
Happy Reading......
Hazel terus mengikuti kemana Nina melangkah, dia berada di belakang wanita itu, untuk membantunya membawa belanjaan.
Setelah semua sudah di beli, mereka pun menuju mobil. Nina melihat Hazel berkeringat, dia pun melihat ke arah penjual es kelapa dan membelinya. Sementara itu Hazel langsung masuk kedalam mobil untuk mendinginkan badannya yang terasa panas.
"Uuuhh... Panas ternyata berada di dalam pasar," Gumam Hazel sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah.
Memang itu adalah perdana Hazel masuk kedalam pasar, dan menginjakkan kaki nya di pasar. Dan semua itu karena Nina. Biasanya Hazel akan anti dengan yang namanya pasar, karena menurut Hazel, kotor, bau dan sesak. Dan ternyata memang benar.
Brak
Pintu mobil di tutup dan Nina pun masuk kedalam. Dia menyerahkan satu buah gelas plastik pada Hazel.
"Apa itu?" Tanya Hazel sambil melihat ke arah tangan Nina yang sedang memegang gelas pelastik.
"Ini es kelapa, di jamin bersih dan ori kok! No KW-KW," ujar Nina.
Hazel terkekeh mendengar ucapan wanita berjilbab di samping nya itu, kemudian dia pun mengambil es kelapa itu dari tangan Nina, dan meminumnya dengan ragu.
Hazel melihat Nina meminum es kelapa itu dengan lahap, seketika dia menelan ludah nya dengan kasar. Kemudian dia pun mulai meminumnya dengan ragu-ragu. Dan saat es kelapa itu meluncur membasahi tenggorokan kering Hazel, dia bahkan meminum es itu sampai habis setengah gelas plastik.
'Ternyata minuman di pinggir jalan, tidak seburuk yang aku bayangkan,' batin Hazel sambil meminum es kelapa itu sampai tandas.
"Apa ada yang dibeli lagi?" Tanya Hazel pada Nina. Namun Nina menggeleng dengan cepat. "Tidak ada! Kiita pulang saja. Takutnya nanti keburu masak-masak, Ini kan udah jam 09.00" jawab Nina.
Hazel menggangguk, lalu menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah kediaman Bachtiar. Sementara itu di rumah sakit, Dev dan Dea sudah bersiap untuk untuk pulang ke rumah, dan saat ini Dea sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh Dev menuju ke mobil.
"Kamu kangen sama Berlian, pengen tidur sama Brrlian. Terus aku gimana? Kamu nggak kangen sama aku? Nggak kangen kamu tidur sama aku? Kamu nggak kangen aku belai-belai?" Goda Dev dengan wajah ditekuk.
Dea terkekeh melihat wajah Dev yang ditekuk, dia pun memegang tangan suaminya. "Aku juga kangen sama Mas! Tapi, aku juga sangat merindukan Berlian. Kalian begitu penting dalam hidup aku!" Jawab Dea sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar Dev.
Setelah sampai di rumah, Dev langsung menggendong Dea untuk masuk ke dalam rumah. Padahal Dea sudah menolak, tetapi Dev memaksa, akhirnya Dea hanya bisa pasrah.
Dea begitu senang saat sudah kembali ke rumah itu, rumah di mana Dia merasakan kehangatan dan kebahagiaan, dan juga rumah yang selalu mengelilinginya dengan penuh rasa cinta.
Semua menyambut Dea dengan gembira, masakan pun sudah siap tersedia di dapur. Saat ini Dea sedang duduk di ruang keluarga, bersama dengan keluarganya dan juga keluarga Dev. Dan disana juga ada keluarganya Al dan juga sahabat Dev. Dan untuk ayah serta Kakak Dea, akan datang nanti malam karena lagi dijemput oleh sopir pribadi Dev.
Tidak terasa seminggu telah berlalu, semenjak kepulangan Dea dan semenjak itu pula Dea selalu menghabiskan waktu-waktunya bersama dengan Berlian. Dan juga selama seminggu itu pula, Dev masih belum menyentuh Dea, walaupun sebenarnya dia ingin, tetapi tidak bisa. Sebab dia kasihan karena Dea baru saja bangun dari koma dan juga tidur panjangnya.
Tetapi malam ini, Dev sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia memeluk tubuh Dea dari belakang, saat Dea baru saja menidurkan Berlian di dalam box bayi.
"Kenapa Mas?" Tanya Dea sambil melingkarkan tangannya di leher Dev.
"Sayang, aku kangen! Malam ini kita belah durian yuk!" Ajak Dev dengan Tatapan yang sudah memancarkan sebuah has-rat.
Dea tersenyum, dia tahu apa yang dimaksud dengan ucapan suaminya itu. Dea pun mengangguk, dan Dev yang melihat itu segera menggendong tubuh Dea dan membaringkannya di atas kasur dengan perlahan, seperti sebuah Sutra yang takut jika akan terkoyak.
Mereka pun mulai menyatukan cinta mereka. Malam itu penuh dengan kehangatan. Kehangatan yang selama 3 bulan ini terasa dingin, dan mereka habiskan malam itu hingga beberapa ronde. Bahkan kamar yang sudah terasa dingin karena AC pun, tidak mereka rasakan sama sekali. Karena api gair-ah di dalam tubuh mereka, begitu mengguncah sampai ke ubun-ubun.
Dev sangat senang sebab malam ini apa yang 3 bulan ini dia tahan, akhirnya tersalurkan juga. Sebagai lelaki normal, tentu saja dia merasa puas sebab kebutuhannya sudah terpenuhi.
Bersambung. .........