Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Burung Slebew


Happy Reading ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Saat ini Dev dan Alvin tengah meeting bersama klien di kliennya yang dari Singapore. Mereka meeting di salah satu Cafe.


"Baik Pak, saya harap kerja sama kita bisa saling menguntungkan ya!" Ucap Dev sambil menjabat tangan klien nya.


Setelah meeting selesai Dev dan Alvin berencana akan kembali ke kantor lagi.


Brak


Pintu mobil tertutup, Alvin melajukan mobil nya meninggalkan Cafe tersebut.


Dia tempat lain, 2 orang sedang duduk di sebuah kursi di restoran.


Mereka tengah merencanakan sesuatu yang jahat.


"Pokoknya kamu harus berhasil. Pantau terus mereka, dan ketika ada celah kamu serang dia!" Ucap seseorang dengan kacamata coklat di mata nya.


"Siap Bos. Bos tenang saja! Saya akan menghabisi wanita itu." Jawab seseorang yang memakai jaket maroon.


Setelah membicarakan rencana mereka, orang yang berjaket marun itu pun pergi. Kini tinggalah seoarang yang memakai kacamata dengan senyum menyeringai di wajah nya.


"Lihat saja kau wanita kampung! Akan ku buat kau melayang kedalam neraka." Gumam orang itu dengan senyum penuh kebencian.


๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Malam ini Dea sedang membuat jagung bakar pesanan Dira. Tiba tiba saja Dira ingin jagung bakar buatan Dea.


Dan Dea dengan senang hati membuatkan nya untuk Kakak ipar nya itu.


Mereka melakukan acara bakar bakar jagung di taman belakang. Di sana mereka bisa bersantai dan berkumpul.


"Za, kamu yakin lusa udah berangkat lagi ke London?" Tanya Papa Abraham.


"Iya Pa! Mau gimana lagi kan? Kerjaan aku banyak banget soalnya! Nanti satu bulan sekali aku pulang. Dan saat mendekati persalinan Dira, aku akan stay di sini." Jelas Reza


Reza memang punya perusahaan di London hasil dari usaha dan kerja keras nya sendiri.


"Kak, Kak. Lo. Mah tega banget deh? Masa istri lagi bunting Lo tinggalin?" Ledek Dev sambil memakan cemilan nya.


"Ya terus.... Gw juga harus kerja buat masa depan anak anak gw kali? Lagian Lo kapan noh buntingin istri Lo? Jangan cuma karena belum cinta Lo gak ngasih nafkah batin sama istri Lo! Gini ya Dev, setelah menikah itu nafkah batin wajib. Dosa loh, Lo gak ngasih dia? Nanti kalau dia nyari nya di pria lain gimana? Atau jangan jangan....."


Reza sengaja menggantung ucapan nya.


"Jangan jangan apa?" Tanya Dev.


"Ya, Jangan-jangan Lo itu punya kelainan? Atau burung slebew Lo itu kecil?" Ledek Reza sambil terkekeh geli.


Bugh


"Kamvret Lo Kak! Gw sehat dan normal ya! Lagian Gw udah ngelakuin nya kok sama Dea." Bohong Dev.


Gengsi kali jika dia harus mengakui jika dia bahkan belum melakukan nya selain ci uman.


"Bagus deh! Gw kira Lo itu culun."


"Dasar Lo kakak gak ada akhlak." Kesal Dev lalu berdiri dan menghampiri Dea yang sedang mengusap air mata nya karena perih terkena asap.


"Udah sini, gantian biar aku yang kipasin." Tawar Dev sambil mengambil kipas di tangan Dea.


"Makasih Mas."


Setelah acara bakar bakar, semua pun masuk kedalam kamar masing masing untuk istirahat.


Dev terdiam di atas ranjang dengan tatapan lurus. Dia masih terngiang ngiang ucapan kakak nya tadi sebelum masuk kamar.


"Jika Lo gak memberikan nafkah batin sama istri Lo. Jangan salahkan dia jika nanti dia nyari nya sama pria lain? Emang Lo gak mau punya anak?" Ucap Reza sambil menepuk pundak Dev.


"Mas.... Mas...." Panggil Dea sambil menepuk bahu Dev.


Dev seketika terjingkat kaget saat Dea menepuk pundak nya dan sudah berada di sisi nya.


"Mas ngelamun?"


Dev mengheleng cepat, dia tak mau terlihat gugup. Padahal saat ini dada nya sedang berdebar kuat untuk mengatakan hal itu.


Dea pun membaringkan badan nya dan menarik selimut. Baru saja Dea akan menutup mata nya, tiba tiba Dev memanggil nya.


"De..."


"Iya Mas.."


"Eum, anu.... Anu aku..."


Dev terlihat ragu dan malu untuk mengucapkan nya. Padahal itu adalah hal yang mudah tapi sangat sulit di ungkapkan.


"Kenapa Mas? Anu apa? Kamu sakit?" Tanya Dea dengan dahi mengekrut lalu bangkit dari tidur nya.


"Itu.... Anu... Aku..."


'Duh Dev, timbang bilang aja. Dea, aku boleh kan minta gak hak ku malam ini?' Batin Dev merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa Mas?".


" Ah, nggak papa! Kamu tidur aja ini sudah malam." Ucap Dev akhirnya.


Dea terlihat sangat heran dengan gelagat suaminya itu. Tidak biasanya Dev begitu.


'Sepertinya ada yang mau Mas Dev sampaikan sama aku! Cuma dia ragu?' Batin Dea menerka nerka.


Bersambung......