
Vina berjalan menuju ke taman, hari ini Manda tidak masuk kuliah. Merasa sendirian, ia ingin mencari Albert untuk menemani dia ke kantin atau sekedar berbincang berdua. Menghilangkan rasa bosannya harus sendiri di kampus.
Langkah Vina terhenti saat melihat Albert duduk di taman sendirian, ia sibuk membaca sebuah buku. Dengan telinga selalu di pasang handsat.
"Al" panggil Vina, berjalan menghampiri Albert, dan duduk di sampingnya.
Albert hanya diam, tidak menoleh ataupun melirik sedikitpun ke arah Vina di sampingnya.
Merasa tak di perdulikan olehnya, Vina mencopot handsat di telinga kanan Al. Dan memasangnya di telinga kirinya. Sebuah lagu cinta yang di dengarkan olehnya.
"Kamu galau?" tanya Vina.
"Apa-apaan kamu, siapa hang galau" ucap Al kesal, meraih habdsatnya.
"Aku tadi hanya penasaran saja, apa sih yang di dengarkan leki-laki cuek seperti kamu, apa lagu rock atau lagu galau" gumam Vina.
"Bukan urusan kamu" ucap Al sinis. "Kenapa kamu di sini?" tanya Albert dengan tatapan tajamnya, ia merasa tidak suka dengan kehadiran Vina di sampingnya.
Namun Vina tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan itu, malah dia semakin tertarik dan tergoda dengan tatapannya.
"Aku hanya ingin menemani kamu di sini, dari pada sendirian lebih baik ajak teman untuk sekedar ngobrol berdua" ucap Vina, dengan senyum menyungging di bibirnya. Dan alis kanan terangkat ke atas, menatap wajah tampan Albert di depannya.
"Emangnya Manda dimana?" tanya Albert menatap ke arah Vina.
"Dia gak masuk hari ini, katanya sih lagi gak enak badan" ucap Vina.
Mendengar kabar Manda sakit, Albert bangkit dari duduknya. Namun dengan sigap Vina menarik tangan Albert untuk duduk lagi di sampingnya. "Kamu mau kemana?" tanya Vina.
"Mau jenguk Manda-lah" ucap Albert.
"Kenapa kamu selalu mikirin Manda, sadarlah dia sudah punya suami. kamu gak berhak jenguk dia, ataupun kamu mau jaga dia. Karena Manda sudah ada suami yang selalu setia jaga dia. Apa kamu gak sadar dia udah punya anak, punya suami. Tapi kamu gak pernah berhenti mengejar dia. Masih ada wanita lian yang suka dengan kamu. Jangan menghancurkan rumah tangga orang. Masih ada kok yang suka dengan kamu, mengharapkan kamu bisa menjadi pendamping hidupnya." ucap Vina, yang merasa sangat kecewa dengan Albert. Lagian dia juga tidak mau, Albert terus-terusan mengganggu hubungan keluarga Manda.
Albert hanya diam, ia memikirkan apa yang di bilang Vina, benar juga apa kata dia. Tapi entah kenapa dia memang selalu refleks untuk langsung ingin melihat dia saat mendengar kabar jika dia sakit.
Kenapa aku ganggu hubungan Manda, dia sudah punya suami. Punya keluarga kecil yang sangat bahagia. Dan aku juga gak akan pernah bisa buat dapat perhatian Manda. Hufft, mungkin aku tetlalu bodoh, gumam Albert dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Vina. "Kamu gak apa-apa kan?" lanjutnya.
"Aku gak apa-apa, udah aku mau pergi dulu, jangan ganggu aku lagi" gumam Albert bangkit lagi dari duduknya. Vina yang merasa tidak mau jika Al nanti akan tetap mengganggu hubungan Manda, ia bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan di belakangnya mengikuti kemana Albert pergi.
Dengan pikiran selalu menggerutu gak jelas. kemana dia pergi, kenapa dia menuju ke parkiran. Apa dia belum sadar juga dia memang dia itu gak pantas untuk Manda. Kenapa dia jadi bodoh gini, udah tau Manda sudah punya suami, tapi dia malah ingin merebutnya. Aku tidak bisa tinggal diam melihat keluarga Manda hancur, Keluarga mereka itu sangat harmonis. Aku gak rela jika keluarga yang begitu harmonis itu hancur karena orang ketiga yang merusak hubungan mereka.
Vina mencoba meraih tangan Albert, mencoba menghentikan langkahnya untuk pergi semakin jauh. "Kamu mau kemana?" tanya Vina, membuat langkah Albert terhenti, dan menoleh ke belakang secara perlahan menatap ke arah Vina yang sudah berdiri di belakangnya.
"Bukan urusan kamu" ucap Albert sinis.
Vina memasang wajah serius, ia tak perduli dengan cinta, rasa kasihan dengannya. "Ini akan jadi urusan aku, kemanapun kamu pergi. Atau kamu mau ganggu istri orang aku gak akan tinggal diam jika kamu akan tetap ganggu keluarga kecil teman aku" ucap Vina tegas.
"Siapa yang ganggu keluarga teman kamu, aku mau pergi sebentar, emangnya salah? Lagian kamu siapa beraninya larang-larang aku" ucap Albert mendekatkan wajahnya ke arah Vina dengan bibir menguntup kesal.
"Emangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Vina, yang merasa malu telah salah menilai Albert. Ia menelan ludahnya berkali-kali. Hingga melegakkan tenggorokannya yang terasa kering.
"Bukan urusan kamu" ucap Albert, berdiri tegap. Membalikkan badannya melangkahkan kaki menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat dia berdiri sekarang.
Wajah Vina masih memerah, ia merasa malu dengan apa yang dia katakan tadi pada Albert. "Tapi apa dia beneran mau pergi gak ke rumah Manda, aku harus tetap ikuti dia. Kalau sampai aku kecolongan dia pergi ke rumah Manda. Kasihan Manda nantinya" gumam Vina. Menoleh ke arah albert yang sudah berjalan jauh dari hadapannya.
"Dia sudah pergi jauh lagi" ucap Vina, segera berlari mengikuti Albert, yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Dengan segera ia juga ikut masuk ke dalam mobil Albert dan duduk di kursi mobil sampingnya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Albert terkejut saat mrlihat Vina tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya, an langsung memekai sabuk pengamannya.
"Aku mau ikut kamu" ucap Vina, dengan senyum samarnya.
"Aku mau keluar sama teman-teman aku, kenapa kamu ikut. Turun sekarang atau aku marah denganmu" ucap Albert mengancam.
"Biarin akmu marah, aku tetap gak mau turun" ucap Vina, menguntupkan bibirnya, dengan tangan bersendekap.
"Turun gak?" ucap Albert dengan nada tinggi, dan tatapan tajamnya mengarah pada Vina di sampingnya.
"ENGGAK!" jawab Vina tegas tanpa rasa takut di dalam hatinya.
"Ya sudah kalau kamu gak mau turun, jangan salahkan aku jika aku ngebut nantinya" gumam Albert yang mulai menyalakan mesin mobilnya, dan melesat keluar dari parkiran kampus dengan kecepatan tinggi.
"Albert kamu sudah gila" ucap Vina, dengan wajah sangat ketakutan. Ia merasa nyawanya kini sendang terancam.
"Kalau kamu gak mau turun sekarang, aku akan semakin melaju dengan kecepatan tinggi" gumam Albert mengancam.
"I-iya, terserah. Aku tetap gak mau turun. Aku tetap akan di dalam sini, ikut denganmu" ucap Vina yang semula penuh rasa ragu, Ia memejamkan matanya. Tidak beranu melihat jalanan di depannya. Vina mencoba menghilangkan rasa takutnya dengan memejamkan matanya sangat rapat. Dengan bibir tak berhanti berdoa agar dia tetap selamat.
Tuhan, aku masih ingin hidup. Semoga aku baik-baik saja. Aku tidak mau mati sekarang. Aku tidak boleh membiarkan Albert mengganggu Manda, Doa Vina dengan tangan menyebtuh sambuk pengaman sangat erat.
"Kamu turun gak?" tanya Albert untuk yang kesekian kalianya.
"Aku udah bilang gak ya gak" ucap Vina menegaskan.
Mrrasa tak ada gunannya ia terus seperti ini, Al akhirnya mengalah dan berhenti di depan sebuah bar cafe tempat berkumpulnya anak muda di sana.
"Kamu mau turun atau di sini?" tanya Albert.
"Apa aku masih hidup?" tanya Vina memastikan.
"Entahlah, mungkin sudah tak bernyawa" ucap Albert mencoba menggoda Vina.
Vina membuka matanya lebar mendengar ucapan Al, ia spontan langsung memegang tangan kanan Al, mencegahnya keluar lebih dulu dari mobilnya. "Apa benar aku sudah gak ada?" tanya Vina memastikan dengan nada penuh keraguan dan ketakutan dalam dirinya.
"Coba lihat tubuh kamu ada yang lecet gak, ada yang cacat gak, atau ada yang gagar otak" ucap Albert dengan wajah dingin dan angkuhnya.
Vina memegang seluruh tubuhnya, dan kepalanya. "Masih utuh, tidak ada yang sakut juga, kepala aku juga tidak kenapa-napa. Berarti aku masih hidup" gumam Vina, dengan senyum manis menyungging di bibirnya. Ia terlihat senang kali ini masih di beri kesemparan hidup.
"Eh.. tapi kamu mau ngapain di sini?" tanya Vina menoleh ke arah Al, Ia melebarkan matanya, tidak ada Al di sampingnya. "Di mana dia?" gumam Vina, mencoba melihat sekelilingnya. Ia melihat Al sudah berjalan masuk ke dalam cafe.
"Kenapa aku di tinggal sendiri di sini" gunam Vina, bergegas untuk melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil Al. Ia berlari masuk mengikuti Albert ke dalam cafe. Langkahnya terhenti, tepat di depan pintu masuk, ia mencoba menatap di seluruh sudut ruangan cafe itu.
"Di mana Albert?" tanya Vina pada dirinya sendiri, Lalu Vina memutuskan untuk bertanya pada pegawai kasir itu, siapa tahu dia kenal dengan Albert.
"Permisi, boleh tanya?" ucap Vina.
"Iya, tanya apa?" jawab pegawai kasir itu.
"Tadi Albert masuk ke sini-kan. Di mana dia sekarang?" tanya Vina.
"Albert siapa ya?" ucap pegawai kasir itu, dengan wajah yang memang sepertinya tidak kenal dengan Albert.
"Cowok berbadan tinggi, dia tadi menggunakan jaket jeans dan kaos hitam, rambutnya tertata seperti model" ucap Vina menjelaskan.
"Oo. Tadi ada yang baru masuk, dia langsung menuju ke luar sana. Di sana banyak cowok. Lagian kamu bisa cari di sana" ucap pegawai kasir itu.
"Oo. ya sudah, makasih." ucap Vina, yang langsung berlari menuju ke meja luar cafe itu? yang memang di khususkan untuk smoking area.
"Albert!" panggil Vina membuat semua lelaki yang ada di sana menoleh ke arahnya.
"Siapa dia?" tanya salah satu teman Albert.
"Entahlah, wanita yang suka ngejar-ngejar aku" gumam Albert seakan tidak perdulikan Vina yang sudah berdiri di depannya.
Tak menyerah, Vina segera duduk di samping Albert. "Kenapa kamu gak pergi?" tanya Albert yang merasa sudah sangat kesal dengan kelakuan Vina yang terus membuntutinya.
"Gak mau, mau di sini. Lagian tadi aku numpang mobil kamu" ucap Vina, dengan manarik alisnya ke atas.
"Baiklah, kamu boleh di sini. Berteman dama kita juga" sambung salah satu teman Albert yang memang duduk di sebelah Vina.
"Tuh kan, teman kamu saja boleh aku duduk di sini, dan ngobrol dengan mereka" ucap Vina.
"Terserah kamu" ucap Albert, yang terlihat moodnya sudah mulai hilang. Ia terus menatap Vina yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya. Banyak banget topik yang di bahas, membuat Albert tambah kesal dan merasa tidak betah harus lama-lama di sana.
Hingga beberapa minuman datang, Mereka semua tak berhenti becanda, tertawa bersama. Membuat Albert semakin geram. satu jam kemudian masih tetap sama tak ada hentinya mereka terus bicara. Merasa sudah kesal, Albert bangkit dari duduknya, menarik tangan Vina untuk berdiri. "Aku pulang dulu, biar semua makanan dan minuman kalian aku yang bayar" ucap Albert melangkahkan kakinya pergi menuju kasir, ia mencrngkram erat tangan Vina dan menariknya, mengikuti setiap langkahnya.
"Baiklah" jawab teman Al.
"Kamu mau membawaku kemana?" tanya Vina.
"Pergi, jangan banyak bicara ngobrol sama mereka" ucap Albert.
"Kamu cemburu ya?" tanya Vina menunjuk wajah Albert yang terlihat memerah karena marah.
Albert hanya diam, ia segera bayar pesanan di kasir dan beranjak menuju ke mobilnya, meninggalkan Vian sendiri di belakang.
"Eh.. tunggu aku" panggil Vina berlari dan segera masuk ke dalam mobil Albert.
"Kenapa kamu gak pulang naik taxi saja?" bentak Albert, hanya di balsa senyum tipis dari bibir Vina.
"Aku tadi sama kamu ke sini, jadi pualng harus sama kamu juga" gumam Vina, dengan tatapan menggoda.
Merasa kesal, Dan kalah bicara dengan Vina. Albert hanya bisa diam dan membiatkan Vina untuk tetap di mobilnya.