Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Aku Juga Mau Hamil


Happy Reading 😘


Saat ini di balkon di atas atap, tempat biasanya Dev untuk bersantai bersama dengan Dilon, Hazel dan juga Al. Mereka berempat sedang duduk bersama sambil menikmati indahnya sore hari.


"Dil, lo benar mau sama si ember?" Tanya Dev dengan alis terangkat 1 dan tatapan menyipit ke arah Dilon.


"Enggak! Lagian si Hazel didengar," Ketus Dilon.


"Lah, kan Gue bicara apa adanya kali? Lagian Lo udah pernah nyicipin dia kan? Dan so pasti, lo ada rasa sama dia?"!Timpal Hazel dengan menduga duga.


" Iya lo bener, gue emang pernah nyicipin dia. Tapi kan bukan dia doang yang pernah gue cicipin? Kan banyak juga wanita yang lain. Dan apa pernah gue menaruh rasa sama mereka? Enggak kan! Lagian dia udah cocok kok jadi pelayan di Villa gue," Ucap Dilon dengan enteng sambil meminum jusnya.


"Lalu kalian ini mau sampai kapan jomblo terus? Ingat ya, umur kalian ini udah kepala tiga. Kalau kalian jomblo terus, nanti nggak laku-laku loh sampai tua," Ledek Al yang sedari tadi diam.


Mendengar ucapan Al, Dilon dan hazal saling melirik satu sama lain, kemudian mereka berdua menatap Al serempak.


"Eh, gue ini baru umur 27 ya! Enak aja gue dibilang kepala tiga, masih jauh. Lagian gue masih pengen senang-senang, masih pengen healing ke sana sini, masih pengen Adventure," Ucap Hazel.


"Ya gue juga sama, gue juga masih pengen senang-senang dulu sana-sini. Tapi ya kalau emang udah ada yang klop, dan udah ada yang nyaman di hati gue, ya udah kenapa nggak?" Jawab Dilon.


Sementara itu di lantai 2, tepatnya di sebuah kamar. Dea baru saja selesai menunaikan shalat ashar, dia melihat ke arah pintu, berharap Dev akan masuk ke dalam kamarnya.


"Mas Dev ke mana ya?" Gumam Dea sambil berjalan ke arah ranjang, dia tidak tahu jika Dev saat ini sedang bersama teman-temannya di atap.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dev, tapi ternyata ponsel Dev juga ada di kamar. Akhirnya dia pun memutuskan panggilan.


"Mas Dev ke mana sih? Ya udah deh aku turun aja ke bawah cari dia."


Saat Dea akan menuruni tangga, tiba-tiba Bagus memanggilnya. "Dea kamu mau ngapain?" Teriak Bagus.


"Ini Kak, aku mau ke lantai bawah. Aku mau nyari Mas Dev," Ucap Dea.


"Ya sudah, ayo kalau gitu Kakak tuntun. Kamu tidak boleh naik turun tangga kayak gini, perut kamu kan sudah besar nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana? Kakak akan bilang sama Dev untuk memindahkan kamar kamu ke lantai bawah," Tutur Bagus dengan penuh perhatian pada sang Adik.


Setelah sampai di lantai bawah, Dea mencari ke sana dan ke sini, tapi dia tidak menemukan Dev. Akhirnya dia bertanya kepada sang mertua. "Mah ada lihat Mas Dev nggak?" Tanya Dea pada Mama Linda yang sedang menyiapkan makan malam bersama ibunya Dea.


"Oh Dev, dia sedang ada di atap. Dia sedang kumpul bersama dengan teman-temannya," Ujar Mama Linda.


Mendengar itu Dea mengangguk, kemudian dia duduk di kursi meja makan. Dia tidak ingin mengganggu Dave bersama teman-temannya, dia tidak ingin mengekang Dev. Dia memberikan waktu untuk Dev bersantai dengan sahabat-sahabatnya, karena selama ini Dev jarang bersantai bersama sahabat-sahabatnya.


di sana juga sudah ada Lala dan juga Nina yang sedang membantu memasak.


"Nggak usah Nak, kamu kan lagi hamil besar. Kamu duduk di sini aja ya! Lagian ada Lala dan juga Nina kok yang bantuin Mama, ada ibu kamu juga. Jadi nggak usah, kamu duduk aja di sini," Ucap Mama Linda dengan penuh kasih sayang.


Bu Siti begitu bahagia saat melihat kalau sahabatnya begitu menyayangi dan memperhatikan putrinya, sebagai seorang ibu tentu saja dia sangat bahagia jika putrinya juga bahagia. Dia sangat bersyukur sebab Dea begitu disayangi di keluarga ini.


Hari menjelang magrib Dev pun masuk ke dalam kamar, dan saat dia masuk dia melihat Jika Dea sedang mempersiapkan sajadah dan juga Sarung untuk dia shalat maggrib.


"Mas bersih-bersih dulu gih, kita shalat maghrib," Ujar Dea.


Dev mengangguk kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi, 15 menit sudah Dev pun keluar dan memakai pakaian yang bersih untuk shalat maghrib. Setelah itu mereka pun menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


"Kamu dari mana aja Mas?" Tanya Dea setelah shalat maghrib selesai.


"Aku habis dari atap, kumpul sama sahabat sahabat aku. Maaf ya aku tadi nggak bilang, habisnya kan kamu tadi lagi tidur."


Memang saat Dev meninggalkan Dea ke atap, Dea sedang tertidur. Tapi tidak lama hanya beberapa menit saja Dea sudah terbangun, sebab kehamilan yang mulai membesar, membuat tidur Dea juga semakin tidak nyenyak.


Dev menuntun Dea dengan perlahan menuruni tangga ke lantai bawah untuk menuju meja makan, sebab semua orang sudah menunggu untuk makan malam.


Dengan cekatan Dea mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya, setelah itu dia mengambil untuk dirinya sendiri. Semua pun makan malam bersama di meja makan, bahkan Papa Bachtiar melarang semua untuk pulang termasuk Dilon, Hazel, Lala dan Al. Papa Bachtiar meminta semua untuk menginap di rumahnya, sebab kamar tamu di sana juga banyak jadi cukup untuk menampung semua orang.


"Dev, Kakak mau kamu nanti pindah aja kamarnya ke lantai bawah. Jujur kakak melihat Dea naik turun tangga sangat takut. Takutnya nanti Dea terpeleset dan terjadi apa-apa dengan kandungannya, sebaiknya kita menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan Dev!" Ujar Kak Bagus sambil memakan makanannya.


"Nah Papa setuju," Ucap Papa Bachtiar. "Ayah juga setuju!" Timpal Ayah Rozak dan semua juga setuju, yang ada di meja makan demi keselamatannya Dea.


"Baiklah, nanti Dev akan pindah kamar ke lantai bawah. Tapi semuanya harus diurus juga," Ucap Dev, sedangkan Dea hanya diam dia akan mematuhi apapun itu untuk kebaikannya.


Jam menunjukkan pukul 10.00 malam, semua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Di kamar di lantai bawah Lala dan Al Masih berbincang sambil berpelukan di atas ranjang.


"Sayang, aku tuh pengen banget tahu hamil. Melihat Kak Dea hamil dan mengandung seperti itu, aku juga mau. Lagian umur aku kan udah mau 20, udah bisa ngelahirin anak?" Ucap Lala sambil mengelus dada Al dengan gerakan abstrak.


"Kamu yakin mau punya anak?" Tanya Al dan langsung dibalas anggukan oleh Lala,


"Baiklah kita akan mulai proses pembuatannya, tapi tidak di sini nanti aja di rumah," Ucap Al, mendengar itu Lala langsung tersenyum sumringah dan memeluk tubuh suaminya dengan erat, "Makasih Sayang!" Ucap Lala langsung dibalas anggukan oleh Al dan kecupan hangat di dahi Lala.


Bersambung,.......