
Hampir seharian Manda berjalan dengan Aron. Menikmati pemandangan Di Venesia,
Hari sudah nampak sore, dari tadi ia tak melihat Kesha dan Vino, entah kemana mereka berdua. Sebenarnya ia pergi bersama tapi, Vino dan Kesha saling diam tanpa menatap satu sama lain.
Bahkan menyapa pun juga tidak, entah ada masalah apa lagi dengan mereka. Tak mau ikut campur masalah mereka, Manda dan Aeon hanya diam menatap mereka.
Ia memberikan waktu mereka untuk saling berbicara berdua, an membiarkan mereka pergi sendiri.
Manda berniat untuk menyakan apa masalah Kesha hingga membuat hubungannya dengan Vino semakin jauh.
Sekarang waktunya untuk bersenang-senang dengan suaminya, kalau tidak di turuti entah malah ngomel-ngomel waktu di kamar hotel.
--00--
"Syang, ku mau naik perahu tu" gumam Manda, dengan wajah polosnya merengek seperti anak kecil. Menarik-narik tangan Aron yang berdiri di sampingnya
"Iya bentar ya syaang, kita ke sana dulu" ucap Aron menujuk ke arah pasar jual oleh-oleh. Lelaki itu segera menggandeng tangan istrinya pergi ke suatu tempat.
Manda menghentikan langkahnya, wajhanya kini muali cemberut dengan bibir manyun ke atas.
"Kita mau kamana?? aku gak mau kamana-mana kalau belum naik perahu itu"gumam Manda terus merengek pada Aron.
Punya istri hamil benar-benar harus ekstra sabar, kalau gak gitu dia akan semakin ngambek dan marah padaku, gumam Aron mengusap lembut dadanya.
"Baiklah"ucap Aron dengan nada terpaksa. Ia segera menggandeng kembali tangan Manda, segera naik ke atas kapal yang sudah ada di pinggiran.
"Syang bentar Vino sama Kesha kemana??" Tanya Manda memutar mata menatap sekelilingnya. Mereka tak ada di sekitarnya.
Kemana mereka pergi, gumamnya.
"Sudahlah biarkan saja mereka berdua, lagian kalau kamu maksa dekat Kesha terus kapan Vino bisa berduaan dengan Kesha, dan memberi kemsempatan pada mereka untuk bersatu kembali"ucap Aron menjelaskan pada Manda.
"Ya, tapi mereka gak bilang ke aku syang"ucap manda mengerutkan bibirnya.
"Kenapa harus bilang ke kamu sih, memangnya kamu orang tua mereka. Lagian mereka sudah dewasa. Apa yang perlu di khawatirkan dari mereka sih" Ucap Aron. Ia segera menarik tangan Manda untuk duduk menikmati pemandangan di sekitarnya yang begitu indah. Di tambah dengan suasana yang sudah nampak sore. Matahari pun perlahan mulai tergelam.
Suasana yang bagus itu menjadi hal yang paling indah tak akan Aron sia-siakan, ia ingin memberi kejutan apda Manda kali ini. "Manda!!" Pnggil Aron.
"Hmmm"jawab Manda
Manda menoleh dengan raut wajah bahagia, yang nampak jelas. Ia melihat Manda senang bisa terus tersenyum ceria seperti itu membuatnya benar-benar merasa lega kali ini. "Maafkan aku dulu sudah pernah menyakitmu"gumam Aron dalam hati.
"Wahh indah sekali, aku suka, ku suka"gumam Manda beranjak berdiri merentangkan ke dua tangannya ke atas menikamti angin sepoi yang menerjang rambutnya hingga berterbaran kemana-mana.
Aron hanya diam duduk di bwah menatap Mandan, yang terlihat bahagia kali ini.
Manda menutup matanya, merasakan angin itu mulai menusuk ke tulangnya. Menyejukkan hati dan perasaanya.
"Syang.." panggil Manda.
Aron terdiam tak menghiraukan panggilan Manda. Namun ia masih menatap Manda dari tadi. Tetapi dengan pandangan kosong mengarah padanya. Entah apa yang ada di pikiran Aron saat ini.
Manda beranjak duduk kembali, ia mulai bermain air di tepat di bawahnya, lalu mengambil dengan tangannya, lalu menyiramkan ke Aron yang duduk melamun menatap manda dari tadi.
"Syang kamu jahil banget, awas saja ya" ucap Aron mentap Manda dengan tatapan jahilnya, seakan mau membalas perbuwatan Manda.
Aron terus mencolek oinggang Manda berkali-kali hingga ia tak bisa berkutik kali ini.
"Syang udah-udah geli tahu"ucap Manda mencoba menghentikan Aron yang terus menggodanya.
"Gak mau!!"Aron terus mencolek pinggang Manda sampai manda benar-benar nangis kegelian karena ulahnya. Bahkan seorang yang mendayung perahu itu pun hanya bisa menatap mereka dengan senyum tipisnya.
"Syang!!. Plis sudah dong"ucap Manda yang mulai nangis kegelian.
"Udah stop aku nyerah"gumam Manda lagi.
Aron menghentikan jahilnya, lalu memeluk Manda erat. Perbuatan Aron membuat Manda terdiam sejenak, berpikir aneh tentang Aron yang tiba-tiba memeluknya.
"Syang.. makasih ya" gumam Aron.
"Makasih tentang apa?" Tanya Manda bingung.
"Makasih telah membuat aku bahagia, makasih telah menemani hari-hariku saat ini" gumam Aron semakin memeluk Manda erat.
Manda terdiam, ia membalas pelukan erat Aron, ia merengkuh pinggung Aron. "Makasih juga, udah mau menyanyangiku tulus, dan makasih kamu sudah berubah buwat aku. Aku gak nyangka kamu akan seakrab ini, romantis, dan selalu melindungiku." Gumam Manda tak terasa ia perlahan meneteskan air matanya.
"Aku masih gak nyangka, aku merasa sekarang dalam mimpi indah yang belum tersadar dari tidurku. Aku bisa di sayangi sosok sepertimu, lelaki yang dulunya sangat Arogan kasar, selalu menyiksaku. Semua itu sudah aku jalani. Dan aku juga tak menyangka sekarang aku bisa duduk di sini tertawa bersama kamu menikmati kebahgiaan kita berdua." Gumam Manda menjelaskan.
Aron melepaskan pelukannya, memegang ke dua bahu Manda. "Jangan menangis ya."ucap Aron mengusap lembut air mata di pipi Manda dengan jemarinya.
"Makasih atas semuanya syang"ucap Manda lagi.
"Iya syang, sekarang aku akan janji padamu akan selalu menjaga cinta kita, dan selalu menjagamu sampai aku benar-benar tak sanggup lagi untuk bernapas "ucap Aron menegaskan pada Manda. Ia memegang pelipis Manda dengan mengusap lembut pipinya.
Manda perlahan mulai tersenyum mendengar ucapan Aron yang membuat hatinya kini merasa lega, tenang dan nyaman saat berada di sisinya. Dan ia berharap tak ada lagi hal yang menganggu hubungan mereka.
"Sekarang tak akan ada lagi orang ke tiga, ke empat, ke lima, dan seterusnya. Aku hanya ingin kamu jadi istriku satu-satunya. Kita akan membesarkan anak kita bersama berdua. Sampai kita punya beberapa anak yang imut-imut kelak nantinya"gumam Aron tersenyum, sebuah kecupan lembut mendarat di kening Manda.
Tess...
Butiran kristal itu keluar lagi dari mata bulatnya, jatuh tepat di punggung tangannya Sebuah kecupan lembut itu perlahan turun menuju bibirnya, kini Manda tak menolak ia menerima kecupan Aron di tengah pemandangan indah, saat matahari mulai terbenam dan gemerlap lamou di sektarnya mulai menyala. Manda membalas lumatan bibir Aron. Hingga mereka saling berpacu dalam hasrat yang sama.
Aron menghentikan ciumannya. Lalu mengakbil sesuatu dalam saku nya. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sakunya. "Apa itu??" Tanya Manda penasaran. Ia menyeka bekas ciuamanya dengan punggung tangannya.
Tanpa menjawab Aron membuka kotak itu, berisikan sebuah kalung berlian yang sangat indah.
Manda terdiam seolah ia tak bisa bernapas kali ini, menatap hal yang membuat ia benar-benar tak bisa berkedip. "Ini benar untukku?"ucap Manda penuh keraguan.
"Iya untuk kamu, memangnya untuk siapa lagi si syang"gumam Aron menggoda.
Manda hanya bisa tersenyum, dengan ke dua tangan memegang dadanya tak menyangka. Akan mendapatkan hal spesial dari suaminya itu. "Makasih" ucapnya singkat. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi kali ini selain terima kasih pada Aron.
"Biar aku yang pakaikan ke kamu"ucap Aron, ia menyilakan rambut panjang Manda yang terurai sepunggung ke pundak kanannya.
Ia segera memakaikan kalung itu melingkar di lehernya. "Sudah, kamu sangat cantik mengenakan kalung ini"ucap Aron merayu istrinya itu.
Manda bingung kali ini, sejak kapan Aron beli kalung berlian itu, lagian ia tak pernah memberi tahunya, dan Aron juga terus di sisinya. Meski banyak pertanyaan yang muncul di otaknya. Ia sekan membuang jauh-jauh semua oertanyaan itu. Kini ia sudah snagat senang, baru pertama kali dapat kejutan spesial di saat ia hamil.