
Happy reading...........
"Bi... Bibi lihat Nina nggak?" Tanya Dea kepada Bi Marti. "Oh, Neng Nina. Tadi lagi ke pasar non. Soalnya Bibi kepalanya lagi pusing, jadi Neng Nina Yang gantiin Bibi buat belanja ke pasar," ujar Bi Marti menjelaskan kepada Dea.
Dea mengangguk paham, kemudian dia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kopi suaminya. Setelah itu dia pun menaruh kopi tersebut di atas meja, dan tak lama Dev turun.
"Loh, Berliannya mana Mas?" Tanya Dea saat melihat Dev turun sendiri, sebab tadi pas dia meninggalkan Dev, dia melihat suaminya masuk ke kamar Berlian.
"Itu sama Mama, tadi Pup. Jadi Mama yang bersihin. Nanti pasti dibawa kok ke sini," ujar Dev sambil duduk di meja makan dan meminum kopi buatan Dea.
Dengan telaten Dea pun mengambilkan sarapan untuk Dev. "Makasih Sayang," ucap Dev sambil mengecup kening Dea.
Perlakuan hangat itu selalu tersaji di meja makan setiap pagi, dan tidak pernah terlewatkan. Bahkan Dea pun sudah terbiasa dengan itu. Awalnya dia malu, tetapi lama-kelamaan terbiasa juga dengan perlakuan hangat dan manis Dev kepadanya.
----------------------
Sepulangnya Nina dari pasar, dia langsung membersihkan diri dan menuju kamar Berlian, di mana Di sana ada Mama Linda dan juga Dea yang tengah bermain dengan Berlian.
"Assalamualaikum..." Ucap Nina masuk ke dalam kamar Berlian. "Waalaikumsalam..." jawab Mama Linda dan juga Dea bersamaan.
Nina masuk dengan wajah yang lesu, kemudian dia duduk di samping Berlian dan mengajak Berlian bermain. Tetapi wajah Nina tidak bisa berbohong, sangat terlihat jelas jika saat ini Nina sedang banyak pikiran.
"Kamu kenapa Nin? Kok wajah kamu ditekuk kayak gitu?" Tanya Dea dengan penasaran.
"Enggak! Siapa juga yang ditekuk. Aku nggak papa kok," jawab Nina mencoba tersenyum menutupi masalah yang ada.
Tetapi Dea sudah hafal, bagaimana Nina. Dia sudah mengenal Nina sejak lama, jadi dia tahu jika Nina sedang bersedih, atau ada masalah, ataupun sedang bahagia.
"Oh iya, bagaimana dengan acara semalam? Kak Hazel ngelamar kamu kan? Terus gimana, kamu terima?" Tanya Dea dengan wajah berbinar. Mendengar itu Mama Linda pun menoleh ke arah Nina, dia juga sangat penasaran dengan jawaban Nina.
"Kok kamu tahu sih, kalau Bang Hazel itu ngelamar aku?" Bingung Nina dengan tatapan menyipit ke arah Dea.
Pipi Nina merona malu bagaikan tomat rebus, saat diledek oleh Dea. Dia mencoba mengalihkan untuk bermain dengan Berlian. Tetapi Dea dan Mama Linda malah semakin meledek Nina.
"Lalu gimana? Kamu udah terima belum?" Tanya Dea dengan penasaran. "Iya Nak, kamu udah terima kan?" Timpal Mama Linda.
Nina menggeleng, membuat kedua wanita yang ada di hadapannya itu menatap dia dengan bingung. "Maksudnya bagaimana?" Tanya Mama Linda dengan wajah heran.
"Aku masih belum menjawab untuk lamarannya Bang Hazel. Aku butuh waktu, dan Bang Hazel memberi aku waktu selama tiga hari. Aku ingin shalat istikharah dulu untuk memantapkan hati sekaligus mencari jawaban, agar aku tidak salah dalam melangkah. Aku tidak ingin jika kesalahanku terulang kembali. Makanya aku ingin meminta petunjuk kepadanya, agar aku tidak salah mengambil keputusan," jelas Nina sambil mengajak main Berlian.
Dea dan juga Mama Linda mengangguk paham, mereka tahu tidak mudah bagi Nina untuk membuka hatinya kembali.
Sementara itu, di kantornya Hazel. Dia sedang duduk bersama dengan Dilon. Kebetulan Dilon baru saja pulang dari Amerika, dan dia berkunjung ke kantornya Hazel.
"Eh Tarno, lo bilang, katanya lo itu udah ngelamar cewek! Mana? Udah diterima belum?" Tanya Dilon dengan penasaran.
"Belum... Dia butuh waktu untuk menjawabnya, dan gue kasih waktu dia 3 hari."
"Aduh, kelamaan lo ngasih waktu. Yang cepet dong, tancap gas. Jangan kasih kendor."
Mendengar ucapan sahabatnya, Hazel memukul bahu Dilon dengan tinjuannya. "Kalau mau deketin cewek itu, jangan di gas. Tapi turutin apa yang dia mau! Emangnya lo, gas celup sana sini?" Ketus Hazel dengan wajah kesal.
"Hehehe..." Dilon malah terkekeh mendengar ucapan sahabatnya, dia seketika teringat dengan wanita yang ada di villanya, yaitu Amber. Wanita yang selama ini memuaskannya, wanita yang dia kurung sesuai dengan perintah Dev Tetapi beberapa bulan yang lalu, Dev meminta Dilon untuk melepaskan Amber, tetapi Dilon tidak mau. Sebab dia merasa jika Amber adalah mainan yang menarik.
"Lalu, Lo kapan? Masa sampai sekarang nggak ada pacar sih? Oh, atau lo mau sama si kembarannya Nenek Gayung itu?" Tebak Hazel.
"Sembarangan! Enggak lah. Gue mau nyari yang lain," jawab Dilon dengan cuek.
Lalu mereka pun pergi keluar untuk makan siang, bersama dengan Dev juga. Karena mereka bertiga, sudah lama tidak kumpul bareng dan makan siang bareng, mereka juga sudah lama tidak ngobrol-ngobrol dan bersenda gurau bersama.
Bersambung. . .....