
Happy Reading ๐๐
Sudah jam 1 dini hari Dev masih belum bisa memejamkan mata nya. Ucapan sang Kakak masih terngiang-ngiang di telinga nya, sampai sampai membuat Dev tak bisa tidur.
Dev terus melihat ke arah wajah cantik istrinya itu. Ada desiran aneh di hatinya saat menatap paras ayu Dea.
"Aku harus tidur." Gumam Dev sambil mencoba memejamkan mata nya kembali. Tapi setelah beberapa menit, tetap saja tak bisa terpejam.
Badan nya sudah bolak-balik sana sini tapi tak bisa juga terpejam.
"Kenapa belum tidur Mas?" Tanya Dea dengan mata yang mulai terbuka.
Dev tentu saja sangat kaget dengan ucapan Dea. Dia melihat ke arah istrinya itu.
"Kamu belum tidur?" Tanya Dev.
"Bagaimana bisa tidur? Kamu nya aja gak mau diem?" Ucap Dea sambil menguap lalu mengucek mata nya.
Dea bangkit dan duduk bersender di ranjang. Mata nya megarah pada sang suami.
"Kenapa gak tidur Mas? Atau, apa ada yang menggangu pikiran kamu Mas?" Tanya Dea dengan mata menyipit.
Dev mengusap wajah nya dengan kasar, lalu menggeser duduk nya dan menghadap ke arah Dea. Kemudian Dev memegang tangan Dea.
"Sayang, aku boleh nanya sesuatu gak?" Tanya Dev dengan jantung yg mulai kembali berpacu.
"Boleh Mas, mau nanya apa?"
Huuuf
Dev terlihat menarik nafas nya dengan kasar. Dia mencoba menetralisir degup jantung nya. Tak Dev pungkiri jika di dalam lubuk hati nya ada rasa takut. Takut jika nanti Dea akan menolak nya.
"Sayang, apa kamu mau hamil?"
Dea melongo mendengar pertanyaan konyol suaminya. Sedetik kemudian dia terkekeh geli, membuat Dev melihat nya dengan bingung.
"Kenapa ketawa? Emang ucapan aku ada yg salah ya?" Bingung Dev.
Dea menggeleng, tapi kemudian mengangguk membuat Dev semakin bingung.
"Gini Mas! Pertanyaan kamu itu konyol tahu?" Jelas Dea sambil terkekeh.
"Konyol? Konyol gimana?"
"Ya iyalah Mas! Nih, kamu nanya apa aku mau hamil apa nggak? Ya dimana mana juga setiap wanita yang sudah menikah itu pasti mau hamil Mas? Mereka pasti mau mempunyai anak?"
"Hehe... Iya aku tahu! Tapi maksud ku, apa kamu mau punya anak dari aku gitu?"
Bukan nya menjawab, Dea malah semakin tertawa terbahak sampai sampai air mata nya keluar dari sudut mata nya.
"Maaf... Maaf Mas! Habisnya pertanyaan kamu aneh?" Ucap Dea sambil memegangi perut nya setelah tawa nya berhenti, tapi masih ada kekehan kecil.
"Wong aku nanya serius, kok malah di ketawain?" Ketus Dev sambil membuang wajah nya kesamping.
"Ya, gimana aku gak ketawa Mas? Kamu bertanya apa aku mau mengandung anak kamu apa ngga? Menurut aku itu pertanyaan konyol Mas! Mana ada istri yang gak mau hamil sama suami nya sendiri? Aneh ih? Terus kamu mau nya aku hamil sama pria lain gitu?" Jelas Dea
Dev langsung melihat ke arah Dea dengan tatapan tajam bak elang yang mau memangsa korban nya. Sedangkan yang di tatap hanya meneguk ludah nya dengan kasar.
Gluk
Dea tersenyum canggung saat melihat tatapan ganas Dev.
"Udah ah, aku mau tidur! Kamu juga tidur Mas. Aku pikir kamu kenapa sampai gak bisa tidur? Ternyata hanya mikirin itu?" Ucap Dea sambil menarik selimut nya lagi.
"Apa aku boleh meminta hak ku?" Tanya Dev akhirnya.
Dea yang baru saja menutup mata nya seketika membuka matanya kembali. Lalu melirik Dev yang sedang menatap lurus kedepan.
Dev sebenarnya sedang merasakan gugup, dia takut jika Dea menolak nya.
"Apa Mas serius?" Tanya Dea memastikan nya.
Dev terlihat diam saja, dia bingung ingin mengangguk tapi gengsi. "Mas.... Kamu serius? Aku gak bakal bertanya lagi?" Tanya Dea kembali.
Dev beralih nenatap Dea, kedua mata mereka beradu pandang saling bertabrakan. "Iya, jika kau mengizinkan." Ucap Dev dengan dada yang tak henti nya berdebar.
Dea kembali duduk dan menghadap ke arah Dev. " Apa yang membuat Mas sekarang meminta Hak Mas?"
Dev terlihat gugup dan bingung dengan pertanyaan Dea. Dia mencoba meredamkan rasa itu agar tak terlihat oleh Dea.
"Memang salah jika aku meminta nya? Kau kan istriku! Dan kau sudah halal bagiku! Lalu, apakah aku harus punya alasan? Lagipula salah ya, jika kau hamil anaku?" Bukan nya menjawab tapi Dev malah membalas nya dengan pertanyaan lagi.
"Nggak papa sih jika Mas meminta nya! Aku akan barikan. Toh seperti yang Mas bilang tadi? Aku ini sudah halal untuk Mas sentuh? Dan itu adalah hak Mas! Aku juga kan sudah bilang dari kemaren kemaren, kalau Seandainya nanti Mas minta hak Mas sama aku! Maka aku tak akan menolak nya." Jelas Dea dengan kepala menunduk
Dia malu jika harus menatap Dev suaminya. Sedangkan Dev yang mendengar itu amat sangat bahagia. Wajah nya berbinar penuh raut kebahagiaan.
Dev pikir jika dia akan di tolak oleh Dea, tapi ternyata dia salah. Dea malah mengizinkan nya dan tak keberatan sama sekali.
Dengan perlahan Dev mencium pucuk kepala Dea. Sedangkan Dea menutup mata nya, lalu Dev membacakan doa yang dia pelajari dari sang Papa.
Lalu dengan perlahan Dev mulai mengangkat wajah Dea sehingga tatapan mereka beradu satu sama lain. Kemudian dia mengecup kedua mata Dea, dahi, kedua pipi, hidung dan terakhir bi bir nya.
Dev bahkan memulai nya saat bibir mereka saling bertaut satu sama lain, hingga tautan itu semakin panas dan membakar aliran darah yang ada di dalam tubuh mereka.
Bersambung........