
Happy Reading ๐
Hari ini Dea sudah boleh pulang oleh pihak rumah sakit, karena kondisi dia juga sudah jauh lebih baik, dan selama di sana, Dev bahkan tidak meninggalkan Dea walau satu detik pun.
"Mas, lepasin aku! Aku bisa jalan sendiri." Pinta Dea sambil meronta dalam gendongan Dev.
Saat dia akan turun dari ranjang pasien, Dev langsung menggendong tubuh Dea untuk menuju mobilnya. Padahal dia sudah meminta untuk diturunkan, tetapi Dev tidak mau karena dia tidak ingin dia kelelahan, dan terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Diamlah sayang, atau aku cium kamu di sini," Ancam Dev dengan senyum miring, dan tatapan menggoda ke arah Dea.
Mendengar itu Dea pun seketika bungkam, lalu dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Dev. Dia malu dilihat oleh semua orang.
Dengan perlahan Dev menurunkan dan mendudukkan tubuh Dea di jok mobil, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya.
"Mas, harusnya kamu tadi jangan gendong aku kayak gitu. Aku malu tahu!" Protes Dea saat dia sudah memasuki mobil.
"Kenapa harus malu sayang, kan aku suami kamu? Kecuali aku selingkuhan kamu. Lagi pula peduli amat kamu dengan pandangan orang lain, toh di sini yang berumah tangga kan kita. Aku hanya nggak mau aja, kalau terjadi apa-apa sama kamu dan juga anak kita. Aku nggak mau jika kamu kelelahan lagi, jadi mulai sekarang, kamu apa-apa itu harus bilang sama aku ya!" Ujar Dev sambil mengusap perut Dea.
"Apa nggak terlalu berlebihan Mas?" Keluh Dea sambil menatap suaminya.
"Nggak ada yang berlebihan sayang kalau buat kamu!" Ucap lembut Dev sambil mengecup perut Dea dengan lembut. "Sayang anak Papa, kamu baik-baik ya di dalam sana. Jangan nakal, dan jangan buat Mama Kamu kecapean"
Dea yang melihat itu seketika hatinya menghangat, dia tidak menyangka jika awalnya dia bersama Dev saling bersitegang, bahkan menolak satu sama lain. Tapi sekarang dia dan Dev bahkan bagaikan suami istri yang benar-benar bahagia dan penuh cinta.
Dev pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit, namun di tengah jalan dia meminta dibelikan ayam bakar yang ada di depan gang sebelum masuk ke dalam Perumahan mewah milik Dev.
๐น
๐น
๐น
"Kamu ada yang dibeli nggak sayang? Kalau ada ambil aja," Ucap Mama Rose sambil mengusap rambut Lala.
"Paling deodoran aja sih Ma, sama shampo aku habis." Jawab Lala lalu dia pun menuju tempat di mana barang yang ia cari berada.
"Euum, mana ya" Gumam Lala sambil melirik ke sana ke sini, menatap Jejeran merk shampo yang ada di hadapannya.
Saat Lala memegang satu shampo. Ternyata ada seseorang juga yang memegang sampo itu, dan saat Lala melihat ke samping. Betapa kagetnya dia saat melihat orang yang selama ini dia berusaha maafkan, berada di sampingnya dan menatapnya dengan Tatapan yang Lala sendiri pun tidak tahu itu tatapan apa?
"Lala...." Panggil wanita itu, yang tak lain adalah mama kandung Lala.
Tentu saja Lala menjauh, dia hendak pergi dari sana tapi tangannya dicekal oleh Mama nya. Lalu lala pun berbalik. "Lepaskan tangan saya," Ucap Lala, namun wanita itu malah menggeleng.
"Nggak Nak! Mama mau bicara sebentar sama kamu. Tolonglah kasih Mama waktu sebentar saja, untuk bicara sama kamu." Pinta Mama kandung Lala, sambil menatap Lala dengan wajah memelas.
"Maaf Lala nggak punya waktu," Ucap Lala sambil melepas pegangan tangan wanita itu, namun wanita itu menggeleng dan memeluk tubuh Lala tiba-tiba.
Seketika badan Lala menjadi kaku. Itu adalah pelukan yang selama ini tidak pernah Lala rasakan. Pelukan yang di mana, Lala selalu merindukannya, Di saat dia terpuruk. Sekarang pelukan itu ia dapatkan saat hatinya sudah benar-benar kecewa. Dan sekarang pelukan itu Lala dapatkan saat hatinya sudah terluka. Luka yang begitu dalam.
Lala melepaskan pelukan itu dengan kasar,l alu menatap wanita hamil di hadapannya itu dengan Tatapan yang begitu tajam. "Ke mana anda selama ini? Apa yang anda lakukan pada kami? Apa anda tahu bagaimana menderitanya kam? Sedangkan anda bahagia di atas penderitaan kami. Ke mana anda, di saat saya butuh, dan disaat Papa saya butuh? Anda malah bersenang-senang dengan laki-laki lain. Sedangkan kami harus bertahan hidup! Kami harus memikirkan apakah kami akan makan atau tidak besok. Apa anda memikirkan, bagaimana kehidupan kami? Apa Anda memikirkan bagaimana kami bisa bertahan hidup? Apa Anda mensupport setiap apa yang kami lakukan? Apa Anda selama ini mendukung dan juga menemani kami, di saat susah?" Jelas Lala dengan air mata yang gak bisa ia bendung lagi.
"Maafkan Mama La. Mama tahu, jika Mama salah. Tapi Mama melakukan itu---"
"Demi harta kan? Mama melakukan itu demi ego dan juga keserakahan Mama." Potong Lala dengan nada tinggi, dan meninggalkan wanita itu, yang menatapnya dengan sendu sambil menangis terisak.
Rasa sakit, kepahitan hidup yang Lala rasakan dulu, membuat dia benar-benar mempunyai hati yang keras. Sejujurnya Lala juga tidak ingin bersikap seperti itu, hanya saja jika dia mengingat rasa sakit yang dia rasakan bersama Papanya dulu. Membuat Lala kembali terbayang dengan perlakuan sang Mama, yang meninggalkan dia dan Papanya dalam keadaan yang benar-benar butuh dukungan.
'Apa aku boleh egois Ya Allah? Apa aku dosa jika aku memarahi Mamaku? Apa aku dosa jika aku membencinya? Apakah jika aku tidak memaafkannya, aku berdosa ya Allah? Hanya saja jika aku melihat wajahnya, hatiku benar-benar sakit saat mengingat masa-masa sulit, dan juga masa-masa menyakitkan dalam hidupku, bersama Papa.' Batin Lala dengan hati yg terasa sesak.
Bersambung........