Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Pertemukan Kami


Happy reading......


"Kenapa diam Zel? Jawab pertanyaan Mama, siapa wanita itu?" Tanya Tante Eriska sambil menatap ke arah Hazel dengan tatapan serius.


"Iya Mah, Pah, memang aku kemarin ke pestanya Olive itu, bersama perempuan. Memangnya salah ya, kalau aku pergi bersama perempuan?"


"Nggak salah, Mama malah senang. Hanya saja Mama penasaran dengan wanita itu? Apa benar dia wanita yang dibicarakan oleh Monica, dan benar jika wanita itu hanya ingin menguras harta kamu?"


Hazel memejamkan matanya, mencoba meredamkan emosi yang ada di dalam hati dan juga diri dia. Kemudian dia menghela nafasnya dengan panjang, lalu menatap kedua orang tuanya silih berganti.


"Dia bukan wanita seperti itu! Aku tidak tahu motif apa yang membuat Monica berbicara seperti itu kepada Mama? Tapi satu hal, dia wanita yang baik, budi dan akhlak. Semuanya baik, itu kenapa aku pergi dengan dia."


Om Sandi dan tante Eriska, melirik satu sama lain. Mereka seakan mengerti dengan ucapan Hazel. "Apa kamu menyukainya?" tanya Om Sandi pada Hazel.


Tanpa ragu Hazel pun mengangguk, dan itu membuat tante Eriska dan juga Om Sandi tersenyum satu sama lain. Mereka begitu bahagia, sebab akhirnya sebentar lagi mereka akan mempunyai menantu.


"Alhamdulillah... Mama senang banget! Kalau gitu, kamu cepet dong ngelamar dia buat jadi istri kamu. Jangan lama-lama, nanti kalau dia diambil sama orang lain baru tahu loh," ujar tante Eriska memberi semangat kepada Hazel.


"Tapi ada satu hal yang harus Mama dan Papa tahu tentang dia," ucap Hazel dengan nada yang serius.


Tante Eriska dan juga Om Sandi yang tadinya tersenyum seketika wajahnya menjadi datar kembali. Mereka menatap Hazel dengan Tatapan yang begitu dalam.


"Satu hal yang harus Mama, dan Papa tahu! Nama dia adalah Nina, dan dia bukanlah seorang gadis."


Tante Eriska mengerutkan dahinya, sambil menatap ke arah Hazel. "Maksud kamu, dia tidak perawan? Ya sudah, lagian kamu juga sering main perempuan kan? Terus masalahnya di mana?" Tanya Tante Eriska dengan heran.


Mendengar itu Hazel menggeleng dengan cepat. "Tidak Ma! Bukan masalah perawan atau tidaknya. Tapi statusnya, dia bukanlah seorang gadis lagi. Tetapi, dia adalah seorang janda," Jujur Hazel kepada orang tuanya.


"Apa! Janda? Maksudnya wanita itu seorang janda!" Kaget tante Eriska sambil menatap dengan mata membulat ke arah Hazel, dan langsung dibalas anggukan Hazel dengan mantap.


"Kenapa harus janda Hazel? Yang gadis juga kan banyak? Walaupun mereka kebanyakan tidak perawan. Kenapa harus janda?" Tanya Om Sandi kepada anak semata wayang nya itu.


"Aku tahu, banyak gadis di luaran sana. Tetapi apa bisa sifat dan akhlaknya seperti apa yang aku mau! Seperti kriteria aku? Tidak ada Mah, Pah. Nina mungkin seorang janda, tetapi mana ada perempuan yang mau menjadi janda, Jika saja suaminya setia? Mungkin Nina juga tidak akan menjadi janda. Dan aku percaya, Tuhan sudah menakdirkan Nina untuk aku. Tuhan tidak memberikanku jodoh, tidak menautkan hatiku kepada wanita lain, dan saat bertemu dengan Nina, hatiku malah terpaut kepadanya. Dan aku sangat yakin,.dia adalah jodohku," tutur Hazel panjang lebar.


Tante Eriska dan Om Sandi terdiam, mendengar ucapan Hazel. Mereka menyimak kata, per kata yang keluar dari mulut Hazel. Mereka juga tidak ingin menjadi egois untuk kebahagiaan Putra semata wayang mereka.


"Kenapa dia bisa menjadi janda?" Tanya Tante Eriska kepada Hazel dengan penasaran.


Hazel pun menjelaskan kenapa Nina bisa menjadi janda. Dia menceritakan apa yang dia dengar waktu Nina bercerita kepada Dea, dan kedua orang tua Hazel yang mendengar itu, tentu saja sangat terkejut. Mereka tidak menyangka hidup Nina begitu miris, sebab diselingkuhi oleh suaminya apalagi dalam keadaan hamil muda.


Sebagai perempuan dan sebagai seorang ibu, tentu saja tante Eriska sangat paham dengan perasaan Nina. Dia tahu pasti perasaan Nina saat itu sangat sakit dan juga hancur, karena menyaksikan suaminya sendiri berselingkuh dengan wanita lain.


"Kalau begitu, Mama dan Papa ingin bertemu dengan Nina. Kamu perkenalkan dia kepada kami!" Pinta tante Eriska kepada Hazel dan langsung dibalas anggukan dengan wajah sumringah oleh Hazel.


"Pasti Mah, aku akan bawa dia kepada kalian. Tetapi aku akan melamarnya besok lusa. Aku berharap, dia akan menerimaku. Setelah itu baru aku akan memperkenalkan dia kepada kalian, bagaimana?" Tanya Hazel kepada Mama dan juga Papanya.


"Itu, lebih baik Nak. Kami setuju," Jawab Om Sandi sambil menganggukan kepalanya dengan mantap.


Awalnya mereka ragu saat mendengar Hazel suka kepada seorang janda Tetapi, setelah mendengar cerita Hazel tentang Nina, mereka jadi penasaran dengan sosok Nina. Mereka juga kasihan mendengar cerita miris Nina, karena walau bagaimanapun mereka adalah orang tua.


Bersambung.............