Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Cemburu


"Kenapa kamu pinjam tangan istriku, kamu punya tangan sendiri kan, gunakan tangan kamu"ucap Aron sinis.


"Sudah syang"ucap Manda.


"Ini"Manda mengulurkan tangannya, namun bukan hal lain yang ia lakukan. tiba-tiba Arta mencium lembut tangannya bak seorang pabgeran mencium tangan seorang putri.


Aron yang menatapnya langsung keluar tanduk dari kepalanya, bukannya ia tidak bisa dewasa dalam hal ini, ia bisa membedakan mana yang benar teman. Mana yang bukan, jika Arta bukanlah teman sesungguhnya. Ia hanya nenginginkan Manda. Seakan berencana untuk merebut Manda darinya. Padahal ia sudah tahu status Manda itu siapa sekarang.


Tapi Arta tidak perdulikan itu, meski pandangan Aron tidak suka dengannya, ia sebenarnya sangat mengagumi istrinya itu. Di dalam hatinya masih ada Manda. Tapi sebaliknya Ia tahu jika Manda sudah tidak suka dengannya. Jadi ia tidak berharap lebih.


"Manda tangan kamu begitu kasar sekarang" tanya Arta, memegang lembut tangannya.


"Eh... Hanya sekarang aku suka mengerjakan pekerjaan rumah saat hamil"ucap Manda tersenyum menatap Arta, dengan lirikan tajam ke arah Aron yang hanya diam menatap tajam ke arah Arta.


Senyuman indah terpancar dari bibir Manda, membuat Arta terdiam, menatap kagum dengan Manda, gadis cantik yang selalu ia suka dari dulu, sampai sekarang perasaan itu tidak berubah. Meski Manda sekarang sudah punya suami dan sudah hamil anak Aron.


"Oo.. aku kira suami kamu tidak perdulikan kamu lagi sekarang"ucap Arta.


"Permisi tuan, ini pesanan kalian"ucap Waiters itu, meletakkan semua pesananan di meja.


"Iya terima kasih"ucap Arta.


"Manda, sini aku yang akan siapkan"ucap Arta, mulai bangkit dan meletakkan sebuah sapu tangan kecil yang tersedia di atas meja tadi, ke paha Manda, membuat Manda salah tingkah, menatap Arta seketika. Ia tidak tahu jika Arta melakukan hal itu, Manda langsung menatap ke arah Aron yang tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya. Dengan wajah yang mulai memerah karena marah.


"Syang, jangan marah, redam amarah kamu. Aku tidak mungkin suka dengannya"Bisik Manda, bangkit dari duduknya, memegang tangan Aron, ia tidak mau ada keributan di sana. Manda lebih ingin melihat ketenangan. Karena dia lagi hamil ia tidak mau melihat ayah dari anaknya itu berantem di depan umum karena masalah kecil.


"Baiklah, aku tenang sekarang, tapi apakah bisa jangan di ulangi lagi seperti itu, aku cemburu melihat kamu seperti itu syang."Bisik Aron lirih.


Manda hanya tersenyum, menarik tangan Aron, untuk duduk tenang. Dan mulai makan pesanan yang sudahh ia pesan tadinya.


"Sekarang kita makan syang"ucap Manda.


"Iya"Gumam Aron, menatap wajah Manda yang entah kenapa ia semakin cantik saat tersenyum. Dan Arta juga tak behenti memandang wajah Manda yang terlihat manisnya saat tersenyum.


"Apa yang kalian bicarakan"tanya Arta, yang sudah mulai menyantap makanan pesananya dari tadi.


"Rahasia"ucap Aron. "Kenapa kamu selalu ingin ikut campur dengan masalahku"lanjut Aron.


"Siapa juga yang ikut campur, itu masalah kelurga kalian aku gak berhak untuk ikit campur."gumam Arta. "Aku hanya ingin melihat senyum Manda yang mampu mengalihkan duniaku. Senyumnya seakan membawaku dalam dunia mimpi yang begitu indah"ucap Arta, tersenyum memandang Manda di sampingnya.


"Sudahlah, jangan bicara seperti itu, hargai suami aku"ucap Manda yang mulai kesal dengan ucapan Arta.


"Baiklah"gumam Arta dengan senyum tipis mencolek pipi Manda.


"Jangan menyentuhnya"bentak Aron.


"Udah syang, jangan emosi ya" ucap Manda.


"Kenapa kamu bisa di sini? Dan kenapa kamu  bisa tinggal di Sydney? Apa kamu pindah juga?" tanya Manda yang merasa aneh jika Arta, ada di Sydney juga. Lagian ia tidak tahu jika dia ada di sana sebelumnya.


"Aku di sini pindah, aku kuliah di sini. Dan sekalian menyelesaikan syuting film aku di sini. Aku tadi kabur dari manajer karena melihat kamu makan di sini. Sekalian aku ingin bicara dengan kamu. Aku ingin menatap kamu, meski sudah tidak bis amemiliki kamu, aku tidak perduli itu"ucap Arta, dengan kedipan menggoda ke arah Manda.


"Kamu tidak bisa berbicara dseperti itu, aku sudah punya suami yang sangat syang denganku. Dan aku juga sudah sangat sayang dengannya. Jadi jika kamu berangggapan lain, tolong jauhkan pikiran itu dari otak kamu. Aku syang suami aku sampai kapan-pun aku tetap syang dengan suami aku, bagaimanapun kondisinya nanti"ucap Manda melirik ke arah Aron.


"Baiklah, lagian aku hanya ingin mengagumi keindahan yang di berikan Tuhan, bukan untuk memiliki ke-indahan itu, sebatas melihat dari jauh, sudah sangat menyenangkan. Apalagi melihat kamu dari dekat seperti ini. Sungguh lebih menyenangkan lagi"ucap Arta, menyanga pipinya menatap ke arah Manda. Ia tak berhenti terus menatapnya. Tatapan penuh dengan harapan.


"Virus cinta dariku"sambung Arta, seketika membuat Aron melebarkan matanya, manatap tajam ke arah Arta.


"Terserah kamu, sudah kita lanjutkan makan, setelah itu kalau mau lanjut ngobrol lagi silahkan, kalau tidak aku tinggal dulu, kita mau pergi jalan-jalan soalnya."ucap Manda.


"Jalan-jalan kemana? Boleh aku ikut?" Tanya Arta, tanpa rasa malu pada Aron, suaminya yang masih duduk di samping Manda menatapnya tajam.


"Kemana saja, asal hanya aku dan Manda. Dan tidak ada orang lain yang ganggu"ucap Aron sinis.


"Oo. ya sudah aku ikut naik mobil sendiri saja. Gimana?" tanya Arta, melebarkan mata menggoda ke arah Manda.


"Baiklah terserah kamu"ucap Manda, langsung di balas lirikan tajam oleh Aron.


Manda yang tahu lirikan Aron, ia memegang tangan Aron. Mencoba menenangkan hatinya agar tidak terbawa emosi.


Tak lama Arta menerima telefon dari manajernya, ia segera bangkit dari duduknya dan menjauh dari Manda dan Aron , untuk mengangkat telefonnya.


"Aku tinggal dulu ya"ucap Arta.


"Syang, jangan terlalu dekat dengannya. Aku gak mau kamu dekat-dekat dengannya. Kasihan anak kita nanti."ucap Aron, mengusap perut Manda lembut.


"Kasihan kenapa syang"Ucap Manda bingung.


"Kalau seperti dia, ih.. jangan sampai deh. Udah tahu kamu punya suami masih aja tetep deketin kamu."ucap Aron kesal.


"Sudahlah syang, jangan seperti itu, kita semua temenan. Jangan ada musuh lagi, biar hidup kita tenang tanpa musuh. Biarkan orang yang gak suka dengan kehidupan kita, udah jangan menambah musuh lagi, lebih baik menambah teman"ucap Manda memegang tangan Aron di atas meja.


"Baiklah"ucap Aron.


"Kalian bicara apa?" tanya Arta, yang sudah selesai menerima telefon.


"Kamu mau tahu urusan orang"ucap Aron.


Manda hanya diam, tersenyum dengan bibir masih menyeduh jus apukat yang ia pesan. Ia merasa suka melihat Aron yang cemburu seperti itu. Meski pertama ia marah-marah. Tapi sepertinya sekarang dia bisa lebih dewasa dalam menghadapi situasi seperti ini. Meski wajahnya terlihat tidak suka dengan kedatangan Arta.


Aron menutup wajah Manda dengan telapak tangannya. "Jangan menatap ke arah istriku"ucap Aron tegas.


"Baiklah, kalau gitu aku aka pergi dulu. Kalian jalan-jalan saja. Aku gak akan ganggu. Aku ada kesibukan mendadak, jadi harus pergi. Dan selamat bersenang-senang buat kalian"ucap Arta, bangkit dari duduknya. Berjalan menghapiri Manda. Meraih tangannya, lalu mencium lembut punggung tangannya dengan penuh perasaan, seperti sambutan seorang pangeran pada seorang putri, yang mengucap perpisahan.


"Sampai bertemu lagi Manda"ucap Arta melambaikan tangan ke arah Manda.


Aron berdengus kesal, wajahnya semakin memerah melihat kelakuan Arta yang seperti itu pada Manda.


"Iya"ucap Manda, meraih tangannya.


"Bye.. muaaach"sebuah kiss jauh dari Arta, seakan langsung membuat Aron berdiri di depan manda.


"Jangan melihat lelaki itu, sekarang kamu ikut aku"ucap Aron, memegang tangan Manda menuju ke tempat cuci tangan yang tak lumayan jauh di samping.


"Kamu mau ajak aku kemana syang?"tanya Manda, melihat tingkah Aron yang membingungkan.


Tanpa banyak bicara Aron mencuci tangan Manda lembut, memberi dia sabuk tangan berkali-kali. Lalu membilasnya lagi dengan air, memberi sabun lagi, hingga 4x berturut-tirut. "Jangan biarkan bekas ciuman dia di tangan kamu. Hanya aku yang boleh mencium kamu, jangan biarkan lelaki lain mencium tangan kamu, aku tidak suka Manda."ucap Aron. "Gimana kalau kumannya semakin menyebar nanti," ucap Aron yang terlihat khawatir dengan Manda. Ia tidak mau bekas itu membekas di tangan Manda.


Manda tertawa, melihat ulah Aron yang menggemaskan itu. "Ia mengusap tangannya yang basah, lalu mencubit pipi Aron yang menggemaskan saat cemburu, becampur dengan amarahnya yang semakin tambah menggemaskan.