Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Mengikat


Happy Reading ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


3 hari Mama Linda di rawat di rumah sakit, kini beliau sudah boleh pulang oleh dokter.


Mama akan di jemput oleh Reza, sedangkan Dev ke kantor nya.


"Aunty, ini bunga nya di taruh dimana?" Tanya Arumi saat membantu Dea menata ruang tamu dengan Bunga.


"Di sana saja sayang, di pojokan itu." Tunjuk Dea pada Vas bunga di meja dekat lemari.


Arumi mengangguk lalu menaruh bunga nya di vas.


"Duh anak Momy! Lagi apa sih? Sibuk banget? Momy cariin ternyata di sini sama aunty Dea."


"Ini Mom, Aku lagi naruh bunga mawar di vas biar cantik! Iya gak Aunty?" Jawab Arumi sambil melirik ke arah Dea.


"Iya sayang. Kak udah makan belum?" Tanya Dea pada Indira.


"Belum nih. Kaka kok mual mau makan? Pengen yang seger seger gitu! Kayak rujak mangga muda. Kayaknya enak deh!" Ucap Indira.


Dea tersenyum lalu duduk di sebelah Indira.


"Mau Dea cariin gak?" Tawar Dea


"Nggak usah, tadi udah minta tolong sama pelayan. Oh ya De, Kakak mau nanya dong! Boleh gak?"


"Ya boleh dong Kak! Masa nanya gak boleh?" Kekeh Dea


"Itu De, Kakak mau tanya sama kamu! Apa kamu sudah mencintai Dev? Atau sebaliknya? Dev sudah mencintai kamu?" Tanya Indira dengan hati hati.


Dea menggeleng lemah.


"Aku gak tahu Kak! Apakah Mas Dev sudah mencintaiku atau belum? Tapi aku tahu, jika ia sedang berusaha. Tapi untuk aku sendiri, aku belum bisa kak! Aku menutup nya."


"Hah! Kenapa De?" Kaget Dira


"Ya, Dea cuma gak mau saja Kak! Jika nanti saat Dea sudah mencintai Mas Dev, tapi ternyata hati Mas Dev bukan buat Dea? Dea gak mau sakit kak, biar sakit sedikit saja."


Indira mengangguk paham dengan perasaan Dea. Mungkin jika ia ada di posisi Dea, dia pun pasti akan melakukan hal yang sama.


"Kakak paham apa yang membuatmu begitu! Tapi satu, De. Kaka yakin jika Dev itu tipekal pria setia. Hanya saja, kamu harus berusaha mengikat nya dan menghempaskan pelakor itu?" Ucap Dira dengan menggebu gebu.


"Mengikat? Mengikat gimana Kak?" Bingung Dea.


"Ya dengan kamu hamil, Dea."


Dea menggeleng cepat. Dan itu membuat Dira tak paham.


"Kamu gak mau hamil?" Heran Dira.


"Mau lah kak! Wanita mana sih yang gak mau hamil? Dea cuma gak mau, menjadikan kehamilan Dea sebagai tambang buat Mas Dev. Jika Dea memiliki raga nya, tapi jiwa nya tidak, buat apa Kak?


Dea ingin hamil jika Mas Dev sudah mencintai Dea. Agar nanti perjuangan Dea tidak sia sia." Jelas Dea.


Dea mengangguk setuju, lalu mereka pun membicarakan soal kehamilan dan proses persalinanpersalinan Dira nanti.


Kebetulan Dira juga lagi hamil anak ke dua, dan kandungan nya sudah berusia 5 bulan.


Dea pamit ke Indira untuk memasak makan siang, dia ingin membawa nya ke kantor Dev.


Dia akan memulai nya lagi dari awal. Dea ingin menghangatkan kembali kehangatan rumah tangga nya yang sempat dingin 3 hari ini.


"Kak Dira benar! Aku harus berjuang untuk membuat Mas Dev jatuh cinta sama aku. Dan aku harus mengembalikan wanita itu pada tempat nya?" Gumam Dea dengan semangat yang tinggi.


Setelah makanan siap, tak lama Mama dan Papa sudah sampai.


Mama yang mencium aroma masakan lezat, segera menuju dapur bersama Papa dan Reza.


"Waaah, pantas saja wangi? Ternyata anak gadis Mama yg masak?" Ucap Mama Linda.


Dea mencium tangan Mama dan memeluk nya.


"Maaf ya Ma, kalau Dea gak bisa ikut jemput!"


"Gak papa sayang! Kamu masak apa? Kok Mama jadi laper ya?" Kekeh Mama sambil duduk di kursi.


"Nah, kebetulan ini kan udah mau jam makan siang. Ini aku masakin opor ayam spesial buat Mama. Tapi maaf, aku gak bisa ikut gabung! Aku mau antar makan siang ke kantornya Mas Dev." Jelas Dea


"Oh begitu! Bagus sayang, Mama dukung. Pokok nya kamu gak boleh kasih cela sedikitpun buat pelakor itu?" Ucap Mama dengan antusias.


Dea mengangguk lalu pamit ke kamar untuk siap siap.


"Jika Dev sampai memilih wanita rendahan itu? Maka sungguh dia amat sangat rugi?" Ucap Reza sambil menatap punggung Dea.


"Iya Za. Papa dan Mama berharap mereka sudah saling mencintai dan OTW mempunyai anak." Ujar Papa


Mereka pun memakan masakan Dea, Dira dan Arumi juga ikut bergabung di meja makan.


Mereka begitu sangat menikmati masakan Dea. Karena masakan Dea benar benar enak dan full rempah.


"Gak nyangka aku kalau kamu jago masak De?" Puji Dira saat Dea sudah siap dengan pakaian Muslimah nya dan berjalan mengambil rantang di dapur.


"Alhamdulillah kak, itu resep dari Ibu. Dea senang kalau Kak Dira suka dan gak mual?"


"Iya ya! Kok aku gak mual ya? Waaah, kayaknya aku bakal cocok nih makan nya sama masakan kamu De?"


"Benarkah? Kalau begitu nanti Dea masakin buat Kak Dira. Biar ponakan Dea di dalam perut ada asupan gizi nya! Yasudah kalau begitu Dea pamit dulu ya, Ma, Pa, Kaka. Assalamu'alaikum...." Ucap Dea sambil mencium tangan kedua mertua nya.


"Waalaikumsalam....." Jawab semua serempak.


Dea pun berjalan keluar Mansion dan masuk kedalam mobil.


Bersambung..... .