Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Sadar


Happy reading........


Hazel mengantarkan Nina pulang ke kediaman Bachtiar. Selama di dalam mobil Hazel terus melamun, sebab dia memikirkan wanita yang mirip banget dengan Dea. Hazel masih penasaran dengan wanita itu sebab tidak ada yang tidak mirip sedikitpun, semuanya sempurna.


"Nin, apa Dea punya kembaran?" Tanya Hazel membuka pembicaraan.


Nina yang sedang menatap ke arah jalanan, seketika menoleh ke arah pria tampan yang ada di sampingnya. "Kembaran? Maksudnya?" Bingung Nina.


"Nah iya, kembaran. Kan aku tadi nanyanya kembaran? Dea punya kembaran apa enggak?"


Mendengar ucapan pria yang ada di sampingnya, Nina menggeleng dengan cepat dengan dahi mengkerut, dan menatap heran ke Al Hazel. "Dea nggak punya kembaran sama sekali. Aku sedari kecil main sama Dea, tidak pernah melihat dia punya kembaran! Memangnya ada apa?" Tanya Nina pada Hazel.


Hazel terdiam, dia mencoba mencerna ucapan Nina. "Tidak punya ya! Lalu siapa wanita itu?" Gumam Hazel sambil menatap lurus.


"Wanita siapa?" Nina mulai penasaran dengan pertanyaan Hazel.


"Iya, tadi di kantin Rumah Sakit Dev tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Memang wanita itu tidak memakai hijab, tapi wajahnya begitu mirip dengan Dea. Tidak ada yang tidak mirip. Semuanya mirip! Hanya saja, yang membedakan wanita itu tomboy, sedangkan Dea seorang wanita yang muslimah."


Nina terdiam mendengar ucapan Hazel, pikirannya menerobos ke masa lalu, tapi tidak menemukan jika Dea mempunyai seorang kembaran. "Mungkin hanya mirip saja! Di dunia ini kan ada tujuh wajah yang sama!" Tampik Nina pada Hazel.


Tidak ada pembicaraan lagi Setelah itu mereka fokus pada pikirannya masing-masing, hingga tidak terasa mereka pun sudah sampai di kediaman Bachtiar. Dan setelah itu Nina langsung turun dari mobil. "Makasih ya, udah nganterin aku! Kamu hati-hati di jalan," ucap Nina sambil melambaikan tangannya. Hazel menggangguk lalu mulai pergi meninggalkan kediaman Bachtiar.


"Assalamualaikum..." Ucap Nina namun tidak ada yang menjawab, sebab semuanya sudah tertidur. Nina pun langsung masuk ke kamar di mana, di sana dia satu kamar dengan ibu siti, ibunya Dea.


-------------------------


Sedangkan di rumah sakit, Dev baru saja selesai shalat Isya. Lalu dia kembali duduk di samping istrinya, matanya tidak pernah lepas bahkan tidak pernah Bosan menatap wajah pucat Dea. Karena walaupun sudah tiga bulan Dea terbaring, tetapi tidak memudarkan kecantikan Dea sama sekali. Bahkan wajahnya seakan bercahaya, memancarkan kecantikan yang alami di dalam hati.


"Sayang, aku sangat merindukan kamu! Aku sangat rindu sekali, kamu menyisir rambutku, membantu aku memakai baju. Aku juga sangat merindukan tidur di pangkuan kamu! Kapan kamu akan bangun sayang? Emang kamu mau kalau aku tidur di pangkuan wanita lain? Aku ini pria normal, aku sudah menahannya selama 3 bulan. Lalu aku harus menyalurkan ke mana? Emang kamu mau kalau aku nyalurinnya ke wanita lain?" Ucap Dev sambil menatap wajah Dea.


Tangan Dea lagi-lagi bergerak, namun bukan hanya tangan saja kini yang bergerak. Tetapi mata Dea pun mulai bergerak. Dev yang melihat itu Tentu saja sangat bahagia, dia langsung memencet tombol untuk memanggil dokter ke ruangan itu.


Eeuuughhhh


Dia melenguh dan menutup mata kembali, saat silau lampu mengenai matanya. "Sayang, Alhamdulillah Ya Allah... Aku senang sekali kamu sudah bangun! Aku sangat merindukan kamu sayang!" ucap Dev sambil terisak menangis di pelukan Dea.


Tak lama dokter pun datang, dan memeriksa keadaan Dea. Sedangkan Dev menyingkir untuk memberi ruang kepada dokter, demi memeriksa keadaan istrinya.


Air mata Dev benar-benar terus mengalir, Dia benar-benar sangat bahagia melihat istrinya membuka mata setelah 3 bulan tertutup. Hatinya benar-benar membuncah, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya air mata yang mewakili Jika dia benar-benar bahagia melihat istri tercintanya, Bidadari surganya, kini telah bangun dan kembali kepadanya.


"Bagaimana dok, keadaan istri saya?" tanya Dev dengan cemas dan juga penasaran.


Dokter tersenyum. "Alhamdulillah Pak, Ibu Dea sudah sadar dari komanya. Dan kami akan terus memantau, keadaan ibu Dea sampai stabil," Ucap dokter itu juga turut bahagia.


Setelah dokter dan suster pergi, Dev mendekat ke arah Dea lalu menggenggam tangan istrinya, kemudian dia menciumnya beberapa kali, dia juga mencium kening dan kedua pipi Dea, termasuk hidung dan juga kedua matanya. Dev benar-benar bahagia sekali saat ini, bahkan kebahagiaan itu melebihi saat Berlian lahir.


"Sayang, aku sangat bersyukur sekali kamu sudah bangun! Kamu tidak tahu betapa hancurnya aku, melihat kamu tertidur selama 3 bulan," ujar Dev sambil mencium tangan Dea yang basah oleh air mata yang menetes dari kedua matanya.


Dea tersenyum lalu mengangkat satu tangannya, dan mengusap kepala Dev. Sementara itu Dev menutup matanya, merasakan usap lembut dari tangan Dea. Usapan yang selama 3 bulan tidak pernah dia rasakan.


"Mas nggak akan kan, bersama wanita lain? Mas nggak akan menduakan aku kan dengan Nina?" Tanya Dea dengan lirih sambil menatap ke arah Dev.


"Jadi kamu mendengar semuanya sayang? Kamu mendengar ucapanku selama ini?" Tanya Dev kepada istri tercintanya, dan langsung dibalas anggukan oleh Dea.


"Aku tahu semuanya Mas! Aku mendengar semua ucapan kalian. Tetapi entah kenapa, aku tidak bisa membuka mata ini. Rasanya begitu berat! Aku sudah mencobanya, tetapi tidak bisa Mas. Dan saat kamu bilang kalau kamu akan bersama Nina, aku benar-benar enggak rela Mas, aku nggak Ridho." Dea menekuk wajahnya.


Mendengar itu Dev terkekeh kecil sambil menangis. Bahkan dia terus aja menciumi tangan Dea, walaupun ingus dan air matanya sudah tidak bisa dia lap lagi. "Sayang! Mana mungkin aku menduakan kamu? Mana mungkin aku bersama dengan Nina? Kamu adalah bidadari surgaku! Hanya kamu seorang, tidak ada yang lain. Aku berucap seperti itu agar kamu bangun dari tidur kamu, agar kamu tidak terus-menerus berada dalam mimpi indah kamu! Karena aku juga mau bersama dengan kamu, dalam sebuah mimpi yang indah."


Dev tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia benar-benar sangat bahagia karena Allah sudah mengabulkan setiap doa-doanya, sehingga membuat istrinya sekarang sudah bangun. Walaupun sudah tiga bulan Dea menutup mata dan tidak berucap satu kata patah pun.


Bersambung. .........