiang di kepala Nina, dia tidak menyangka jika Hazel telah mempersiapkan semuanya untuk dia. Tepatnya, untuk mempermalukan Monica.


"Nin, apa mahar yang bakal kamu pinta dari aku buat pernikahan nanti?" Tanya Hazel setelah beberapa saat mereka terdiam.


Nina tersenyum, kemudian dia melihat ke arah Hazel sekilas, dan kembali menatap jalanan di depannya. "Tidak! Nina tidak minta apa-apa. Mahar itu semampunya Abang saja," jawab Nina dengan suara yang lembut.


"Tidak sayang! Berapapun mahar yang kamu pinta, pasti akan aku berikan. Sekalipun kamu meminta rumah, mobil, atau yang lainnya aku akan memberikannya untuk kamu."


"Kalau gitu, mahar yang Nina pinta hanya al-fatihah saja."


Hazel tertegun mendengar ucapan Nina, dia memarkirkan Mobilnya di pinggir jalan, lalu duduk miring ke arah Nina.


"Apa hanya al-fatihah saja? Apa tidak ada yang lain? Kenapa harus al-fatihah?" heran Hazel memberondong Nina dengan pertanyaan.


"Karena mahar dengan ayat-ayat suci Alquran itu, bagiku lebih berharga dibandingkan dengan harta. Al-fatihah sudah cukup mewakili semuanya! Apakah Abang bisa?"


"Baiklah, jika itu mau kamu. Insya Allah aku bisa." Mendengar itu, Nina tersenyum senang. Kemudian mereka mau melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Bachtiar.


Sampai di kediaman Bachtiar, Nina pun turun dari mobil Hazel kemudian masuk ke dalam rumah.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di negara Sakura. Dev dan Dea sedang duduk di balkon kamar hotel mereka, sambil menatap indahnya kota Jepang.


"Aku nggak pernah nyangka deh Mas, kalau aku bakalan berada di kota ini. Padahal dulu jauh-jauhnya aku pergi paling ke kota Jakarta saja, itu pun cuma satu kali," ucap Dea sambil menyenderkan kepalanya di bahu Dev.


Rambut yang tergerai indah pun berterbangan tersapu oleh angin, membuat kecantikan dia sangat terpancar. Dengan lembut Dev mengecup kening Dea.


"Kita akan liburan ke berbagai negara, agar kamu bisa melihat jika dunia ini begitu indah dari yang dilihat di layar kaca saja," jelas Dev dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tidur yuk! Udara di sini mulai dingin, aku nggak mau kalau kamu sakit," ajak Dev yang mulai memasukkan tangannya ke sela-sela kaki Dea dan mengangkat tubuh Dea ala Bride style.


Setelah itu Dev membaringkan tubuh Dea di atas kasur dengan perlahan, kemudian dia menatap wajah dia dengan tatapan yang sendu dan penuh dengan keinginan. Dea yang melihat itu mengerti apa yang suaminya mau, kemudian dia pun mengalungkan tangannya ke leher Dev.


Mendapatkan lampu hijau, Dev pun mulai menyerang Dea. Dia mulai melancarkan aksinya dengan perlahan, dan menikmati setiap menit dan detik yang mereka lewati.


Bersambung. . ........