Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Promo Novel: Assalamu'alaikum Cinta


Judul: Assalamu'alaikum Cinta


Author: Khayra


Jangan lupa mampir ya Guys, di jamin bikin kalian ketagihan😘


Semilir angin berhembus kencang, Hanafis berdiri di tepi pantai menanti sang permaisuri yang sebentar lagi akan datang. Hatinya bimbang dan sakit, ia tidak sanggup mengatakan sesuatu yang akan membuat wanitanya terluka.


"Assalamualaikum Habibi..!"


Senyum merekah terbit di bibir Zahwa, ia berdiri tepat di belakang pujangganya. Ia begitu bahagia bisa bertemu dengan Habibi nya, lelaki yang selalu dia sebut dalam bait doanya di sepertiga malam.


"Wa'alaikumsalam cinta...!"


Hanafis berbalik badan menatap Zahwa yang berdiri tidak jauh darinya, lalu ia kembali menatap sang mentari yang mulai tenggelam ke dasarnya. Zahwa tidak bersama Hanafis saja disana tapi ia di teman Rahel sahabatnya.


"Hanafis, ada apa? Kenapa meminta ku untuk datang kesini".


Zahwa bertanya pada Hanafis, ia berjalan ke bibir pantai untuk bisa menyamai Hanafis yang kini berdiri di pinggir pantai. Sesekali suara ombak terdengar jelas memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.


"Zahwa besok aku pulang, mungkin kita tidak bisa bertemu lagi."


Hanafis menatap datar ke depan, ia enggan menatap raut wajah Khumairanya yang dia tahu akan terkejut dengan ucapannya.


"Kenapa secepat ini?"


Zahwa menoleh ke arah Hanafis, lalu kembali menatap ke depan. Ia merasa sesuatu yang ingin di katakan oleh Hanafis, bisa di lihat dari cara ia berbicara tanpa mau menoleh ke arah Zahwa.


"Aku sudah di jodohkan dengan perempuan lain oleh kedua orang tuaku dan aku tidak bisa menolaknya."


Kejujuran Hanafis membuat Zahwa terkejut, seketika ia diam tanpa berbicara. Hatinya sakit, hatinya hancur dan lidahnya kelu untuk bisa berbicara saja ia pun tak sanggup.


Zahwa memalingkan wajahnya, air matanya yang jatuh segera mungkin ia hapus. Ia harus kuat, kuat untuk menerima semua yang terjadi.


Tak bisa di pungkiri kalau hatinya merasa sakit, harapannya untuk bersama hanya buaian semata. Tak ada cinta yang hakiki selain cinta pada alam semesta.


"Jika itu adalah keputusan mu, pergilah! Aku ikhlas, semoga bahagia bersamanya."


Angin berhembus kencang di sore hari. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Deburan ombak menghantam karang dan batu. Terdengar jelas di telinga seorang wanita cantik berbalut selendang hijau yang sedang duduk di tepi pantai.


Buih-buih di lautan seakan ikut merasakan pilunya hati yang tak bertuan. Menyembuhkan luka asa dengan menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan. Zahwa tersadar dari lamunannya ketika seseorang memanggil namanya.


"Zahwa ... Zahwa ... !" Seseorang berteriak sambil berlari ke arah gadis yang dipanggilnya.


Si pemilik nama pun bangun dan menatap gadis yang kini tepat berada di belakangnya.


"Rahel, ada apa? Kenapa kamu kemari?"


Zahwa menatap bingung pada sang sahabat. Tidak biasanya gadis manis itu berlari kalau tidak ada sesuatu yang terjadi dengannya. Namun, dari raut wajah Rahel, ia menangkap ada sesuatu yang ingin di sampaikan.


Rahel tersenyum menatap sahabatnya. Mereka bertemu pertama kalinya di pesantren Darussalam dan kini menjadi sahabat layaknya kakak dan adik, berteman bagaikan ulat menjadi kupu-kupu.


"Siapa yang kembali?"


Zahwa bingung dengan ucapan Rahel. Ia tidak mengerti dengan maksud perkataan sahabatnya itu.


Bukannya menjelaskan siapa yang kembali, Rahel malah menarik tangan Zahwa untuk kembali ke ponpes melalui pintu belakang.


Pintu belakang asrama santri putri terhubung langsung dengan laut. Jika kita membuka pintunya maka kita akan bisa melihat ombak air laut dari jauh yang hanya berkisar 25 meter dari ponpes. Bahkan saat malam tiba, suara deburan ombak terdengar jelas di telinga para santri.


"Sudah, nanti kamu juga tahu siapa yang kembali?" Rahel tersenyum dan terus menarik tangan Zahwa. Membawanya ke depan Asrama putri yang hanya di batasi pintu gerbang antara laki-laki dan perempuan.


"Ustad Hanafis sudah kembali, Wa!" Seru Rahel membuat Zahwa melihat ke arah tiga orang laki-laki yang sedang berbicara. Salah satu dari mereka adalah Hanafis, ustad yang banyak di gandrungi santriwati karena suaranya yang merdu dan memiliki pemahaman dalam ilmu agama.


Jantungnya berdegup kencang seperti ombak yang saling bekejaran di bibir pantai. Lelaki yang pernah mengisi hatinya kini kembali di saat dia sudah menata hati dan menghilangkan luka asa yang di berikan olehnya dua tahun yang lalu.


"Ayo, kita kembali ke asrama! Tidak enak di lihat sama yang lain."


Zahwa menarik tangan Rahel untuk kembali ke asrama. Ia tidak ingin mengingat lagi tentang masa lalunya. Semua sudah hilang semenjak kepergian laki-laki itu ke Khairo dua tahun yang lalu.


Dari jauh, Hanafis melihat Zahwa saat berbalik kembali ke asrama. Darahnya berdesir hebat. Cinta itu masih sama seperti dua tahun yang lalu. Tidak berubah hanya waktu yang telah merubah segalanya.


'Zahwa ... Kamu masih disini?' batin Hanafis.


"Ustad Hanafis, engkau sudah kembali?" Seseorang menegur Hanafis dari jauh.


"Akhi Khairil, sudah lama kita tidak bertemu! Baru satu jam yang lalu saya tiba disini."


Mereka pun berjabat tangan dan saling tersenyum, sedangkan dua lelaki tadi sudah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Dimana istri Ustad? Kok tidak mengajaknya kesini?" tanya Akhi Khairil.


"Saya tidak jadi menikah!"


Kejujuran Hanafis membuat Akhi Khairil terkejut. Dulu ia tersohor di pesantren. Pulang karena ingin menikah, tapi kenapa yang di katakannya malah berbeda.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Ustadz?" tanya Akhi Khairil.


"Ceritanya panjang. Bahkan tidak cukup punya waktu jika saya ceritakan sekarang!" Hanafis berkata sambil mengingat tentang pernikahannnya yang gagal. Namun, ia sangat bersyukur tidak jadi menikah dengan wanita yang di jodohkan oleh orang tuanya.


"Baiklah, sebaiknya kita ke kamar saja."


Akhi Khairil mengajak Hanafis ke kamarnya, ia sangat tahu jika temannya butuh untuk istirahat karena perjalanan yang sangat jauh.


Di dalam kamar, Zahwa memikirkan kembalinya Hanafis ke dalam pesantren. Dua tahun lamanya, kini ia kembali mengingat luka lama tentang perpisahan dengan luka yang menganga.