
Happy Reading ๐๐
Hari ini adalah hari pemakaman Papa nya Lala, Alvin izin setengah hari untuk menemani Lala, dia tahu Lala butuh seseorang yang menemani nya.
Entah kenapa Al merasa amat sangat kasihan pada Lala, padahal dia tak pernah seiba atau se perduli ini pada orang lain, tapi Lala begitu beda, dan Al pun tak tahu kenapa.
Selama prosesi pemakaman Lala terus menangis, bahkan dia sempat pingsan saat Papa nya di masukan keliang lahat. Untung saja ada Alvin yang menangkap tubuh nya saat akan jatuh ke tanah.
"Pa, kenapa Papa pergi dari hidup Lala? Kenapa Papa ninggalin Lala, Pa? Kenapa? Papa kan tahu jika Lala sudah tak punya siapa siapa lagi. Sekarang Lala harus kemana Pa? Lala harus mengadu sama siapa lagi jika Papa gak ada? Kemana Lala akan mencurahkan keluh kesah Lala, selama ini Papa lah yang menemani Lala dan menghibur Lala. Lalu kemana lagi Lala akan mengadu Pa?"
Lala menangis terisak sambil memeluk batu nisan Papa nya, Lala benar benar bingung kemana lagi ia harus mengadu. Sedangkan selama ini hanya Papa nya sajalah yang selalu ada buat Lala.
Saudara Lala dari paman dan Bibi nya tak ada yang perduli pada Lala dan Papa nya, saat Papa Lala bangkrut. Begitu pula dengan Mama nya Lala.
Al benar benar tak tega melihat Lala yang begitu terpuruk atas kehilangan Papa nya. "La, kita pulang yuk!" Ajak Al
Lala menggeleng sambil terus memeluk batu nisan Papa nya, padahal hujan sudah mulai turun.
"Ini sudah hujan, nanti kamu sakit. Kalau sampai kamu sakit, nanti Papa kamu bakal sedih di atas sana." Bujuk Al sambil membantu Lala berdiri.
Lala pun akhirnya mau bangun tapi hujan sudah mengguyur deras, mereka pun segera menuju mobil dengan keadaan yang sudah basah kuyup.
Al segera membuka jas nya dan memakaikan nya ketubuh Lala, dia tak tega melihat Lala yang kedinginan.
๐น
๐น
๐น
Hari ini Dea dan Dev akan kembali ke kota, tapi di tengah jalan ponsel Dev berbunyi, dan sebuah pesan masuk dari seseorang.
โTuan, saya hanya ingin memberitahu Anda, jika wanita itu akan melakukan aksi nya lagi.
Dev nenaruh ponsel nya kembali saat sudah membaca pesan dari detektif yang ia sewa. Dev tidak akan membiarkan Istrinya itu celaka.
Sesampai nya di Mansion, Dev dan Dea langsung masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri. Tapi setelah Dev membersihkan dirinya, Dev izin pada Dea untuk keluar sebentar.
"Kamu pulangnya jangan malam malam ya Mas." Ucap Dea.
"Iya sayang." Jawab Dev sambil mencium kening Dea.
๐น
๐น
๐น
Dev memang janjian dengan detektif Riko untuk membicarakan soal rencana Amber.
"Tuan, dia merencanakan akan menghabisi Nona, tapi rencana nya saya tidak tahu seperti apa Tuan. Karena mereka berbisik jadi saya tidak dengar, tapi yang pasti, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk mengawasinya Tuan, jadi kita akan tahu!" Jelas Riko.
"Hm, begitu ya! Kau pantau terus, dan jangan biarkan dia bisa mencelakai istriku." Ucap Dev.
Setelah berbincang soal Amber, Dev pun pamit pulang. Selama di dalam mobil dia terus kepikiran soal ucapan terakhir saat Dev akan pulang.
"Tuan, anda berhati hatilah. Sebab saya mengetahui jika Nona Amber bekerja sama dengan ketua geng Serigala. Ketua klan hitam Tuan." Ucap Riko.
"Gak akan ku biarkan mereka menyakiti istri dan keluargaku." Ucap Dev sambil meremas setir mobil.
Sesampainya di Mansion, Dev langsung masuk kedalam kamar nya tapi tak mendapati Istrinya di sana, lalu Dev berjalan ke arah kamar mandi tapi tak ada juga.
'Kemana Dea.' batin Dev sambil berjalan keluar kamar
"Kak, lihat Dea gak?" Tanya Dev pada Dira.
"Oh, Dea. Itu, dia lagi bersama Mama di dapur. Mereka sedang membuat salad buah." Jelas Dira
Saat Dev akan melangkah ke dapur, tiba tiba Dira menghentikan nya dan membawa Dev ke taman belakang.
"Ada apa kak?" Tanya Dev dengan bingung.
"Dev, dua hari yang lalu Arumi dapat penglihatan. Tapi Kakak tak memberitahukan ini pada Mama dan Papa."
"Penglihatan Apa Kak?"
"Arumi melihat jika Dea di ikat di sebuah tiang dengan keadaan baju yang di lucuti. Dan disana juga ada beberapa orang dengan pakaian hitam, tapi mereka memakai topeng."
"Apa! Terus topeng apa kak?"
Dira menggeleng. "Kakak gak tahu Dev, hanya itu saja. Jujur Dev, kaka sangat khawatir sama keadaan Dea." Ucap Dira dengan nada cemas.
Dev mengangguk paham, lalu masuk kedalam Mansion dengan pikiran kalut dan juga khawatir. Pikiran nya terus memikirkan siapa orang orang itu.
Bersambung.......