Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Belum Apa-apa Suda Ada Saingan


Happy reading........


Nina menggigil kedinginan, karena semua bajunya basah kuyup, dan jas yang dia pakai pun ikut basah. Hazel yang melihat itu merasa kasihan kepada Nina, dia benar-benar geram dengan kelakuan Monica yang dengan sengaja mendorong tubuh Nina ke kolam.


Hazel pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, saat melihat penjual wedang jahe kemudian dia memesan dua untuk dia dan Nina.


"Ini, diminum dulu wedang jahenya,.biar badan kamu angetan." Hazel menyerahkan satu gelas wedang jahe kepada Nina, dan langsung diterima oleh Nina.


"Terima kasih!" Ucap Nina sambil mulai meniup dan meminum wedang jahe itu.


Badannya terasa lebih enakan, setelah meminum wedang jahe itu. Hazel pun menjalankan mobilnya kembali, menuju kediaman Bachtiar. Karena dia takut jika Nina akan masuk angin.


Sesampainya di kediaman Bachtiar, Nina segera turun. "Makasih ya, udah nganterin aku," ucap Nina sebelum turun dari mobil. Setelah itu dia membuka pintu mobil, namun Hazel memegang lengan Nina, hingga membuat wanita itu menoleh dan melihat ke arah tangan Hazel.


"Aku minta maaf ya, atas perlakuan temannya Olive tadi," ujar Hazel kepada Nina, dan langsung dibalas angkuhkan oleh wanita cantik itu.


"Iya,.nggak papa. Aku ngerti kok! Ya sudah, kalau gitu aku masuk dulu ya, Tuan hati-hati di jalan, Assalamualaikum..." Ucap Nina lalu langsung keluar dari mobil Hazel dan masuk ke dalam rumah.


--------------------------


Pagi hari Nina sudah siap membuat sarapan untuk keluarga Dea, dia begitu menikmati pekerjaannya. Saat Nina sedang menyiapkan sarapan, tiba-tiba Dea datang ke meja makan, melihat itu Nina segera membuatkan teh tapi Dea menghentikannya.


"Jangan terlalu formal Nin,.kita ini kan sahabat. Aku ini bukan majikan kamu, jangan seperti itu! Aku merasa, kalau Posisiku tinggi sekali," ucap Dea sambil sedikit tertawa.


"Kan kamu itu majikan aku? Aku kan di sini kerja untuk Berlian, dan kamu adalah Mamanya Berlian. Sudah pasti kamu majikan aku dong De!" Jawab Nina sambil kembali menuangkan teh ke dalam gelas.


"Sudah, biar aku saja! Gimana semalam acaranya, lancar?" Tanya Dea sambil membuatkan kopi juga untuk suaminya.


"Alhamdulillah lancar, tapi ada sedikit kejadian aja semalam."


Dea menghentikan adukan tangannya, lalu dia menoleh ke arah Nina. "Kejadian? Kejadian apaan?" Tanya Dea dengan penasaran.


"Itu semalam, temennya sepupunya Tuan Hazel, nggak sengaja ngedorong aku ke kolam. Tetapi kalau aku merasa,.kalau dia itu sengaja ngedorong aku! Entah itu hanya perasaanku, atau memang benar. Karena aku bisa melihat, jika wanita itu tidak suka dengan aku, karena aku datang bersama dengan Tuan Hazel. Aku rasa wanita itu suka kepada Tuan Hazel."


"Wah, belum apa-apa saja, kamu sudah ada saingannya," ledek Dea, dan langsung mendapat cubitan di lengannya oleh Nina.


Sementara itu, di tempat lain. Tepatnya di sebuah apartemen, Hazel sedang bersiap untuk pergi ke kantor, dia memikirkan kejadian semalam, dan dia tidak tahu bagaimana kondisi Nina saat ini.


"Bodohnya aku, kenapa aku tidak menyimpan nomor Nina?" Gerutu Hazel pada diri sendiri.


Kemudian dia pun mengirim pesan kepada Dev, meminta nomor Nina. Karena dia mau menanyakan bagaimana kondisi Nina.


Namun hingga beberapa menit, tidak ada jawaban dari Dev. Karena ponsel Dev masih di kamar, sedangkan dia masih sarapan di meja makan bersama keluarganya.


Saat Hazel akan berangkat ke kantor, tiba-tiba bel pintunya berbunyi, dan saat dia buka ternyata sang Mama yang datang.


"Mama...!" Kaget Hazel saat melihat Mamanya berada di hadapan dia saat ini.


Bukannya menjawab, tante Eriska malah menjewer kuping Hazel. Hingga membuat pria tampannya itu meringis. "Aduh, aduh... Kok Mama malah jewer aku sih? Bukannya nanyain kabar? Sun kiri, Sun kanan, ini kok malah ngejewer sih Mah?" gerutu Hazel pada sang Mama.


"Kamu ya! Kamu itu sudah 2 bulan nggak pulang ke rumah? Apa kamu nggak kangen sama Mama dan Papa?" Kesal tante Eriska kepada Hazel.


"Males ah, Mah pulang ke rumah. Nanti ujung-ujungnya Mama kenalin aku sama cewek lagi," ujar Hazel sambil mengusap telinganya dan duduk di atas sofa.


Tante Eriska menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia duduk di samping Putra tampannya itu. "Mama menjodohkan kamu, dengan mereka. Karena Mama mau melihat kamu menikah! Sampai kapan kamu akan terus sendiri, seperti ini? Kamu mau ikut-ikutan seperti Dillon, yang jomblonya itu akut?"


"Nggak usah bawa jomblo akut itu kali Mah! Lagi pula, aku belum nemuin yang pas. Nanti, kalau aku udah nemuin, aku bawa kok ke Mama dan Papa. Aku kenalin dia kepada kalian."


"Kapan? Kapan kamu akan membawa dia ke hadapan Mama dan Papa? Calonnya udah ada belum? Hazel, kamu ini udah mau kepala tiga. Ayolah, Mama itu mau cucu, kamu mau melihat Mama meninggal dulu?"


Mendengar ucapan sang Mama, Hazel membulatkan matanya menatap Mamanya dengan tatapan tak suka. "Mama koknbicaranya seperti itu sih? Hazel tidak suka ya!" ucap Hazel dengan nada kesal kepada sang Mama.


"Ya sudah, makanya kamu kenalin dulu sama mama, mana calon kamu?"


"Iya, nanti aku kenalkan dia sama Mama, Tapi kasih aku waktu." Pinta Hazel


Setelah berbasa-basi, tante Eriska pun pamit untuk pulang. Sebab dia juga ada arisan bersama teman temannya. Sedangkan Hazel, dia harus ke kantor karena ada meeting pagi.


Bersambung. .........